
Ciri Dakwah Muhammadiyah, Hadirkan Kemajuan dan Kegembiraan
Ciri gerakan dakwah Muhammadiyah yang hidup dan berkelanjutan di tengah masyarakat itu ditandai tumbuh dan berkembangnya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di berbagai bidang.
Hal itulah yang disampaikan Jamaluddin Ahmad, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pengembangan Masjid (LPCR-PM) PP Muhammadiyah.
Dalam pengajian rutin bulanan di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Senin (5/1), Jamal menyebut, ciri lainnya adalah semakin rutin pengajian yang berpusat di masjid.
βApabila terdapat sebuah desa yang aman, masjid dan langgarnya bersih dan megah, pengajian berlangsung teratur dan penduduknya akrab membicarakan nilai-nilai keIslaman,β tuturnya, merujuk ungkapan KH Yunus Anis.
Dikutip dari Muhammadiyah.or.id, Jamal menjelaskan, kehadiran AUM dan aktivitas keagamaan tersebut menunjukkan peran Muhammadiyah dalam membangun kehidupan sosial dan religius warga.
βMaka besar kemungkinan di wilayah tersebut terdapat βgerombolanβ Muhammadiyah beserta jejak amal usahanya,β katanya.
Keberadaan gerombolan Muhammadiyah adalah budaya masyarakat yang terbiasa membicarakan kebaikan dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Jamal menjelaskan, ciri-ciri tersebut sejatinya mengarah pada tujuan utama Muhammadiyah, yakni memajukan dan menggembirakan kehidupan.
Tujuan itu secara tegas telah dirumuskan langsung oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang tertuang dalam Statuten Muhammadiyah tahun 1914.
Bahwa, tujuan Muhammadiyah adalah memajukan dan menggembirakan pengajaran serta pendidikan agama Islam di Hindia Belanda, serta memajukan dan menggembirakan kehidupanβcara hidupβsesuai dengan tuntunan agama Islam bagi para anggotanya.
βKiai Ahmad Dahlan meyakini, jika ajaran Islam benar-benar dipahami dan diamalkan dengan ilmu, maka kehidupan seorang Muslim, bangsanya, dan lingkungan tempat ia tinggal akan menjadi maju, gembira dan bahagia,β jelasnya.
Maka ber-Muhammadiyah, lanjut Jamal, harus mampu menghadirkan kemajuan dan kegembiraan, sekecil apa pun bentuknya.
βIslam itu harus dirasakan manfaatnya. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga dirasakan oleh orang lain,β pesannya. (guf)
