Menjaga Nafas Sejarah, Menggerakkan Masa Depan Muhammadiyah Kotagede
Kotagede adalah cabang unggulan Muhammadiyah yang telah menunjukkan kapasitas luar biasa, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga nasional. Sehingga, potensi yang sudah ada bisa terus ditingkatkan.
Hal itulah yang diungkapkan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Drs. H. Akhid Widi Rahmanto pada agenda Rapat Kerja Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kotagede 2026.
Pada momentum yang berlangsung di Aula SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta itu, Akhidmenyampaikan pesan sarat akan historis, kaderisasi, serta pengingat tentang amanah kolektif Muhammadiyah di Kotagede.
Sejarah Kotagede sebagai Ruang Kaderiasai
Muhammadiyah Kotagede telah menjadi ruang kaderisasi yang melahirkan banyak tokoh penting yang berkontribusi pada bangsa dan Persyarikatan.
“Kalau dari sejarah, ada Prof. Dr. Rasyidi, Menteri Agama pertama. Kemudian ada Prof. Dr. Abdurrahman, Rektor Universitas Indonesia pertama. Itu lahir dari bumi Kotagede,” tuturnya, Ahad (18/1).
Selain melahirkan kader, Kotagede juga memiliki sejarah panjang dalam pengelolaan aset dan amal usaha Muhammadiyah. Di mana, para pendahulu menjaga secara ketat tanah dan bangunan yang saat ini dimanfaatkan sebagai pusat pendidikan dan dakwah.
“Sejak dulu sudah ada komitmen, antara daerah dan cabang itu terjadi simbiosis mutualisme. Ketika daerah belum besar, cabang yang menguatkan. Ketika daerah sudah besar, daerah kembali menguatkan cabang,” imbuhnya.
Menjaga Generasi Penerus
Bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan modal moral dan identitas yang harus dijaga oleh generasi selanjutnya.
“Potensi yang ada seperti itu bukan hanya zaman dulu. Sampai sekarang, kader-kader Kotagede tetap dipercaya dan dibutuhkan. Kader kita selalu siap setiap diminta menjalankan tugas,” ujarnya.
Termasuk peran ‘Aisyiyah, Kokam, MCCC, dan unsur-unsur pembantu pimpinan lainnya yang telah membawa nama baik Muhammadiyah Kotagede ke berbagai forum dan medan pengabdian.
“Ada paduan suara dari ibu-ibu ‘Aisyiyah. SMK Muhammadiyah 3 juga menjadi AUM pendidikan unggulan. Tidak hanya di DIY, tapi sudah ke level nasional,” ucapnya.
Menutup sambutannya, rapat kerja kali ini diharapkan tidak hanya menghasilkan program kerja, tetapi juga memperkuat kesadaran kolektif akan jati diri dan tanggung jawab persyarikatan. “Generasi-generasi selanjutnya harus paham sejarah,” pungkasnya.
Selain itu, Kotagede juga diharapkan tetap menjadi salah satu pilar penting Muhammadiyah, yang tidak hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga melahirkan kontribusi nyata bagi persyarikatan dan umat di masa mendatang. (guf)
