
MKS PDA Yogyakarta dan MPKS PDM Yogyakarta Gelar Hari Disabilitas Internasional
Yogyakarta – Mengingat data tentang disabilitas di Indonesia masih relatif tinggi dan masih terjadi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang belum maksimal, ketimpangan penerimaan keluarga dan masyarakat terhadap keberadaan kaum disabilitas juga masih cukup rendah, maka tahun 2025 MKS PDA bekerjasama dengan MPKS PDM Kota Yogyakarta memperingati Hari Disabilitas Internasional yang telah ditetapkan setiap tanggal 3 Desember. Pada kesempatah ini MKS dan MPKS memperingatinya dengan dengan menggelar Workshop Peduli Disabilitas dengan thema Harmony in Diversity: Bersama menciptakan ruang ramah disabilitas. Workshop diadakan pada hari Sabtu, 20 Desember 2025 bertempat di Kampus UAD 5 dengan peserta terutama dari MKS cabang dan MPKS Cab se Kota yogyakarta, selain itu juga diundang PDM, PDA, PLSD, HIDIMU.
Edi Sukoco mewakili PDM Kota Yogyakarta dalam sambutan pembukaan menyampaikan harapan semoga tujuan yang diinginkan pada peringatan dengan kegiatan ini dapat tercapai dan dapat saling membantu bagi teman-teman baik secara sosial yang berbasiskan azas pada organisasi kita ini sehingga tidak hanya sekedar formalitas tetapi ada tindaklanjut diskusi, dan kegiatan lainnya dengan kerjasama, saling membantu baik antar majelis maupun ortom-ortom yang ada.
Workshop peduli disabilitas dipandu oleh moderator Andhita koordinator Divisi Advokasi MKS PDA yang juga Dosen Psikhologi Unisa. Adapun narasumber ada dua satu dari unsur pemerhati yaitu Dr. Komarudin, S.Psi, M.Psi, Psikolog dosen Unisa dan satu lagi dari Himpinan Disabilitas Muhammadiyah (HIDIMU) DIYogyakarta sebagai pelaku disabilitas yaitu H. Risma Wira Bharata, SE, M.Sc yang lebih akrab panggilannya abah Mimo.
Workshop daiawali dengan dari abah Mimo dengan materi Peran masyarakat dalam membersamai Difabel dengan judul yang menarik yaitu ‘Nguwongke Uwong” . pada kesempatan ini disampaikan dulu dengan mengenalkan macam-macam difabel, disabilitas menurut UU No.19 tahun 2011 tentang Penyandang Disabilitas. Banyak cerita-cerita fakta, nyata baik dari dirinya maupun sumber lainnya bagaimana keluarga, masyarakat, lapangan kerja menerima keberadaan dari orang-orang yang yang mempunyai keterbatasan dan perbedaan baik dari sisi fisik, psikhis, maupun sosial. Sementara seorang difabel mempunyai cita-cita dalam hidupnya yaitu ada rasa aman dan memiliki pilihan untuk mengenyam pendidikan dan rasa aman & tersedianya lapangan kerja dan tempat tinggal. Dan Muhammadiyah telah mempunyai peran untuk peduli difabel yaitu
- Meluruskan stigma negatrif tentang difabel
- Mengubah pandangan tentang difabel sebagai obyek belas kasihan menjadi subyek pembangunan
- Menginisiasi pemberdayaan difabel melalui pendidikan inklusif, pelatihan keterampilan inklusif, pembukaan lapangan kerja inklusif
- Pendampingan secara spiritual keagamaan
Difabel mempunya motto “ora utuh, nanging Ampuh”
Nara sumber yang kedua Komarudin, dengan materi Pendampingan Keluarga dalam Mendampingi Disabilitas, beliau menyampaikan bahwa peran keluarga sangatlah penting dalam tumbuh kembang yang salah 1 anggota keluargnya yang mengalami disabilitas. Ada keluarga yang dari awal menolak keberadaan anggota yang disabilitas dan ada keluarga yang langsung menerima kondisi anggota keluarga yang disabilitas namun itu dengan proses, sehingga Komar penyampaikan bagaimana sebaiknya dan seharusnya sikap keluarga , yaitu:
- Menerima apapun kondisi ananda ( QS. Asy-Syura[42]:49-50)
- Memahami kelebihan dan kekurangan ananda (QS.At-Tin[95]:4)
Dengan demikian keluarga perlu mengistimewakan setiap anak-anaknya karena jika anak lemah dalam satu sisi pasti dia punya keistimewaan disisi yang lain. Maka akan sangat bermanfaat apabila orangtua bisa sesegera mungkin menentukan keunikan dan kelebihan pada diri putra-putri mereka.
Sebelum diakhiri workshop ini , moderator memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya dan antusias peserta cukup banyak baik pertanyaan yang ditujukan kepada narasumber satu atau yang kedua. Namun karena keterbatasan waktu sehingga moderator membatasi pertanyaan, tetapi memberi kesempatan kepada peserta apabila masih ingin bertanya untuk berkomunikasi dengan narasumber.
“Manusia itu unik , meski ora utuh, nanging Ampuh, perlu Nguwongke Uwong dan mengistimewakan setiap anak” (umih)
