
Strategi Dakwah Muhammadiyah di Kotagede, Berawal dari Keteladanan Diri
Dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan keagamaan di hadapan jamaah. Lebih dari itu, dakwah membutuhkan strategi, semangat, totalitas, serta keteladanan dari setiap pendakwah. Keberhasilan dakwah juga tidak lepas dari kemampuan memahami masyarakat dan menjaga nilai-nilai yang menjadi karakter Muhammadiyah.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam materi dakwah yang disampaikan Ustaz Muhammad Bariyadi. Ia menekankan bahwa strategi dakwah harus diarahkan pada upaya untuk terus bergerak maju dan meraih keberhasilan dalam menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat.
Menurutnya, setiap orang memiliki masa dan peran masing-masing. Karena itu, para pendakwah perlu menyadari pentingnya memanfaatkan kesempatan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi umat.
Dakwah Membutuhkan Semangat dan Totalitas
Dalam berdakwah, seorang pendakwah tidak cukup hanya menguasai materi. Semangat dan totalitas ketika menyampaikan pesan juga menjadi faktor penting yang memengaruhi respons jamaah.
Masyarakat tidak hanya mendengarkan apa yang disampaikan, tetapi juga memperhatikan bagaimana seorang pendakwah menyampaikannya. Ketika pendakwah menunjukkan semangat, kesungguhan, dan keterlibatan penuh, suasana tersebut dapat menular kepada audiens.
Oleh karena itu, dakwah perlu dimulai dari diri sendiri. Sebelum mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan, seorang pendakwah harus terlebih dahulu berusaha menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Keteladanan menjadi bagian penting dari dakwah. Pesan yang disampaikan akan lebih bermakna ketika sejalan dengan perilaku orang yang menyampaikannya.
Menjaga Sepuluh Sifat Muhammadiyah
Dalam menjalankan dakwah, warga Muhammadiyah juga perlu menjaga dan mengamalkan sepuluh sifat Muhammadiyah yang menjadi pedoman dalam berorganisasi, bermasyarakat, dan berjuang untuk kepentingan umat.
Sepuluh sifat tersebut meliputi:
- Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan. Dakwah harus membawa manfaat, menciptakan kedamaian, serta mendorong terwujudnya kehidupan masyarakat yang sejahtera.
- Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah. Pendakwah perlu membangun persaudaraan, memperluas pergaulan, dan menjalin hubungan baik dengan berbagai kalangan.
- Lapang dada dan luas pandangan dengan tetap memegang teguh ajaran Islam. Sikap terbuka perlu diiringi dengan komitmen terhadap nilai-nilai Islam.
- Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan. Dakwah tidak hanya berorientasi pada penyampaian ajaran agama, tetapi juga menjawab kebutuhan dan persoalan masyarakat.
- Mengindahkan hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara yang sah. Perjuangan dakwah harus dijalankan dengan menaati ketentuan yang berlaku.
- Melaksanakan amar makruf nahi mungkar dalam segala lapangan serta menjadi teladan yang baik. Mengajak kepada kebaikan harus disertai kesediaan untuk memberikan contoh nyata.
- Aktif dalam perkembangan masyarakat untuk melakukan ishlah dan pembangunan sesuai ajaran Islam. Muhammadiyah perlu hadir dan mengambil peran dalam mendorong perbaikan kehidupan masyarakat.
- Bekerja sama dengan golongan Islam mana pun dalam menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya. Kolaborasi menjadi jalan untuk memperkuat dakwah dan memperluas manfaat bagi umat.
- Membantu pemerintah serta bekerja sama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negara. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, yang diridai Allah SWT.
- Bersikap adil serta korektif ke dalam dan ke luar dengan bijaksana. Sikap adil, terbuka terhadap perbaikan, dan bijaksana perlu menjadi pegangan dalam menjalankan organisasi maupun berinteraksi dengan masyarakat.
Sepuluh sifat tersebut menjadi pengingat bahwa dakwah Muhammadiyah tidak berhenti pada aktivitas ceramah atau pengajian. Dakwah juga diwujudkan melalui perilaku, kepedulian sosial, kerja sama, dan kontribusi nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Menjaga Anak-Anak agar Tetap Dekat dengan Masjid
Salah satu pesan penting yang juga ditekankan adalah perlunya menjaga anak-anak yang mulai terbiasa datang ke masjid.
Anak-anak yang telah memiliki keinginan untuk beribadah dan mengikuti kegiatan di masjid perlu mendapatkan perhatian. Mereka harus disambut dengan baik, dibimbing dengan sabar, dan diberi ruang untuk tumbuh dalam lingkungan masjid yang ramah.
Jangan sampai anak-anak yang sudah mulai dekat dengan masjid justru merasa tidak nyaman, kemudian menjauh dari lingkungan tersebut. Masjid seharusnya menjadi tempat yang menumbuhkan kecintaan kepada agama, mempererat persaudaraan, sekaligus membentuk karakter generasi muda.
Perhatian terhadap anak-anak merupakan bagian dari strategi dakwah jangka panjang. Menjaga kedekatan mereka dengan masjid berarti ikut menyiapkan generasi penerus yang mengenal nilai-nilai Islam sejak dini.
Dengan demikian, strategi dakwah Muhammadiyah perlu dijalankan secara menyeluruh. Semangat pendakwah, keteladanan pribadi, pengamalan sifat-sifat Muhammadiyah, serta kepedulian terhadap generasi muda menjadi bagian yang saling melengkapi.
Dakwah yang kuat bukan hanya dakwah yang mampu menarik perhatian jamaah pada saat kegiatan berlangsung, melainkan juga dakwah yang meninggalkan kesan, menumbuhkan kesadaran, dan mendorong perubahan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan masyarakat.

Muslim Millenial Training, Ahad, 30 Rabi’ul Akhir 1448/ 11 Okt 2026. MPKSDI – MTDK
Pemateri : Ustaz Muhammad Bariyadi
Dirangkum oleh:
Ibnu Arsjad el-Quthaghidiy
(Anggota MPKSDI PCM Kotagede)
