Di Kotagede: Cerita dan Kalah

Bagikan

Yang ingin mengetahui Jogjakarta biasa membuka buku-buku bertema sejarah. Pembaca bergerak ke masa silam, yang memunculkan beragam kebanggaan dan keprihatinan. Sejarah yang kadang mengandung kalah. Di buku-buku sejarah, Jogjakarta dijelaskan dalam urusan-urusan yang sering besar. Sejarah memang memerlukan yang megah, agung, dan moncer. Namun, ada hal-hal kecil yang tetap harus ada dalam babak-babak sejarah.
Di cakupan yang besar, kita dapat membaca buku berjudul Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta (1976) yang disusun dan diterbitkan oleh Departemen P dan K. Buku besar dan tebal, yang dimaksudkan mengenalkan sejarah secara ringkas. Buku berselera pemerintah yang menghendaki para pembaca mengetahui masa lalu dalam pasang-surut politik, seni, pendidikan, kerajinan, dan lain-lain.
Kita memilih mengutip sejarah awal abad XX: “Rakyat berpikir tidak lebih jauh daripada batas sawahnya yang biasanya terbentang di sekitar desanya. Yang diketahuinya hanya orang-orang di sekitar desanya saja. Yang diketahui hanya orang-orang dalam keluarganya sampai tingkat misan atau mindo dan tetangganya.” Situasi yang patut “dikasihani”. Pemicunya adalah pengajaran sejarah yang tidak merata dan mendalam di sekolah-sekolah bentukan pemerintah dan partikelir. Pengetahuan tentang sejarah lemah dan rapuh.
Situasi itu agak berbeda di perkotaan. Adanya beragam organisasi, terbitan pers, dan acara keramaian memungkinkan orang-orang mengetahui perubahan-perubahan. Yang tak terlupa adalah penggalan-penggalan sejarah meski biasa mendapat cawe-cawe dari pihak pemerintah kolonial atau pihak-pihak yang berkepentingan dengan sejarah untuk pelbagai pamrih.
Sejarah tentu tak selalu berisi tokoh-tokoh besar. Pengetahuan selain yang besar dan agung agak susah diperoleh. Orang-orang yang ingin mengetahuinya berhak memilih membaca cerita-cerita. Artinya, yang dibaca tidak sepenuhnya berdasarkan fakta tapi mengantar atau memberi petunjuk untuk mengetahui sejarah dan perkembangan di Jogjakarta. Pembaca cerita, pembaca yang dapat bergerak dengan beragam tafsir.
Di hadapan kita, buku yang berjudul Orang-Orang Kotagede (2012), berisi cerit-cerita gubahan Darwis Khudori. Buku bukan bercap sejarah tapi pembaca bakal menemukan ingatan dan rangsang mengetahui “penggalan” Jogjakarta yang kadang bercitarasa sejarah. Darwis Khudori (1999) mengungkapkan: “Saya sudah mencoba menceritakan orang-orang Kotagede hidup, terutama rakyat kecil, kaum buruh dan pedagang gurem, yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Kotagede: suka duka mereka, kepolosan-kepolosan mereka, kecerdikan-kecerdikan mereka, cinta kasih mereka juga kebrutalan-kebrutalan mereka dan tragedi-tragedi mereka.” Yang diceritakan berkaitan dengan sejarah tapi condong merekam perkembangan atau perubahan yang terjadi.
Di cerita berjudul “Kino”, kita mengetahui masalah pemdidikan dan pekerjaan, Darwis Khudori (1973) mengisahkan Kino di keluarga miskin, Pada saat SD, ia adalah murid pintar dan santun. Ia tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan ekonomi gara-gara kemiskinan dan sakit bapaknya. Ibu menjadi penjual baju rombeng, yang sulit mencukupi kebutuhan pokok di keluarga. Kino pun memutuskan bekerja setelah lulus SD. Ia menjadi buruh.
Nasib makin tak keruan. Kino menjadi representasi keinginan, kemiskinan, keminderan, dan kehancuran. Ia bekerja dan ingin berhemat dalam hidup. Kino tak bisa menampik hasrat asmara dan “kesuksesan”. Sosok hanya berpendidikan SD itu salah cara dan alamat.
Kita perlahan mengerti nasib seseorang di Kotagede yang tidak beruntung dan dikutuk derita. Ia mengalami gagal-gagal. Artinya, sejarah kekalahan milik orang yang berpendidikan rendah dan gagal dalam menyikapi perubahan-perubahan zaman. Yang diceritakan Darwis Khudori mengenai Kino yang bertumbuh dewasa tapi tertolak bahagia: “Tetapi, lain kehendak Tuhan. Tanpa disadarinya, tabungan Kino makin berkurang. Sementara itu, ia makin suka termenung. Meja-kursi, almari dan barang pecah-belah mulai dijualnya. Bukan oleh Kino saja, tetapi terutama oleh bapaknya. Bapaknya yang pengangguran itu suka main domino, ceki, adu jago, ciliwik, membeli lotre, macam-macam buntutan dan totohan-totohan.”
Kita paham nasib orang-orang miskin dan berpendidikan rendah. Mereka mudah kalah oleh arus perubahan zaman. Mereka memperpanjang sejarah kelam, bukan menimbulkan terang dan keinsafan. Yang terjadi adalah Kino kebablasan menjadi gila, kehilangan kesanggupan membentuk biografi yang lugu di Kotagede, Jogjakarta. Yang kita baca adalah cerita, yang tidak ada pijakan sepenuhnya dalam sejarah. Kita sekadar mengetahui cerita itu sedikit menuntun ke lembaran-lembaran sejarah kaum kecil atau miskin, bukan tokoh-tokoh besar.

Bandung Mawardi.

Lahir di Karanganyar, 18 Januari 1981. Pedagang buku bekas, kolektor kamus, penulis buku, pengulas iklan, dan tukang kliping.

Artikel Lainnya
1 of 6
bandung mawardi

Bagikan

Leave a Reply