
Menjelajahi 5 Makanan Khas Kotagede yang Wajib Dicicipi Saat Berkunjung ke Yogyakarta
Kotagede dikenal sebagai kawasan bersejarah di Kota Yogyakarta yang menyimpan jejak kejayaan Kerajaan Mataram Islam. Selain memiliki bangunan bersejarah, sentra kerajinan perak, dan kampung-kampung tradisional yang masih terjaga, wilayah ini juga menjadi surga bagi pecinta kuliner tradisional.
Beragam makanan khas Kotagede masih diproduksi secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Cita rasa autentik serta proses pembuatannya yang mempertahankan resep warisan menjadikan kuliner-kuliner ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Jika Anda berkunjung ke Kotagede, berikut lima makanan khas yang patut masuk dalam daftar kuliner yang wajib dicoba.
1. Kipo, Kue Tradisional Berukuran Mini yang Melegenda
Kipo merupakan salah satu ikon kuliner Kotagede yang telah dikenal sejak puluhan tahun lalu. Bentuknya kecil dengan warna hijau kecokelatan hasil penggunaan daun pandan atau daun suji sebagai pewarna alami.
Kue ini dibuat dari tepung ketan yang diisi enten-enten kelapa dan gula merah, kemudian dipanggang di atas wajan tanah liat hingga menghasilkan aroma yang khas. Teksturnya kenyal dengan perpaduan rasa gurih dan manis yang seimbang.
Hingga kini, Kipo masih banyak dijumpai di sekitar Pasar Legi Kotagede dan menjadi oleh-oleh favorit wisatawan.
2. Yangko, Camilan Legendaris Khas Kotagede
Yangko menjadi salah satu makanan khas yang identik dengan Kotagede. Sekilas tampilannya menyerupai mochi, namun memiliki karakter rasa dan tekstur yang berbeda.
Terbuat dari tepung ketan dengan isian kacang tanah yang manis, Yangko hadir dalam berbagai varian rasa dan warna. Teksturnya lembut, kenyal, serta dibalut taburan tepung agar tidak lengket.
Selain menjadi camilan, Yangko juga banyak dipilih sebagai buah tangan karena mampu bertahan beberapa hari jika disimpan dengan baik.
3. Legomoro, Kudapan Tradisional dengan Bungkus Daun Pisang
Legomoro merupakan makanan tradisional yang masih mempertahankan cara penyajian khas tempo dulu. Sekilas bentuknya menyerupai lemper, tetapi memiliki cita rasa yang berbeda.
Legomoro dibuat dari beras ketan yang diisi suwiran ayam berbumbu, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang dan diikat dengan tali bambu.
Perpaduan rasa gurih dari ketan dan ayam berbumbu menjadikan makanan ini cocok dinikmati sebagai camilan maupun pengganjal lapar di sela perjalanan wisata.
4. Ukel Banjar, Jajanan Tradisional yang Mulai Langka
Ukel Banjar menjadi salah satu kuliner tradisional yang mulai sulit ditemukan. Makanan ini memiliki bentuk unik menyerupai gulungan atau ukel.
Adonan tepung yang dibentuk melingkar kemudian digoreng hingga berwarna keemasan. Setelah matang, Ukel Banjar biasanya disajikan dengan taburan gula atau memiliki cita rasa gurih sesuai resep pembuatnya.
Keunikan bentuk dan proses pembuatannya menjadikan jajanan ini memiliki nilai budaya yang patut dilestarikan.
5. Roti Kembang Waru, Warisan Kuliner Sejak Masa Kolonial
Roti Kembang Waru merupakan salah satu roti tradisional yang memiliki sejarah panjang di Kotagede. Namanya diambil dari bentuk roti yang menyerupai bunga waru.
Teksturnya lembut dengan aroma khas roti jadul yang masih dipertahankan hingga sekarang. Meski sederhana, roti ini memiliki cita rasa yang khas sehingga tetap diminati oleh berbagai kalangan.
Banyak wisatawan sengaja mencari Roti Kembang Waru sebagai oleh-oleh karena sulit ditemukan di daerah lain.
Menikmati Wisata Kuliner Sekaligus Wisata Sejarah
Berkunjung ke Kotagede tidak hanya memberikan pengalaman menikmati bangunan bersejarah dan kerajinan perak, tetapi juga kesempatan mencicipi berbagai kuliner tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.
Sebagian besar makanan khas tersebut masih diproduksi oleh pelaku usaha lokal dengan resep yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan membeli dan menikmati kuliner tradisional, wisatawan turut mendukung pelestarian budaya sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Jika Anda berencana menjelajahi Yogyakarta, sempatkanlah singgah di Kotagede untuk menikmati kekayaan rasa yang telah menjadi bagian dari sejarah kota ini.
Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh Visiting Jogja – Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, kemudian ditulis ulang, dikembangkan, dan disesuaikan untuk kebutuhan publikasi.
