
KOTAGEDE – Kajian Asmaul Husna Pawon Moetoe kembali menjadi ruang penguatan spiritual sekaligus kaderisasi bagi warga Muhammadiyah.
Kegiatan yang digelar di Masjid Multifungsi SMP Muhammadiyah 7 (Kotagede) Yogyakarta, Ahad (12/7), diikuti sekitar 140 jemaah dari berbagai kalangan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan salat Duha delapan rakaat secara mandiri, dilanjutkan pembacaan Asmaul Husna, tilawah surat-surat pilihan Al-Qur’an, serta doa yang dipimpin secara daring oleh alumni SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta yang sedang menunaikan ibadah umrah di Mekah, Arab Saudi.
Dalam tausiahnya, Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dr. Chorul Fajri, S.I.Kom., M.A., mengajak jemaah memaknai sifat Ar-Rahim sebagai landasan perjuangan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad.
Menurutnya, berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) merupakan wujud kasih sayang Allah Swt. yang hadir melalui doa, keikhlasan, dan perjuangan kolektif para anggotanya yang dilakukan secara terorganisasi.
“Orang di luar Muhammadiyah selama ini hanya melihat keberhasilan yang mencengangkan, tetapi tidak melihat bagaimana proses dan perjuangannya. Kita meyakini kasih sayang Allah melalui sifat Ar-Rahim benar-benar nyata dalam perjalanan Muhammadiyah,” tuturnya.
Selain itu, nilai kasih sayang juga menjadi fondasi dalam dunia pendidikan.
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta itu menjelaskan bahwa guru dan orang tua tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan keteladanan kepada peserta didik sebagai bekal menghadapi masa depan.
“Seorang guru maupun orang tua tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memberikan keteladanan sebagai bekal bagi masa depan anak,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, alumni SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta angkatan 1984, Syafruddin Kartika Wulan menyampaikan pentingnya menjaga amanah umat melalui komunikasi yang intensif dengan masyarakat.
pihaknya menilai bahwa kajian dan aktivitas dakwah menjadi sarana membangun sikap tawaduk para pimpinan sekaligus memperkuat semangat berorganisasi di kalangan kader Muhammadiyah.
“Semangat berjuang dan berorganisasi harus terus dipahamkan serta diimplementasikan kepada kader Muhammadiyah di semua level dan struktur organisasi,” katanya.
Sementara itu, H. Hasyim Abdullah Umar mengenang pengalamannya sebagai guru SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta sebelum hijrah ke Jakarta pada 1972.
Pengalaman itu, katanya, membuatnya semakin yakin bahwa pendidikan karakter merupakan kekuatan utama sekolah/mdrasah Muhammadiyah.
“Pendidikan karakter yang dikembangkan di sekolah Muhammadiyah menjadi keunggulan yang perlu terus dipertahankan dan dikembangkan di tengah berbagai tantangan zaman,” pungkasnya. (guf)
