PRA Basen Semarakkan Hari Anak Nasional 2026 dengan Jelajah Destinasi Bersejarah di Kotagede

Bagikan

Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang diperingati setiap 23 Juli, Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Basen menggelar kegiatan Jelajah Destinasi dan Susur Kampung Bersejarah di kawasan Kotagede pada Ahad, 12 Juli 2026. Kegiatan edukatif ini menjadi sarana mengenalkan sejarah, budaya, sekaligus mempererat ukhuwah anak-anak Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di wilayah Basen.

- Advertisement -

Program ini digagas oleh Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) PRA Basen bekerja sama dengan Majelis PAUD, Dasar, dan Menengah, dengan melibatkan anak-anak dari TPA Fastabiqul Khoirot, TPA Bumen, pengajian anak Masjid Muhtadin, Nurul Iman, Darussalam, Mustaqim, dan Al Falah.

Sebanyak 90 anak mengikuti kegiatan tersebut. Oleh Siti Rahayu, seluruh peserta kemudian diberi nama AMAR (Anak-anak Muhammadiyah ‘Aisyiyah Ranting Basen). Mereka didampingi oleh 8 anggota Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA), pengurus PRA Basen, serta para pendamping, sehingga total peserta mencapai sekitar 120 orang.

Artikel Lainnya
1 of 114

Menyusuri Kampung Menuju Langgar Dhuwur

Perjalanan dimulai dari TPA Fastabiqul Khoirot menuju Masjid Muhtadin, kemudian bergabung dengan anak-anak dari Masjid Nurul Iman dan Darussalam menuju Masjid Mustaqim. Selanjutnya seluruh rombongan bersama peserta dari Al Falah berjalan menuju Kampung Boharen untuk mengunjungi Langgar Dhuwur, salah satu bangunan bersejarah di Kotagede.

Sepanjang perjalanan, anak-anak diajak menyusuri gang-gang kampung yang khas dengan lorong-lorong sempit. Suasana penuh keceriaan tampak dari peserta yang berasal dari berbagai usia, mulai balita di bawah lima tahun hingga remaja tingkat SMA/SMK.

Baca Juga :   Lazismu Kotagede Adakan Khitan Ceria Gratis, Tebar Manfaat dan Bahagiakan Anak-anak Prasejahtera

Belajar Sejarah di Langgar Dhuwur

Setibanya di Langgar Dhuwur, rombongan disambut langsung oleh Ahmad Charris Zubair, generasi keempat pemilik bangunan bersejarah tersebut.

Dalam pemaparannya, Charris menjelaskan bahwa Langgar Dhuwur Boharen merupakan salah satu musala tertua di Kotagede, bahkan termasuk yang tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan yang didirikan pada tahun 1870 itu kini telah berusia sekitar 156 tahun.

Ia juga menceritakan filosofi pembangunan langgar yang dibuat lebih tinggi dan berada di bagian depan rumah sebagai simbol penghormatan terhadap tempat ibadah. Saat ini, Langgar Dhuwur tengah menjalani proses renovasi agar tetap terawat sebagai warisan sejarah.

Mengunjungi Rumah Peradaban Prof. Abdul Kahar Mudzakkir

Destinasi berikutnya adalah Rumah Peradaban, yang berada tepat di seberang Langgar Dhuwur. Rumah tersebut merupakan kediaman Prof. Abdul Kahar Mudzakkir, tokoh nasional sekaligus Pahlawan Nasional Indonesia.

Pengelola dari Badan Wakaf UII menjelaskan bahwa rumah ini menjadi saksi lahirnya berbagai gagasan besar yang turut mewarnai perjalanan bangsa menuju kemerdekaan. Selain itu, rumah tersebut masih menyimpan berbagai koleksi bersejarah berupa buku, foto, dan barang peninggalan Prof. Abdul Kahar Mudzakkir yang dapat dipelajari oleh para peserta.

Anak-anak pun diajak berkeliling rumah sambil mendapatkan penjelasan mengenai sejarah dan nilai perjuangan sang tokoh.

Bermain dan Belajar di Masjid Gedhe Mataram

Usai mengunjungi Rumah Peradaban, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Masjid Gedhe Mataram melalui kawasan Jembegan. Dalam perjalanan, Siti Rahayu menjelaskan kepada peserta mengenai saluran air bawah tanah yang menjadi bagian dari sejarah kawasan Kotagede.

Sesampainya di Masjid Gedhe Mataram, peserta beristirahat di serambi masjid sambil menikmati makan siang yang telah disiapkan panitia.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbagai permainan edukatif yang dipandu oleh pendamping anak asuh Al Barra Hendri, didukung anggota Nasyiatul ‘Aisyiyah serta remaja masjid.

Baca Juga :   Irwan Akib Tekankan ISMUBA dan Budaya Lokal sebagai Jati Diri Sekolah Muhammadiyah

Beberapa permainan yang dilakukan antara lain:

  • Permainan konsentrasi mengikuti instruksi.
  • Tantangan memindahkan hula hoop tanpa menggunakan tangan.
  • Permainan menyusun gelas plastik secara berkelompok.

Seluruh peserta tampak antusias dan menikmati setiap rangkaian permainan yang dirancang untuk melatih kerja sama, konsentrasi, serta kekompakan.

Menjadi Agenda Tahunan

Ketua PRA Basen yang membidangi Majelis Kesejahteraan Sosial, Umi, berharap kegiatan peringatan Hari Anak Nasional seperti ini dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang.

Melalui kegiatan jelajah sejarah, edukasi, dan permainan bersama, anak-anak tidak hanya memperoleh pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga semakin mengenal sejarah Kotagede, menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan, serta mempererat persaudaraan di kalangan generasi muda Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.


Bagikan

Leave a Reply