
PRM Prenggan Gelar Pengajian Songsong Ramadan 1447 H, Tekankan Persiapan Spiritual dan Sosial
KOTAGEDE – Menyambut bulan suci Ramadan, Langgar Sabilul Muttaqien, Perenggan, Kotagede bersama Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Prenggan menggelar pengajian bertajuk Ramadan Momentum Perubahan Diri: Membentuk Pribadi Muttaqin, Tangguh Lahir dan Batin.
Pengajian yang berlangsung pada Rabu malam, (4/2/2026) pukul 20.00-22.00 WIB ini dihadiri jemaah dari lingkungan sekitar, pengurus takmir, serta para pengurum PRM Prenggan.
Ketua Takmir Langgar Sabilul Muttaqien, Walgianto menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam terselenggaranya pengajian..
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh bapak, ibu, dan jemaah yang telah berkenan hadir. Semoga langkah panjenengan semua menjadi saksi yang memberatkan timbangan kebaikan di yaumul kiamah,” tuturnya.
Lebih lanjut, Ketua PRM, Haji Khairul Huda menyebut, pengajian tersebut merupakan bentuk sinergi antara takmir dan PRM dalam menyambut Ramadan.
“Terima kasih pada takmir, jemaah serta jajaran ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah yang telah meluangkan waktu untuk hadir pengajian,” katanya.
Huda menyampaikan, perkembangan Musala Sabilul Muttaqin saat ini mengalami peningkatan jumlah jamaah. “Dibandingkan kondisi awal saat saya pertama kali masuk sekitar tahun 1997–1998,” ungkapnya.
Ramadan Momentum Pembenahan Diri
Dalam ceramahnya, Ustadz Sutarjo menekankan pentingnya membangun kesadaran diri melalui puji dan syukur kepada Allah Swt. sebagai fondasi ketenangan hati.
“Puji dan syukur itu satu paket, tidak bisa dipisahkan. Ketika ada puji, harus ada syukur. Dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang,” ujarnya.
Ustadz Sutarjo menjelaskan, ketenangan hati merupakan kunci menjalani kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam keluarga dan lingkungan sekitar. Termasuk menjaga hubungan sosial dengan tetangga, keluarga dan pasangan.
Menurutnya, kesadaran untuk selalu merasa diawasi Allah akan mencegah seseorang dari perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Selain itu, keharmonisan sosial menjadi bagian dari implementasi nilai-nilai ibadah Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.
Ustadz Sutarjo juga mengingatkan jamaah agar memperbanyak istigfar sebagai upaya membersihkan diri dari dosa, khususnya dosa yang dilakukan melalui pancaindra.
“Dosa yang diistigfari akan dihapus oleh Allah, terutama dosa-dosa kecil yang berasal dari lisan, pendengaran, dan penglihatan,” katanya.
Selain itu, Ustadz Sutarjo menyoroti pentingnya menjaga lisan selama Ramadan. Meskipun perbuatan seperti berkata kasar, marah atau berbohong tidak membatalkan puasa, namun dapat merusak pahala puasa.
“Yang membatalkan puasa itu makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari. Tetapi yang merusak pahala puasa itu di antaranya berkata kasar, marah, dan berbohong,” terangnya.
Ustadz Sutarjo mengajak jemaah untuk menjadikan Ramadan sebagai sarana latihan kesabaran, kejujuran, dan kerendahan hati. Sebab, tujuan utama puasa adalah mencapai derajat takwa sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran.
“Puasa itu tujuannya satu, la’allakum tattaqun, agar kita menjadi orang yang bertakwa,” pungkasnya.
Pengajian diakhiri dengan doa agar jamaah diberi kesehatan, kekuatan, dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah Ramadan serta mampu mempertahankan nilai-nilai kebaikan setelah bulan suci berakhir. (guf)
Rekaman lengkap kegiatan pengajian songsong Ramadan tersedia di kanal YouTube PRM Prenggan. (Klik Disini)
