Jalan Menuju Puncak Hidup Bahagia

Bagikan

Kondisi jiwa merupakan salah satu faktor yang menentukan hidup bahagia seseorang. Hal tersebut ditegaskan oleh Fahruddin Faiz saat mengisi kajian jelang buka puasa yang berlangsung pada Senin (18/3/2024) di Masjid Gedhe Mataram, Kotagede.

Fahruddin Faiz didapuk sebagai pemateri dalam Ngaji Pasan seri ke-2 di bulan Ramadhan 1445 H/2024 M, acara pengajian yang masih jadi satu bagian dengan gelaran Pasar Pasan Kotagede 2024. Dosen UIN Sunan Kalijaga yang rutin menghelat Ngaji Filsafat itu ditemani oleh Doel Rohman selaku moderator acara.

- Advertisement -


Pada Ngaji Pasan seri ke-2, tema yang diangkat adalah “mendefinisikan bahagia, memaknai bulan puasa”. Kajian dimulai dengan pemaparan Fahruddin Faiz mengenai tema tersebut, sebelum dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama para peserta.

Level-level Kondisi Jiwa Menuju Kebahagiaan

Penjelasan Fahruddin Faiz mengenai pentingnya kondisi jiwa dalam menentukan kebahagiaan hidup berangkat dari gagasan Imam Al Ghazali. Filsuf mashyur Islam abad ke-12 itu memiliki konsep tersendiri tentang kondisi jiwa manusia.

“Kata Imam Ghazali, secara umum, kondisi jiwa kita itu ada 4 situasi. Ini nanti jadi landasannya hidup bahagia,” ungkap Fahruddin Faiz.

Apa yang dimaksud dengan 4 situasi dari konsep jiwa menurut Al Ghazali terdiri dari ‘Ammarah, Lawwamah, Mulhamah, dan Muthma’innah. ‘Ammarah merupakan level paling rendah dalam kondisi jiwa manusia.

Seseorang yang masih berada di level ‘Ammarah akan selalu terpaku untuk melakukan keburukan, asal bisa menyenangkan dirinya. Sebagai contoh, orang yang puas menciptakan hoaks dengan tujuan untuk membingungkan publik.

Fahruddin Faiz mewanti-wanti agar kita tidak terjebak dalam kondisi jiwa ‘Ammarah. Sebab, kondisi ini hanya akan membuat orang memanjakan nafsu saja, baik dalam berpikir maupun bertindak.

“Cara berpikirnya ‘enak atau tidak enak menurutku, senang tidak senang menurutku’. Ini jiwanya masih Ammarah. Semua yang di sekeliling dia hanya alat biar dia senang. Ini kondisi paling negatif,” jelas pria yang akrab disapa Pak Faiz itu.

Sementara itu, Lawwamah merupakan kondisi jiwa yang berada satu level di atas ‘Ammarah. Karena itu, seseorang yang mencapai level Lawwamah dapat dikatakan telah meningkat, meskipun belum sepenuhnya sempurna.

Ciri dari Lawwamah ditandai dengan adanya kondisi jiwa yang bolak-balik. Seseorang sempat ragu-ragu saat harus memilih hal yang baik atau buruk. Sayang, usai keluar dari keraguan itu, terdapat kecenderungan untuk memilih yang buruk.

Orang dengan kondisi jiwa Lawwamah masih merasakan penyesalan atau rasa bersalah setelah berbuat hal negatif. Kendati begitu, perasaan bersalah ini tetap menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Sebab, rasa bersalah justru menunjukkan bahwa sifat kemanusiaan seseorang masih ada.

Fahruddin Faiz menambahkan, “Kalau kita kehilangan rasa bersalah, itu sebenarnya kita sebenarnya sudah enggak manusia lagi. Levelnya sudah ‘Ammarah tadi, agak kebinatang-binatangan.”

Orang dengan kondisi jiwa Lawwamah masih memiliki hasrat untuk memperbaiki diri. Berbeda dengan ‘Ammarah yang hanya mempunyai hasrat untuk bersenang-senang dan mengejar keenakan, tanpa memberi peluang untuk mengkoreksi diri.

Level ketiga kondisi jiwa manusia adalah Mulhamah. Istilah ini berasal dari kata alhama, yulhilmu, ilhaman. Pada level ini, keterlibatan Allah SWT mulai terasa karena seseorang sudah dituntun memilih jalan yang baik melalui sebuah ilham.

Pada level Mulhamah, orang masih merasakan pertarungan batin ketika menghadapi hal-hal yang berpotensi menimbulkan keburukan atau masalah. Ini menjadi proses seseorang dalam melalui fase dilematis itu, sebelum membuat keputusan tepat dengan lebih memilih menghindari perbuatan buruk.

“‘Ini nanti curang enggak ya. Kalau curang nanti berdosa. Kalau enggak curang, nanti saya enggak dapat apa-apa. Ah, biarlah, enggak dapat apa-apa, daripada berdosa,'” jelas Fahruddin Faiz, mencontohkan.

Meski begitu, terdapat ciri lain dari kondisi jiwa Mulhamah, yaitu masih adanya angan-angan untuk berbuat buruk. Angan-angan ini cenderung mengandaikan suatu keuntungan atau manfaat jika perbuatan buruk itu dilaksanakan.

“Lihat temannya curang dan sukses, dia bakal berandai-andai, ‘Ah, iya ya, mungkin kalau saya kemarin juga curang, sekarang saya juga ikut sukses,” ujar Fahruddin Faiz, kembali mencontohkan.

Batin yang masih goyah ini, menurut Fahruddin Faiz, dapat menjerumuskan orang kembali ke level Lawwamah, yakni saat pikiran untuk memilih yang buruk menjadi lebih kuat. Oleh sebab itu, ia memperingatkan agar berhati-hati dalam menyikapi situasi tersebut. Akan lebih baik jika menghindari angan-angan yang dapat memengaruhi ketetapan hati seseorang.

Setelah ‘Ammarah, Lawwamah, dan Mulhamah, level tertinggi dari kondisi jiwa seseorang adalah Muthma’innah. Orang-orang di level Muthma’innah justru sudah memantapkan diri dalam hal kebaikan dan akan cenderung tidak nyaman jika berbuat buruk.

Secara otomatis, kondisi jiwa Muthma’innah akan terus menggerakkan seseorang ke arah positif. Ini berkebalikan dengan ‘Ammarah, yakni ketika seseorang lebih terpancing untuk melakukan tindakan-tindakan negatif dan memandunya ke dalam keburukan.

Kemantapan jiwa di level Muthma’innah ini tak akan membuat hati seseorang mudah goyah. Tak ada lagi situasi dilematis yang mengharuskan seseorang terlibat dalam pertarungan batin untuk memilih berbuat baik atau buruk, jujur atau bohong, lurus atau culas.

“Landasan jiwa yang Muthma’innah inilah nanti yang mungkin bisa membawa kita pada puncaknya hidup bahagia, namanya urip kang migunani. Meaningful life.

“Jadi, enggak sia-sia Allah menghadirkan kita di muka bumi [karena] tanggung jawab kehambaan, kekhalifahan bisa jalan. Tidak egois hanya untuk kepentingan diri sendiri. Itu dasarnya Muthma’innah,” papar Faiz.

Lebih lanjut, Fahruddin Faiz menyatakan, bila kondisi jiwa manusia masih berada di level Mulhamah, Lawwamah, dan bahkan ‘Ammarah, kemungkinan orang tersebut masih sibuk dengan dirinya. Orang yang sudah mencapai level Muthma’innah adalah orang yang sudah selesai dengan diri sendiri. Tak heran, berbuat baik dengan sesama menjadi tindakan yang ringan untuk dilakukan.

Kondisi jiwa Muthma’innah menandakan bahwa seseorang sudah dapat dikatakan stabil. Provokasi apapun tidak memberi dampak yang berarti untuk orang-orang berjiwa Muthma’innah, karena mereka akan akan tetap memilih yang baik.

Bagi Fahruddin Faiz, kondisi jiwa Muthma’innah tidaklah berhubungan atau berkaitan dengan privilege seseorang. Sukses atau tidak sukses, kaya atau miskin, bukanlah situasi yang dapat menentukan seseorang berada di level kondisi jiwa Muthma’innah.

“Karena kenyamananku hanya dalam kebaikan saja. Inilah level jiwa yang Muthma’innah. Jadi ada jenis kebahagiaan, apakah hanya hidup senang atau hidup baik atau hidup bermakna, yang itu ternyata kuncinya ada di kondisi jiwa kita,” tegas Fahruddin Faiz.

Baca Juga :   Spirit Inklusifitas Muhammadiyah Terhadap Disabilitas Di Zaman Milenial
Artikel Lainnya
1 of 20

Untuk mendengar secara lengkap pemaparan Fahruddin Faiz dalam Ngaji Pasan Kotagede 2024, Anda bisa menyimaknya melalui rekaman live streaming YouTube di kanal resmi PCM Kotagede. Secara keseluruhan, Ngaji Pasan Kotagede 2024 berlangsung dalam 6 seri.

Sampai artikel ini ditulis, Ngaji Pasan Kotagede 2024 masih menyisakan 2 seri lagi. Dua seri terakhir Ngaji Pasan 2024 akan dihelat pada Selasa, 26 Maret 2024 dan Sabtu, 30 Maret 2024. Ikuti akun Instagram @pasarpasan untuk memantau perkembangan informasi tersebut.


Bagikan

Leave a Reply