
PCA Kotagede Dorong Penguatan Keluarga dan Lingkungan Hadapi Tantangan Pergaulan
KOTAGEDE β Pimpinan Cabang βAisyiyah (PCA) Kotagede kembali menggelar pertemuan rutin Rabu Pon sebagai ruang konsolidasi dan koordinasi antara pimpinan cabang dengan pimpinan ranting se-Kotagede. Pertemuan yang berlangsung pada Rabu (23/9/2026) tersebut digelar di Aula PCA Kotagede.
Rabu Pon telah menjadi agenda rutin PCA Kotagede yang dilaksanakan secara berkelanjutan dari satu periode kepemimpinan ke periode berikutnya. Kegiatan ini dihadiri pimpinan harian, perwakilan setiap majelis, serta lima orang perwakilan dari masing-masing Pimpinan Ranting βAisyiyah (PRA).
Penyelenggaraan Rabu Pon dilakukan secara bergantian oleh PRA sesuai jadwal yang telah ditetapkan Pimpinan Cabang. Pada pertemuan kali ini, PRA Alun-Alun Selatan mendapat amanah sebagai penyelenggara.
Ketua PCA Kotagede, Muftiyah Hidayati, dalam sambutannya mengingatkan pentingnya kehadiran setiap PRA dalam agenda Rabu Pon. Menurutnya, pertemuan tersebut tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga ruang silaturahmi dan saling belajar antar-ranting.
βRabu Pon ini mohon untuk selalu dihadiri oleh PRA-PRA karena yang hadir merupakan perwakilan dari pimpinan. Ini menjadi tempat untuk silaturahmi dan saling belajar,β ujar Muftiyah.
Ia juga meminta ranting yang mendapat tugas untuk menyampaikan laporan kegiatan. Dengan demikian, PCA Kotagede dapat mengetahui perkembangan dan berbagai aktivitas yang dilakukan oleh masing-masing ranting.
βPada saat Rabu Pon, yang bertugas mohon untuk melaporkan kegiatannya, sehingga PCA mengetahui bagaimana gerak dari ranting,β lanjutnya.
Mencermati Persoalan Sosial
Dalam sambutannya, Muftiyah juga mengajak seluruh peserta untuk mencermati berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat, terutama yang berkaitan dengan perilaku dan pergaulan generasi muda.
Menurutnya, dinamika sosial yang semakin kompleks perlu menjadi perhatian bersama. Keluarga dan lingkungan memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan kepada generasi muda.
βSaat ini permasalahan sosial, terutama tentang perilaku sosial, sangat tinggi. Bahkan menunjukkan bertambah. Untuk itu, monggo materi nanti diperhatikan, dicermati agar kita dapat mencegah bertambahnya perilaku yang tidak sesuai, khususnya di lingkungan kita,β tuturnya.
Muftiyah juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh ranting yang telah berpartisipasi dalam pengumpulan donasi untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan di Gunungkidul serta bantuan bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur yang terdampak bencana gempa bumi.
Membahas Tantangan Pergaulan Generasi Muda
Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan materi yang disampaikan oleh Umi Hidayati, Ketua Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Pimpinan Daerah βAisyiyah (PDA) Kota Yogyakarta.
Umi membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan pergaulan generasi muda, termasuk isu lesbian, gay, biseksual, transgender, dan istilah LGBTQ+ yang berkembang dalam diskursus sosial saat ini.
Dalam pemaparannya, Umi mengajak peserta untuk mencermati persoalan tersebut dari berbagai sisi. Menurutnya, tantangan yang dihadapi keluarga dan masyarakat saat ini tidak hanya berkaitan dengan pemahaman keagamaan, tetapi juga perubahan sosial, perkembangan teknologi, pergaulan, serta akses informasi yang semakin luas.
Umi juga menjelaskan perspektif fikih Islam mengenai homoseksualitas dengan merujuk pada kisah kaum Nabi Luth dalam Al-Qurβan serta pembahasan dalam hadis.
Namun, menurut Umi, menghadapi persoalan tersebut tidak cukup hanya dengan menjelaskan aspek hukum. Pendekatan terhadap realitas sosial yang semakin kompleks juga membutuhkan edukasi dan pendampingan yang bijaksana.
βPendekatan dakwah Islam terhadap isu LGBTQ+ di era globalisasi memerlukan strategi yang tidak hanya berbasis pada teks-teks keagamaan, tetapi juga mempertimbangkan aspek psikologis, sosial, dan budaya. Sebagai agama rahmatan lil βalamin, Islam menuntut pendekatan yang penuh hikmah, kasih sayang, dan edukasi dalam menangani setiap bentuk persoalan,β imbuh Umi.
Keluarga dan Lingkungan Punya Peran Penting
Di akhir pemaparannya, Umi menyampaikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan keluarga dan masyarakat untuk menghadapi tantangan pergaulan generasi muda.
Di antaranya melalui penguatan pola asuh orang tua, menjaga pergaulan anak di lingkungan, serta meningkatkan pendampingan terhadap penggunaan gawai dan akses terhadap berbagai konten di internet.
Umi juga mendorong adanya kajian atau seminar di sekolah dan lingkungan masyarakat sebagai sarana memberikan edukasi kepada generasi muda dan orang tua.
Selain itu, penyuluhan keagamaan juga dinilai penting untuk memberikan pemahaman mengenai nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan bersama antara keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, dan organisasi keagamaan.
Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sejumlah peserta menyampaikan pertanyaan dan pengalaman yang kemudian dibahas bersama dalam suasana diskusi.
Melalui agenda Rabu Pon, PCA Kotagede terus menjaga komunikasi antara pimpinan cabang dan ranting. Forum ini sekaligus menjadi ruang untuk saling belajar, menyampaikan perkembangan kegiatan, serta mencermati berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Bagi PCA Kotagede, penguatan keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang memiliki bekal agama, kepedulian sosial, dan kemampuan menghadapi perubahan zaman. (umih)
