
Review Perwajahan Fasade RS PKU Muhammadiyah Kotagede: Menjaga Keselarasan Arsitektur Kota Lama
Penulis: Erwito Wibowo
Kotagede tidak hanya dikenal sebagai kawasan bersejarah, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan beragam warisan arsitektur. Di sepanjang Jalan Kemasan, bangunan-bangunan dengan karakter rumah Jawa, Jengki, Indies, hingga Art Deco masih menjadi bagian dari wajah kota lama yang dipertahankan hingga sekarang.
Dalam konteks tersebut, penataan kembali perwajahan atau fasade RS PKU Muhammadiyah Kotagede, khususnya pada penggal poros Jalan Kemasan, perlu memperhatikan karakter lingkungan di sekitarnya. Bangunan rumah sakit yang masih berdiri kokoh di kawasan ini menjadi bagian dari lanskap arsitektur yang memiliki nilai sejarah dan budaya.
Upaya penataan fasade bukan berarti seluruh bangunan di sepanjang Jalan Kemasan harus diseragamkan. Justru, keberagaman gaya arsitektur merupakan salah satu kekayaan yang membentuk identitas Kotagede.
Prinsip yang perlu dikedepankan adalah keselarasan kontekstual atau visual harmony. Melalui pendekatan ini, rumah Jawa, rumah Jengki, bangunan Indies, dan Art Deco dapat tetap hadir berdampingan dalam satu deretan, tanpa harus kehilangan karakter arsitekturnya masing-masing.
Namun, dalam praktik perancangan fasade di kawasan berkarakter warisan budaya seperti Kotagede, prinsip keselarasan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam pendekatan yang lebih spesifik dan operasional.
1. Keselarasan Fasade dalam Skala Makro
Dalam skala makro, keselarasan fasade dapat diterapkan melalui beberapa pendekatan berikut.
a. Selaras Tampil
Selaras tampil merupakan pendekatan yang mengupayakan keselarasan menyeluruh pada perwajahan bangunan lama yang diperbarui. Penampilannya mengacu pada karakter fasade yang secara visual dominan pada masa lalu.
Pendekatan ini menempatkan wajah historis bangunan sebagai acuan utama dalam proses penataan kembali.
b. Selaras Parsial
Selaras parsial dilakukan dengan mengambil beberapa elemen arsitektur dari bangunan di sekitarnya, tanpa harus meniru keseluruhan gaya bangunan.
Sebagai contoh, sebuah bangunan dapat menggunakan atap berciri arsitektur Jawa, tetapi tetap mempertahankan elemen dinding, jendela, dan pintu bergaya Indies. Pendekatan serupa dapat diamati pada bangunan Bank Pembangunan Daerah di Jalan Kemasan, Kotagede.
Melalui pendekatan ini, unsur-unsur dari beberapa gaya arsitektur dapat dipadukan secara proporsional sehingga menghasilkan tampilan yang tetap selaras dengan lingkungan.
c. Selaras Gaya
Selaras gaya merupakan pendekatan yang mengulang langgam atau gaya arsitektur tertentu secara utuh dengan mengacu pada karakter yang autentik dan orisinal.
Contohnya dapat dilihat pada bangunan beratap limasan di Kotagede yang mempertahankan karakter arsitektur tradisional Jawa.
Ketiga pendekatan tersebut memberikan pilihan dalam menata fasade. Penentuan pendekatan perlu mempertimbangkan karakter bangunan, kondisi lingkungan, serta tujuan pemulihan yang ingin dicapai.
2. Keselarasan Fasade dalam Skala Mikro
Pada skala mikro, prinsip keselarasan diterapkan melalui unsur-unsur arsitektur yang lebih terukur. Pendekatan ini dapat menjadi acuan dalam mengatur hubungan visual ant bangunan, terutama pada kawasan yang memiliki karakter cagar budaya.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan meliputi hal-hal berikut.
a. Selaras Skala dan Proporsi
Keselarasan tidak selalu berarti menyamakan gaya arsitektur. Aspek yang lebih penting dapat berupa tinggi bangunan, lebar kapling, serta perbandingan ukuran pintu dan jendela.
Contohnya dapat diamati pada deretan rumah toko di sebelah utara Pasar Kotagede. Meskipun hanya terdiri atas satu lantai, bangunan-bangunan tersebut memiliki ketinggian atap yang relatif seirama. Pada saat yang sama, perwajahan fasadenya tetap memperlihatkan perpaduan karakter Jawa dan Eropa, termasuk pada kolom penyangga dan ornamen ragam hiasnya.
b. Selaras Garis Sempadan dan Garis Langit
Keselarasan garis sempadan dan garis langit berkaitan dengan penempatan bangunan serta hubungan visual yang terbentuk dari garis atap.
Di Kotagede, bentuk atap dapat berupa atap kampung Jawa, atap perisai bergaya kolonial, maupun atap Indies. Bentuk-bentuk tersebut tidak harus diseragamkan, tetapi ketinggian bubungannya perlu dipertimbangkan agar membentuk garis langit yang harmonis.
Dengan demikian, keberagaman bentuk atap tetap terjaga tanpa menimbulkan kesan visual yang saling bertabrakan.
c. Selaras Irama
Irama fasade terbentuk melalui pengulangan elemen bangunan, seperti pintu, jendela, kolom, dan bukaan lainnya.
Pada bangunan-bangunan di tepian jalan Kotagede, misalnya, dapat dijumpai pola pengulangan pintu dan jendela yang membentuk ritme tertentu. Bangunan baru dapat mengikuti pola tersebut tanpa harus menyalin seluruh detail arsitektur bangunan lama.
Keselarasan irama membantu menjaga kesinambungan visual sepanjang koridor jalan.
d. Selaras Material dan Tekstur
Material dan tekstur merupakan unsur penting yang membentuk karakter arsitektur Kotagede. Bata ekspos, kayu jati, dan plesteran kapur menjadi contoh material yang dapat memperkuat hubungan visual ant bangunan.
Bangunan Jawa, Jengki, maupun Indies dapat menggunakan material yang berbeda dalam pengolahan detailnya, tetapi kesamaan karakter tekstur dapat menjadi unsur pengikat di antara gaya-gaya tersebut.
Dengan pendekatan ini, keselarasan tidak bergantung pada kesamaan bentuk semata, tetapi juga pada hubungan material yang membentuk identitas kawasan.
e. Selaras Warna
Keselarasan warna bukan berarti seluruh bangunan harus dicat dengan warna yang sama. Pendekatan yang lebih tepat adalah membatasi palet warna agar tetap sesuai dengan karakter lingkungan.
Warna tanah, merah bata, putih kapur, dan cokelat kayu dapat menjadi pilihan yang mendukung karakter arsitektur Kotagede.
Bangunan tetap dapat memiliki identitas masing-masing, tetapi penggunaan warna yang terukur membantu menjaga keharmonisan visual kawasan.
f. Selaras Solid
Keselarasan solid berkaitan dengan perbandingan antara bidang dinding masif dan bidang terbuka, seperti pintu, jendela, serta lubang angin atau roster.
Setiap gaya arsitektur memiliki karakter yang berbeda dalam pengolahan bidang tersebut. Bangunan Jawa, kolonial, Jengki, dan Indies dapat memperlihatkan komposisi bidang masif dan bukaan yang tidak sama.
Dalam penataan fasade, perbedaan itu perlu dikelola agar sebuah bangunan tidak tampil terlalu kontras, misalnya melalui penggunaan bidang kaca yang sangat luas di tengah deretan bangunan dengan karakter dinding masif.
g. Selaras Elemen Transisi
Aspek ini menjadi salah satu bagian penting dalam penataan kawasan berkarakter warisan budaya seperti Kotagede.
Elemen transisi meliputi ornamen ambang, lisplang, konsol, pagar, dan detail lain yang membentuk hubungan visual antara satu bangunan dengan bangunan di sebelahnya.
Dalam pendekatan ini, yang diselaraskan bukan semata-mata keseluruhan bangunan, melainkan juga bahasa arsitektur yang menghubungkan bangunan-bangunan tersebut.
Elemen transisi yang dirancang secara tepat dapat membantu menciptakan kesinambungan visual tanpa menghilangkan keunikan setiap fasade.
3. Prinsip Praktis Perancangan Fasade di Kotagede
Dari berbagai pendekatan tersebut, dapat dirumuskan satu prinsip praktis dalam perancangan perwajahan bangunan di kawasan berkarakter warisan budaya:
“Seragamkan yang tidak terlihat, bebaskan yang terlihat.”
Yang dimaksud dengan unsur yang tidak terlihat bukan berarti unsur yang tersembunyi secara fisik, melainkan aspek-aspek dasar yang sering kali tidak langsung disadari oleh pengamat, seperti skala, proporsi, garis sempadan, dan palet warna.
Sementara itu, unsur yang terlihat, seperti gaya arsitektur, ornamen, dan detail bangunan, tetap dapat menampilkan keberagaman.
Prinsip ini memungkinkan bangunan-bangunan di Kotagede mempertahankan karakter masing-masing sekaligus membentuk kesatuan visual sebagai bagian dari kota lama.
4. Proses Pemulihan Arsitektur RS PKU Muhammadiyah Kotagede
Dalam penataan kembali fasade RS PKU Muhammadiyah Kotagede, prinsip keselarasan perlu berjalan beriringan dengan proses pemulihan arsitektur yang memperhatikan keberadaan unsur-unsur asli bangunan.
Beberapa teknik pemulihan yang dapat dikenali dalam proses tersebut meliputi pemasangan unsur bongkar, pemasangan unsur temuan, dan pemasangan unsur pengganti.
a. Pemasangan Unsur Bongkar
Pemasangan unsur bongkar merupakan upaya pemulihan bangunan dengan memanfaatkan kembali komponen asli yang sebelumnya dilepas untuk keperluan perbaikan struktur atau bagian bangunan lainnya.
Pelaksanaannya berpedoman pada sistem registrasi yang mencatat posisi setiap unsur sebelum dibongkar. Penandaan atau pemberian kode pada masing-masing komponen diperlukan agar unsur tersebut dapat dipasang kembali sesuai kedudukan semula.
Dalam pemulihan fasade RS PKU Muhammadiyah Kotagede, salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembalikan dua bangunan simetris di sisi utara dan selatan yang mengapit tiga bangunan beratap kampung yang tersusun berjajar.
Selain itu, boven atau ventilasi pada bagian atas dinding berbentuk segitiga dengan tulisan beraksara Arab yang terbaca “Muhammadiyah” dipertahankan dan dipasang kembali.
Pemulihan unsur-unsur tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keterbacaan karakter bangunan dan identitas historisnya.
b. Pemasangan Unsur Temuan
Pemasangan unsur temuan merupakan upaya pemulihan bangunan dengan menempatkan kembali komponen asli yang ditemukan selama proses pekerjaan ke posisi semula.
Proses ini dilakukan melalui pencocokan unsur berdasarkan kesamaan bentuk, ukuran, bahan, dan pola hias. Dengan demikian, komponen yang ditemukan dapat diidentifikasi dan ditempatkan kembali secara tepat.
Pada RS PKU Muhammadiyah Kotagede, pendekatan ini terlihat pada penyusunan kembali tiga bangunan beratap kampung secara berjajar. Unsur lisplang yang memiliki karakter khas dan autentik, beserta ornamen ragam hias yang ditemukan dari periode sebelumnya, dipasang kembali sesuai hasil identifikasi.
Teknik penempatan kembali unsur asli berdasarkan kecocokan tersebut dikenal dalam konservasi arsitektur sebagai anastilosis.
Melalui pendekatan ini, pemulihan tidak sekadar menghadirkan bentuk yang menyerupai bangunan lama, tetapi juga berupaya mempertahankan sebanyak mungkin material dan detail asli yang masih dapat digunakan.
c. Pemasangan Unsur Pengganti
Pemasangan unsur pengganti merupakan upaya pemulihan dengan menggunakan bahan baru untuk mengganti bagian bangunan yang rusak, hilang, atau mengalami perubahan pada periode tertentu.
Pelaksanaannya memerlukan kajian terhadap bagian bangunan lain yang memiliki kesamaan karakter, baik dari segi bentuk, ukuran, maupun material. Kajian tersebut menjadi dasar untuk menentukan bentuk pengganti yang paling sesuai.
Dalam konteks pemulihan arsitektur RS PKU Muhammadiyah Kotagede, penggunaan unsur pengganti perlu mempertimbangkan kesesuaian dengan karakter bangunan yang dipulihkan, sekaligus memperhatikan kebutuhan teknis dan kondisi bangunan saat ini.
Pendekatan ini berkaitan dengan rekonstruksi, terutama ketika bagian bangunan yang hilang perlu dibentuk kembali berdasarkan bukti dan kajian yang memadai.
Penggunaan unsur pengganti bukan berarti menciptakan kembali bangunan lama secara bebas. Sebaliknya, setiap keputusan perlu didasarkan pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan agar hasil pemulihan tetap selaras dengan karakter historis bangunan.
Menjaga Identitas Kotagede Melalui Keselarasan Arsitektur
Penataan kembali fasade RS PKU Muhammadiyah Kotagede merupakan bagian dari upaya menjaga hubungan antara kebutuhan bangunan masa kini dan karakter kawasan bersejarah.
Di kawasan seperti Kotagede, keberhasilan penataan tidak harus diukur dari keseragaman bentuk bangunan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana setiap bangunan dapat mempertahankan identitasnya, sekaligus berkontribusi terhadap keselarasan visual lingkungan.
Rumah Jawa, bangunan Jengki, Indies, dan Art Deco dapat tetap berdampingan sebagai bagian dari perjalanan arsitektur Kotagede. Keselarasan skala, proporsi, material, warna, irama, dan elemen transisi menjadi perangkat untuk menjaga hubungan di antara keberagaman tersebut.
Sementara itu, penggunaan kembali unsur bongkar, unsur temuan, serta penggantian bagian yang hilang secara terukur dapat membantu mempertahankan nilai historis bangunan.
Dengan demikian, pemulihan fasade RS PKU Muhammadiyah Kotagede bukan sekadar persoalan memperbaiki tampilan bangunan, melainkan juga bagian dari ikhtiar merawat karakter kota lama agar tetap terbaca dan bermakna bagi generasi mendatang.
Erwito Wibowo
Pemerhati tata ruang wilayah, lingkungan, dan bangunan Kotagede.
