Sejarah dan Asal-usul Masjid Perak Kotagede

Bagikan

Kotagede tidak hanya menyimpan jejak sejarah dengan adanya Masjid Gedhe Mataram sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Islam. Namun juga berdiri kokoh Masjid Perak yang tak kalah sarat makna sejarah dan kini menjadi salah satu landmark Kotagede.

- Advertisement -

Masjid ini terletak di Jalan Mondorakan, tepat di belakang SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta, di kawasan sentra perak sekaligus warisan Mataram Islam. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Perak juga menjadi simbol sejarah perjuangan, kemandirian umat, serta perkembangan Islam di Kotagede, terutama pergerakan Muhammadiyah.

Sejarah Pembangunan Masjid Perak Kotagede

Artikel Lainnya
1 of 13

Masjid Perak Kotagede dibangun secara kolektif oleh masyarakat Muhammadiyah pada akhir 1930-an untuk menjawab kebutuhan meningkatnya aktivitas keagamaan. Zaman dulu, Masjid Gedhe Mataram sudah tidak lagi mampu menampung jemaah. Selain itu, penggunaannya terikat pada aturan birokrasi keraton, yakni harus mengkantongi izin dari pihak Keraton Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Sehingga diperlukan masjid baru yang lebih luas, mandiri, dan mudah diakses, serta tidak terikat aturan yang birokratis.

Gagasan pembangunan Masjid Perak diprakarsai tiga tokoh ulama setempat, yakni KH Mudakir, KH Amir, dan KH Muhsin. Para pengusaha menyumbangkan dana dan material, sementara masyarakat menyumbangkan tenaga dan keahlian, mulai dari pertukangan hingga seni ukir.

Dalam buku Studi tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede Tahun 1910-2010 karya Mitsuo Nakamura, para Perempuan turut memegang peranan penting. Mereka aktif dalam penggalangan dana serta berbagai aktivitas ekonomi lokal. Masjid Perak selesai dibangun pada 1939 dan mulai digunakan pada 1940.

Baca Juga :   Mutiara Nusantara Yang Terlupakan

Pada masa revolusi kemerdekaan, Masjid Perak menjadi basis perjuangan yang dipimpin Drs. H. Zubaidi Bajuri. Pelataran masjid digunakan pembekalan dan pelepasan Laskar Hizbullah/Sabilillah yang berperang melawan Belanda.

Memasuki era 1950-an hingga akhir 1960-an, peran Masjid Perak Kotagede tetap dibutuhkan dalam dinamika kebangsaan. Menjelang akhir Orde Lama, para aktivis masjid turut menjaga persatuan di tengah ketegangan politik antara PKI dan kekuatan militer.

Pada masa itu, Masjid Perak menjadi pusat pergerakan pemuda Islam, yang dibekali pemahaman keislaman dan keterampilan bela diri. Bahkan, lahan di samping masjid diwakafkan untuk membangun sekolah sebagai sarana pembinaan generasi muda menghadapi tantangan zaman.

Masjid Perak mengalami beberapa perubahan fisik. Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 menyebabkan kerusakan parah, sehingga perlu direnovasi total. Pembangunan ulang dimulai pada 15 Februari 2009 dan diresmikan kembali pada 31 Januari 2013 oleh Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, dengan tetap mempertahankan bentuk arsitektur aslinya.

Asal-usul nama Masjid Perak

Pemberian nama β€˜Perak’ pada Masjid Perak Kotagede sering kali dipahami semata-mata berkaitan dengan profesi para donaturnya sebagai pengusaha perak.

Padahal, salah satu asal-usulnya ditelusuri dari kata Arab firoq (atau firaq) yang berarti β€˜pembeda’ atau β€˜pemisah’. Makna ini merefleksikan semangat pembaruan: memisahkan diri dari pola pikir lama.

Sekaligus usaha kebebasan dakwah Islam dari pengaruh kekuasaan kerajaan dan tradisi yang tidak sejalan. Di sisi lain, penamaan tersebut juga tidak lepas dari konteks sosial-ekonomi Kotagede pada 1930-an, ketika kerajinan perak mencapai masa kejayaan.

Meski dunia dilanda depresi ekonomi besar-besaran, industri perak lokal tetap berkembang pesat dan cenderung meningkatkan kesejahteraan pengrajin. Masa itu, pendapatan pengrajin perak mencapai 1,35 Gulden per hari dan mampu membeli 30kg beras pada masanya.

Baca Juga :   Pasar Pasan Kotagede 1446, Padukan Heritage dan UMKM

Jika dikonversikan ke nilai sekarang, penghasilan tersebut diperkirakan setara jutaan rupiah dalam hitungan kurang dari sepekan kerja. Kondisi ekonomi yang relatif kuat inilah yang kemudian memungkinkan masyarakat secara swadaya membangun Masjid Perak sebagai pusat ibadah dan aktivitas keagamaan.

Menurut catatan Nawawi (1957), nama β€˜Perak’ juga dimaknai secara simbolik. Warna perak yang putih mencerminkan kemurnian dan kesucian, sejalan dengan nilai keikhlasan dalam pembangunan masjid.

Sementara dalam pemahaman santri, istilah firaq yang dilafalkan β€œpirah” atau β€œpisah” oleh masyarakat Jawa dimaknai sebagai keterpisahan masjid dari kepentingan di luar misi utama syiar Islam. (guf)
sumber : budaya.jogjaprov.go.id


Bagikan

Leave a Reply