
Dari Kotagede, Sweda Bawa Kerajinan Perak ke Pasar Amerika
KOTAGEDE โ Kerajinan perak menjadi salah satu bagian dari kehidupan masyarakat Kotagede sejak masa Mataram Islam. Perkembangannya kemudian tidak berhenti pada produk rumah tangga atau perhiasan, tetapi mulai mengikuti perubahan selera dan kebutuhan pasar.
Perubahan tersebut salah satunya dilakukan Sweda, perusahaan kerajinan perak yang berdiri di Kotagede. Sweda didirikan pada 2016 oleh tiga pemuda, Syahrizal Anwar, Surya Aditya, dan Taufik Hidayat.
Menariknya, ketiganya bukan berasal dari keluarga pengrajin perak. Mereka juga tidak memiliki keterampilan khusus dalam membuat perak ketika memulai usaha.
Justru dari keterbatasan tersebut mereka belajar membuat produk perak secara mandiri hingga kemudian memasarkannya ke pasar internasional.
Berawal dari Ingin Bekerja Dekat Rumah
Keputusan mendirikan Sweda pada awalnya berangkat dari keinginan sederhana. Syahrizal dan Surya ingin tetap bekerja dari rumah agar bisa dekat dengan ibu mereka.
Kantor Sweda kemudian dibangun di samping kediaman Syahrizal dan Surya. Lokasinya masih berada dalam satu halaman dengan rumah.
Menurut Syahrizal, keputusan tersebut menjadi awal dari perjalanan Sweda hingga sekarang.
โDari niatan ini, mungkin diamini atau diijabah oleh Gusti Allah sampai sekarang,โ kata Syahrizal ketika ditemui pada Sabtu (29 Juni 2024).
Nama Sweda sendiri diambil dari dua bahasa, yakni Jawa Lama dan Sanskerta. Syahrizal menjelaskan, Sweda dalam bahasa Sanskerta berarti keringat, sedangkan dalam bahasa Jawa Lama berarti jari tangan.
Dari pengertian tersebut, Sweda dimaknai sebagai kristalisasi keringat atau pekerjaan tangan.
Belajar Membuat Perak dari YouTube
Ketika mulai menjalankan usaha, ketiga pendiri Sweda belum memiliki kemampuan membuat kerajinan perak. Mereka juga tidak belajar secara khusus kepada pengrajin tertentu.
Proses belajar justru dilakukan secara mandiri melalui YouTube. Awalnya, mereka terdorong untuk belajar setelah produk yang dikerjakan melalui jasa pengrajin tidak selesai sesuai tenggat waktu. Kondisi tersebut membuat Syahrizal mencoba menyelesaikan sendiri pekerjaan yang belum selesai.
โSaat itu, saya sudah memberikan deadline dan belum selesai. Akhirnya saya ambil barang dan mengerjakan sendiri kekurangannya. Sebab suka mengerjakan sendiri, saya pikir, kayaknya saya bisa membuat ini. Detail-detail cara bikinnya semuanya saya belajar di YouTube,โ jelas Syahrizal.
Dari pengalaman tersebut, mereka mulai mempelajari teknik pembuatan perak dan mengembangkan kemampuan secara bertahap.
Syahrizal mengakui, belajar kerajinan perak di Kotagede tidak selalu mudah. Menurutnya, masih ada pengrajin yang enggan membagikan seluruh pengetahuan karena menganggap orang yang belajar dapat menjadi pesaing.
Padahal, sebagian pengrajin yang memiliki kemampuan membuat perak sudah berusia lanjut.
โMau sampai usia berapa membuat perak? Mau diwariskan ke siapa ilmu membuat perak? Apakah anak-anaknya mau meneruskan?โ kata Syahrizal.
Memilih Pekerja dari Kalangan Anak Muda
Persoalan regenerasi pengrajin kemudian menjadi salah satu perhatian Sweda.
Para pekerja di Sweda rata-rata masih berusia muda, sekitar 25 tahun ke bawah. Menurut Syahrizal, pilihan tersebut dilakukan agar pengetahuan dan keterampilan membuat perak dapat terus berkembang di kalangan generasi muda. Ia juga melihat adanya persoalan kebanggaan terhadap profesi pengrajin perak.
Syahrizal pernah menemui seorang anak yang memiliki ayah seorang pekerja perak. Anak tersebut sebenarnya sudah menguasai sebagian besar keterampilan membuat perak, tetapi memilih tidak meneruskan pekerjaan orang tuanya. Karena itu, Sweda menggunakan istilah pekerja perak, bukan tukang perak.
Bagi Syahrizal, penyebutan tersebut penting untuk membangun kebanggaan terhadap pekerjaan yang dilakukan.
โPertama, kami memilih anak muda agar lingkungan kami bagus, pengetahuan yang bisa kami kasih juga mudah tersampaikan,โ ujarnya.
Masuk ke Komunitas Subculture
Sweda tidak hanya mengembangkan produk perak sebagai perhiasan. Mereka memilih masuk ke komunitas subculture, seperti streetwear, hiphop, grafiti, skateboard, dan BMX.
Pendekatan tersebut membuat Sweda memiliki pasar yang lebih spesifik. Syahrizal mengatakan, komunitas-komunitas tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan anak muda. Karena itu, Sweda mencoba masuk dan membangun hubungan dengan komunitas tersebut.
โKami itu sebenarnya tidak menjual perhiasan. Jadi kalau ada orang bilang, di sini ada brand baru dan punya produk cincin bagus nih, namun produk kami berbeda. Kami berada di jalan subculture,โ tambah Syahrizal.
Menurutnya, pasar subculture memang tidak sebesar pasar umum. Namun, Sweda memilih fokus dan membangun hubungan dengan komunitas yang sesuai dengan karakter produknya.
Produk Sweda Masuk Pasar Amerika
Pasar internasional mulai terbuka ketika Sweda mengirimkan surel kepada Us Versus Them, sebuah brand yang cukup dikenal dalam komunitas subculture Amerika pada era 2000-an.
Awalnya, mereka hanya meminta izin untuk membuat produk menggunakan brand tersebut. Permintaan tersebut mendapat respons positif. Sweda kemudian mendapat izin membuat dua produk. Satu produk dikirimkan kepada Us Versus Them, sedangkan satu lainnya menjadi koleksi Sweda dan tidak diperbolehkan untuk dijual.
Dari hubungan tersebut, Sweda kemudian mendapatkan pintu masuk ke pasar Amerika Serikat.
โSaya masih ingat klien pertama yang membuka gerbang di pasar Amerika adalah founder Us Versus Them. Sampai sekarang hubungan kami sangat baik,โ kata Syahrizal.
Setelah melihat produk Sweda, kualitas pengerjaannya dinilai mampu bersaing dengan produk dari Jepang yang sebelumnya digunakan oleh klien tersebut.
Menurut Syahrizal, produk Sweda memiliki bobot yang lebih ringan dan detail pengerjaan yang lebih baik. Hingga saat ini, pasar internasional menjadi bagian penting dalam pemasaran Sweda. Hampir seluruh produknya disebut telah terjual di pasar internasional.
Menggarap Piala MotoGP dan BRI Liga 1
Selain membuat produk perak untuk pasar subculture, Sweda juga mendapat kesempatan mengerjakan piala MotoGP yang digelar di Lombok, Indonesia. Dalam pengerjaannya, Sweda tidak hanya memperhatikan bentuk piala, tetapi juga memasukkan unsur filosofi Lombok dalam desainnya.
Menurut Syahrizal, motif pada piala tersebut mengambil inspirasi dari motif tenun Lombok.
โJadi piala MotoGP didesain sendiri dengan menggunakan filosofis Lombok. Saya tidak suka menggarap desain yang sudah ada, mendingan saya desain dan garap produknya,โ terang Syahrizal.
Sweda juga pernah mengerjakan piala BRI Liga 1 Indonesia. Meski mengerjakan sejumlah produk untuk acara besar, Sweda tidak banyak mempublikasikan pekerjaannya. Syahrizal mengatakan, mereka lebih memilih fokus menyelesaikan pekerjaan daripada terlalu banyak melayani pemberitaan media.

Ingin Menggelar Pameran di Amerika
Perjalanan Sweda di pasar internasional masih terus dikembangkan. Dalam lima tahun ke depan, Sweda memiliki rencana menggelar pameran tunggal di Amerika Serikat. Pameran tersebut diharapkan dapat dilakukan tanpa sponsor dari brand dalam negeri maupun pemerintah.
Sebaliknya, Sweda ingin mendapatkan dukungan dari para klien yang selama ini sudah mereka miliki di Amerika Serikat. Dari Kotagede, usaha yang awalnya dibangun oleh tiga pemuda tanpa latar belakang pengrajin perak tersebut kini telah memiliki pasar di luar negeri. Keterampilan yang mereka pelajari secara mandiri kemudian berkembang menjadi usaha yang menjangkau pasar internasional.
