Tanah Jawa dan Tanah Suci

Bagikan

Bandung Mawardi

- Advertisement -

Tanah Jawa awal abad XX, tanah yang ditanami benih-benih yang menimbulkan masalah-masalah sekaligus cerah. Yang melihat kota mengetahui tata kehidupan cepat berubah: dari jalan sampai pendidikan. Kota-kota di Jawa menjadi ruang pameran ide-ide, yang memiliki tokoh-tokoh berani dalam pertaruhan menang-kalah atau maju-mundur. Lakon-lakon yang digelar di kota-kota menular ke desa-desa, yang membawa pertanyaan dan kesangsian untuk ditanggapi saat Jawa niscaya tak lagi sama dengan abad-abad sebelumnya.

Takashi Shiraishi (1989) memandang Jawa menanggungkan “zaman bergerak”, yang menjadikan awal abad XX meriah. Yang kita mengerti meriah akibat industri perkebunan, penggunaan alat transportasi modern, berkembangnya pers dan bacaan, pengejawantahan iman, pertumbuhan perkumpulan, dan berkah sekolah-sekolah. Situasi itu menimbulkan sengketa identitas bagi orang-orang yang ingin menonjolkan Jawa, Islam, kiri, nasionalis, dan lain-lain.

Artikel Lainnya
1 of 6

Di buku berjudul Muhammadiyah Jawa (2010), Ahmad Najib Burhani menjelaskan: “Catatan-catatan sejarah menunjukkan bahwa identitas lokal – ‘wong Pajang’, ‘wong Mataram’, ‘wong Surabaya’ dan sebagainya – masih kuat pada akhir abad XVII. Namun, ada alasan untuk menduga, sebelum awal abad XVIII, sebuah identitas ‘Jawa’ mulai diterima, dan salah satu penanda penting dari identitas ini adalah menganut Islam.” Penguatan makin tampak pada abad XIX dan XX. Yang teringat adalah identitas itu dinyatakan melalui pembentukan perkumpulan, perserikatan, dan perhimpunan. Maka, Jogjakarta tampak penting saat kita menilik Islam dan Jawa, yang tampak dalam babak awal Muhammadiyah: 1912 sampai 1920-an.

Baca Juga :   Orang Kalang dan Prespektif Memori Kolektif Masyarakat Kotagede

Pergolakan dan pembentukan identitas juga terjadi di Minangkabau. Di sana, ada remaja yang kelak mendapat sebutan Hamka (1908-1981). Pada awal abad XX, ia bertumbuh dalam asuhan Islam, Minangkabau, dan terpengaruh oleh hal-hal yang berkecamuk di Jawa. Seabad yang lalu dan dibarengi guncang akibat perpecahan di Sarekat Islam, Hamka bergerak ke Tanah Jawa. Ia ingin mengetahui “dunia baru”, yang membuatnya bergairah dalam mencari ilmu dan paham dakwah. Sampailah ia di Jogjakarta.

Hamka dalam buku berjudul Kenang-Kenangan Hidup (1951) mengisahkan: “Sampai di Jogjakarta, menumpang di rumah orang sekampungnja, Marah Intan. Hanja dialah satu-satunja orang Sumatra Barat jang ada di Jogjakarta ketika itu. Dia tinggal di kampung Ngampilan, tidak berapa djauh dari Kauman.” Hari-hari awal di Jogjakarta, Hamka menyadari “selama ini dia belum beladjar agama.” Di sana, ia bertemu tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam agama, politik, pers, pendidikan, dan lain-lain.

Belajarlah Hamka dalam kajian-kajian diisi Ki Bagus Hadikusumo, HOS Tjokroaminoto, H Fakhruddin, dan lain-lain. Di Tanah Jawa, ia mulai dalam kesuburan ilmu agama. Kita mendapat amatan Hamka, dari pergaulan dan belajar: “Jogjakarta dalam tahun 1924 adalah zaman mulai timbulnja semangat kesadaran Islam. Apatah lagi residen Jogjakarta terang-terang berpihak kepada zending Kristen. Pemuda kita (Hamka) turut dalam satu arak-arakan memperingati Maulid Nabi jang tidak kurang dari 20 ribu orang dan semuanja membawa bendera kertas bertulis Al Islam berwarna hijau.”

Datang dan belajar di Tanah Jawa, memberi terang atas pelbagai perubahan dan membekali Hamka untuk mempertinggi ilmu agar sanggup menanggapi zaman terus bergolak. Ia mengerti identitas Jawa yang ditampilkan melalui rumah, busana, bahasa, makanan, dan lain-lain. Hamka menemukan kekhasan Jawa dan Islam, membandingkan dengan asal kedatangan Minangkabau dan Islam. Pada akhirnya, khas-khas dan pengaruh-pengaruh terdapat dalam perkembangan Muhammadiyah.

Baca Juga :   Spirit Inklusifitas Muhammadiyah Terhadap Disabilitas Di Zaman Milenial

Tidak terlalu lama, Hamka berada di Tanah Jawa. Ia merasa harus pergi yang jauh. Alamat yang didatangi adalah Tanah Suci. Sampailah dengan segala pengalaman selama di kapal dan bertemu banyak orang. Di tempat yang diangankan umat Islam di pelbagai negeri, Hamka dalam ketakjuban. Ia mengenang: “Sehabis maghrib, dia (Hamka) pun tawaf di keliling Kabah. Sesudah itu dengan hati jang amat khusjuk dia meniaraplah di bawah kaki rumah sutji itu, tergantung kepada selubungnja, memohon kepada Tuhan supaja dia diberi petundjuk dan hidajat dan mendjadi orang jang berfaedah dalam hidupnja…”

Di Tanah Suci, Hamka tidak kesepian. Ia tetap bertemu orang-orang yang berasal dari Nusantara. Kesaksian: “Orang sangat banjak naik hadji pada masa itu. Dari seluruh kepulauan Indonesia tidak kurang dari 64 ribu orang. Memang sebab setahun dahulu dari itu dua pemimpin besar Indonesia, Tjokroaminoto dan KH Mas Mansur telah ziarah ke Mekah, menghadiri Muktamar Islam jang diadakan oleh Ibnu Saud. Negeri Hejaz baru sadja djatuh ke bawah kekuasaannja. Berita djatuhnja tanah Hejaz di tangan Ibnu Saud, dan kenaikan harga getah, semua menjebabkan orang banjak naik hadji.”

Di sana, Hamka juga menyaksikan kehadiran para pemuka Muhammadiyah dan Sarekat Islam. Pendalaman ilmu agama dan pengalaman makin bertambah. Pada suatu hari, Hamka pulang membawa suluh dakwah di Indonesia.

bandung mawardi

Bandung Mawardi.

Lahir di Karanganyar, 18 Januari 1981.

Pedagang buku bekas, kolektor kamus, penulis buku, pengulas iklan, dan tukang kliping.


Bagikan

Leave a Reply