Dakwah Muhammadiyah Kotagede dari Masa ke Masa, Meneladani Sejarah dan Menguatkan Aksi Nyata

Bagikan

KOTAGEDE – Dakwah Muhammadiyah tidak hanya berlangsung melalui mimbar dan ceramah keagamaan. Lebih dari itu, dakwah juga hadir melalui pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

- Advertisement -

Pesan tersebut mengemuka dalam pemaparan Ustaz Drs. H. Akhid Widi Rahmanto, yang mengulas perjalanan dakwah Muhammadiyah Kotagede dari masa ke masa. Sejumlah kisah sejarah yang disampaikan menjadi pengingat bahwa keberhasilan dakwah tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan menyampaikan ajaran agama, tetapi juga oleh cara merangkul masyarakat dan menghadirkan manfaat nyata.

Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam perintisan Muhammadiyah Kotagede adalah Kyai Amir Selokraman. Ia dikenal sebagai tokoh yang mendirikan Madrasah Ma’had Islamy, sebuah ikhtiar pendidikan yang menjadi bagian dari perjalanan dakwah di Kotagede.

Artikel Lainnya
1 of 133

Keteladanan dalam Berdakwah

Dalam pemaparannya, Akhid Widi Rahmanto menceritakan kisah seorang tokoh masyarakat yang dikenal memiliki kebiasaan menyelenggarakan adu jago. Setiap kali berjalan menuju Masjid Gedhe Mataram, Kyai Amir melewati orang tersebut dan selalu menyapanya dengan baik.

Sapaan yang diberikan secara terus-menerus itu perlahan membangun kedekatan. Hingga akhirnya, orang tersebut bersedia datang ke masjid dan bahkan menjadi donatur pembangunan langgar di kampungnya.

Namun, perjalanan itu sempat menghadapi hambatan. Ketika orang tersebut mulai rajin ke masjid, ada seseorang yang berkomentar, “Tumben Pak X ke masjid.”

Komentar yang terkesan sepele itu membuatnya merasa tersindir. Ia pun kembali menjauh dari masjid, meskipun keadaan tersebut tidak berlangsung lama.

Kisah ini memberikan pelajaran penting dalam berdakwah. Seseorang yang baru mulai mendekatkan diri kepada agama perlu disambut dengan baik, bukan justru diberi komentar yang membuatnya merasa malu atau tidak nyaman.

Dakwah membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan kemampuan memahami keadaan orang lain. Sebuah sapaan yang tulus dapat membuka pintu perubahan, sedangkan ucapan yang tidak tepat berpotensi menjauhkan seseorang dari lingkungan masjid.

Dakwah yang Mencerahkan dan Membawa Perubahan

Pada masa awal perkembangannya, gerakan Muhammadiyah menghadirkan sejumlah pembaruan dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Perubahan tersebut terkadang membuat Muhammadiyah dipandang sebagai gerakan yang berbeda dari kebiasaan yang telah lama berkembang.

Pelurusan arah kiblat, pelaksanaan salat Id di lapangan, serta upaya memberantas TBC—singkatan dari takhayul, bidah, dan khurafat dalam terminologi dakwah Muhammadiyah—merupakan contoh gerakan pembaruan yang disampaikan dalam pemaparan tersebut.

Salat idul fitri di lapangan karang kotagede

Perubahan itu tidak cukup dilakukan melalui ceramah. Diperlukan keberanian untuk memberikan pemahaman, menunjukkan contoh, dan membuktikan manfaatnya dalam kehidupan masyarakat.

Baca Juga :   Pengenalan Bakesos di Tingkat Daerah Sebagai Langkah Awal Persiapan Pendirian Bakesos

Akhid juga mengingatkan adanya tantangan dakwah pada masa kini, termasuk upaya menjaga pemahaman keagamaan di tengah berkembangnya berbagai tradisi dan kegiatan kebudayaan. Tantangan tersebut perlu dihadapi dengan pemahaman agama yang kuat, pendekatan yang bijaksana, serta dakwah yang mencerahkan.

Dengan demikian, semangat pembaruan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi tetap menjadi landasan untuk menjawab persoalan umat pada setiap zaman.

Pendidikan sebagai Jalan Mencerdaskan Umat

Pendidikan menjadi salah satu fondasi penting dalam gerakan Muhammadiyah. Dalam pemaparannya, Akhid mengaitkan perjuangan pendidikan pada masa penjajahan dengan upaya membangun masyarakat yang cerdas dan berdaya.

Kyai Haji Ahmad Dahlan memahami bahwa pendidikan merupakan jalan strategis untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Karena itu, dakwah tidak hanya diarahkan pada pengajaran agama, tetapi juga pada pembentukan manusia yang memiliki wawasan luas dan kemampuan menghadapi perubahan zaman.

Salah satu pembaruan penting yang dilakukan Muhammadiyah adalah memadukan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Melalui pendekatan tersebut, pendidikan diharapkan tidak hanya membentuk manusia yang memahami ilmu keagamaan, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk berkontribusi dalam kehidupan sosial.

Semangat pendidikan itu tetap relevan hingga sekarang. Masyarakat yang terdidik memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan, mengembangkan potensi, dan mengambil peran dalam pembangunan.

Masjid sebagai Pusat Gerakan Umat

Selain pendidikan, masjid memiliki kedudukan strategis dalam dakwah Muhammadiyah. Masjid tidak semestinya hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga pusat kegiatan umat yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Melalui masjid, berbagai kegiatan dapat dikembangkan, mulai dari pengajian, pendidikan anak dan remaja, pembinaan kader, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Karena itu, ujung tombak dakwah bukan hanya para mubalig atau pimpinan organisasi. Setiap warga Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk mengambil bagian sesuai dengan kemampuan dan lingkungan masing-masing.

Dakwah yang baik pada akhirnya perlu menghadirkan perubahan yang dapat dirasakan masyarakat, termasuk dalam peningkatan kesejahteraan dan kepedulian sosial.

Pesan tersebut sejalan dengan spirit Surah Ali Imran ayat 104 yang menyerukan adanya segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Ayat ini menjadi salah satu landasan penting bagi gerakan dakwah dan amar makruf nahi mungkar Muhammadiyah.

Dari Gagasan Menjadi Pelayanan Sosial

Sejarah Muhammadiyah juga menunjukkan bagaimana gagasan yang pada awalnya dianggap tidak biasa dapat berkembang menjadi gerakan pelayanan yang luas.

Akhid menyinggung kisah Kyai Syuja’, murid Kyai Haji Ahmad Dahlan, yang mengusulkan pendirian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Menurut kisah yang disampaikan, gagasan tersebut sempat mengundang tawa peserta kongres Muhammadiyah pada masanya.

Namun, gagasan pelayanan sosial itu kemudian berkembang menjadi salah satu tonggak penting gerakan Muhammadiyah di bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :   Lazismu Kotagede Bersama MKS PCA Kotagede Salurkan Daging DAM Haji kepada 128 Fakir Miskin

Kini, layanan kesehatan Muhammadiyah melalui rumah sakit, klinik, dan berbagai bentuk pelayanan sosial telah hadir di banyak daerah. Perkembangan tersebut menjadi pengingat bahwa dakwah membutuhkan keberanian untuk memulai, kesungguhan dalam menjalankan, dan kesabaran untuk membangun keberlanjutan.

Di Kotagede sendiri, sejarah pelayanan kesehatan Muhammadiyah memiliki perjalanan panjang. Dalam pemaparannya disebutkan bahwa PKO Kotagede berdiri pada 1928 dan menjadi PKO kedua setelah PKO Pusat. Catatan sejarah ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kesehatan masyarakat telah menjadi bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah Kotagede sejak masa awal.

Melanjutkan Perjuangan Para Tokoh

Perjalanan Muhammadiyah juga tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para tokohnya dalam kehidupan kebangsaan. Nama-nama seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Kahar Muzakkir merupakan tokoh Muhammadiyah yang berperan dalam proses perumusan dasar negara melalui keanggotaan BPUPKI.

Sementara itu, Hamka, ulama Muhammadiyah yang dikenal luas melalui karya dan pemikirannya, dipercaya menjadi ketua pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 1975. Dalam pemaparan tersebut, Akhid menyoroti keteladanan Hamka yang bersedia menerima amanah dengan syarat tidak menerima bayaran.

Kisah para tokoh tersebut memberikan gambaran bahwa dakwah Muhammadiyah tidak terbatas pada urusan internal organisasi. Dakwah juga berkontribusi dalam pendidikan, kesehatan, kehidupan sosial, dan perjalanan bangsa.

Warisan perjuangan mereka tidak cukup dikenang melalui nama dan kisah sejarah. Nilai-nilai yang mereka perjuangkan perlu diteruskan dalam bentuk kerja nyata sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Bagaimana Dakwah Masjid Kita Hari Ini?

Berbagai kisah perjalanan dakwah Muhammadiyah Kotagede tersebut mengantarkan pada pertanyaan penting: bagaimana dakwah yang dijalankan melalui masjid di lingkungan kita masing-masing?

Pertanyaan ini perlu dijawab bukan hanya melalui perencanaan program, melainkan juga melalui kesediaan untuk terlibat dan bekerja bersama masyarakat.

Masjid perlu menjadi ruang yang ramah bagi siapa pun yang ingin belajar agama, tempat anak-anak dan generasi muda bertumbuh, sekaligus pusat kepedulian terhadap persoalan sosial di sekitarnya.

Semangat dakwah Kyai Amir Selokraman yang merangkul masyarakat melalui sapaan, perjuangan pendidikan Kyai Haji Ahmad Dahlan, serta gagasan pelayanan sosial Kyai Syuja’ merupakan bagian dari sejarah yang dapat menjadi inspirasi.

Dakwah Muhammadiyah dari masa ke masa pada akhirnya mengajarkan bahwa perubahan besar dapat berawal dari langkah sederhana. Menyapa dengan tulus, mencerdaskan masyarakat, memakmurkan masjid, dan membantu mereka yang membutuhkan merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan.

Sejarah telah memberikan teladan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana setiap generasi meneruskannya menjadi gerakan nyata di tengah masyarakat.

Muslim Millenial Training, Ahad, 30 Rabi’ul Akhir 1448/ 11 Okt 2026.

Pemateri :
Ustadz Drs. H. Akhid Widi Rahmanto

Dirangkum oleh:
Ibnu Arsjad el-Quthaghidiy
(Anggota MPKSDI PCM Kotagede)


Bagikan

Leave a Reply