Kiai Amir Selokraman, Perintis Muhammadiyah dan Pendidikan Islam di Kotagede

Bagikan

Oleh: Erwito Wibowo

- Advertisement -

Kotagede memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Islam dan gerakan pembaruan keagamaan di Yogyakarta. Di balik perjalanan tersebut, terdapat tokoh-tokoh yang meletakkan fondasi penting bagi pendidikan Islam dan gerakan Muhammadiyah. Salah satunya adalah Kiai Amir Selokraman, ulama yang turut merintis pendidikan Muhammadiyah serta menggagas berdirinya Masjid Perak Kotagede.

Jauh sebelum Muhammadiyah berkembang luas di Kotagede, Kiai Amir bersama KH. Masyhudi telah memikirkan pentingnya meningkatkan pengetahuan agama masyarakat. Sekitar tahun 1910, keduanya menggagas sebuah perkumpulan lokal bernama Syarikatul Mubtadi.

Artikel Lainnya
1 of 20

Perkumpulan ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi masyarakat yang dinilai belum memiliki pengetahuan agama yang memadai. Tidak sedikit orang menjalankan ajaran Islam tanpa bekal pemahaman yang cukup. Akibatnya, praktik keagamaan belum sepenuhnya didasarkan pada pengetahuan dan tuntunan agama yang benar.

Melalui Syarikatul Mubtadi, masyarakat memperoleh kesempatan untuk mempelajari dasar-dasar agama Islam. Gerakan ini menjadi ikhtiar awal untuk membangun pemahaman keagamaan yang lebih baik sekaligus menjawab tantangan perubahan zaman.

Secara harfiah, Syarikatul Mubtadi dimaknai sebagai Perkumpulan Utama. Organisasi ini belum mengenal struktur kepengurusan pengajar secara formal. Mereka yang memiliki pengetahuan agama lebih baik serta kemampuan mengajar secara alamiah tampil membimbing anggota lainnya.

Untuk mendukung kegiatan perkumpulan, dibentuk pula yayasan bernama Mardi Hartoko yang bertugas menghimpun dana.

Dari Syarikatul Mubtadi Menuju Muhammadiyah

Ketika KH. Ahmad Dahlan merintis Muhammadiyah di Kampung Kauman, Yogyakarta, pada 1912, gagasan pembaruan Islam mulai memperoleh wadah gerakan yang lebih luas. Dalam perkembangannya, masyarakat Kotagede juga mengenal Muhammadiyah, seiring tumbuhnya berbagai organisasi pergerakan pada masa kebangkitan nasional.

Sejumlah organisasi hadir dan berkembang di tengah masyarakat, antara lain Sarekat Islam, Budi Utomo, Taman Siswa, hingga Partai Komunis Indonesia. Di antara berbagai gerakan tersebut, Muhammadiyah mendapat tempat di hati sebagian masyarakat Kotagede.

Syarikatul Mubtadi kemudian meleburkan diri ke dalam gerakan Muhammadiyah karena memiliki kesamaan pandangan dalam upaya memajukan kehidupan umat Islam.

Peralihan ini menjadi bagian penting dalam sejarah pembaruan Islam di Kotagede. Gerakan yang semula berangkat dari perkumpulan lokal untuk memperkuat pengetahuan agama selanjutnya berkembang melalui persyarikatan yang memiliki jaringan dan bidang perjuangan lebih luas.

Perjalanan Keilmuan Kiai Amir

Kiai Amir memiliki nama kecil Samanhudi. Ia lahir sekitar 1892 di Desa Mlangsen, Kulon Progo. Ayahnya, Jalal Sayuthi, dikenal sebagai alim ulama yang pernah bermukim di Mekah selama kurang lebih sepuluh tahun. Di kota suci tersebut, Jalal Sayuthi menekuni ilmu agama sekaligus mengajar. Salah seorang muridnya ketika berada di Mekah adalah Ahmad Dahlan, yang kelak dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah.

Samanhudi muda tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan tradisi keilmuan Islam. Ia mulai mempelajari bahasa Arab dan dasar-dasar agama dari ayahnya. Ia kemudian memperoleh sertifikat hafalan Al-Qur’an dari KH. Munawwir di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Semangat belajarnya tidak berhenti di situ. Samanhudi melanjutkan pendalaman ilmu agama dengan mempelajari kitab-kitab Islam kepada Kiai Nawawi di Pasuruan, Jawa Timur. Ia juga mendalami ilmu nahwu atau tata bahasa Arab kepada Kiai Ibrahim di Nglirap, Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah.

Perjalanan keilmuannya berlanjut ke Jombang, Jawa Timur. Di sana, ia berguru kepada Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Kecerdasan dan kesungguhannya dalam belajar mendapat perhatian dari sang guru. Kiai Hasyim Asy’ari kemudian menyarankan agar Samanhudi melanjutkan pendalaman ilmu hadis, khususnya Sahih Bukhari, di Mekah.

Baca Juga :   PRM dan PRA Basen Gelar Mangayubagyo Jamaah Haji 1447 H

Berangkatlah Samanhudi menuju tanah suci melalui Singapura. Namun, perjalanan tersebut tidak berjalan mulus. Setibanya di Singapura, ia kehabisan uang untuk melanjutkan perjalanan. Ia pun bekerja selama beberapa bulan demi mengumpulkan biaya, sebelum akhirnya meneruskan perjalanan ke Mekah dan berguru kepada Kiai Mahfudz.

Setelah kembali dari Mekah, Samanhudi menggunakan nama Kiai Amir. Sebagaimana banyak ulama pada masa itu, ia juga menjalani kehidupan sebagai pedagang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Aktivitas perdagangan mempertemukannya dengan para saudagar Kotagede. Perkawinannya dengan cucu Haji Mukmin, seorang saudagar kaya dari Kotagede, semakin mempererat hubungannya dengan lingkungan masyarakat setempat. Ibu mertuanya, Nyai Chatijah binti H. Mukmin, turut membantu usaha perdagangannya.

Walaupun bukan berasal dari Kotagede, perkembangan kehidupan keluarga serta kegiatan sosial dan keagamaannya membuat Kiai Amir menjadi bagian dari masyarakat setempat. Ia kemudian tinggal di Kampung Selokraman.

Berkiprah dalam Perkembangan Islam

Pengabdian Kiai Amir tidak terbatas di Kotagede. Kiprahnya menjangkau Yogyakarta dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

Ia pernah menjadi tuan rumah konferensi ulama terkemuka di Yogyakarta sebelum berdirinya Majelis Tarjih Muhammadiyah pada 1927. Hasil konferensi tersebut diterbitkan dalam jurnal bernama Ummat Islam, dengan Kiai Amir sebagai ketua redaksi.

Dalam perkembangan berikutnya, Kiai Amir dipercaya menjadi salah seorang hakim di Mahkamah Islam Tinggi yang didirikan pemerintah kolonial Belanda di Surakarta untuk wilayah Jawa dan Madura. Pada masa pemerintahan Jepang, ia juga dipilih menjadi kepala Kantor Urusan Agama atau Shakuma untuk wilayah Kasultanan Yogyakarta.

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa Kiai Amir bukan hanya berperan dalam kehidupan keagamaan masyarakat Kotagede, melainkan juga terlibat dalam dinamika kelembagaan Islam pada zamannya.

Merintis Pendidikan Muhammadiyah di Kotagede

Di Kotagede, Kiai Amir dan KH. Masyhudi memiliki hubungan kekerabatan melalui trah Bani Mukmin. Keduanya menjadi tokoh yang berperan dalam mengembangkan gerakan Islam berkemajuan melalui Muhammadiyah.

Mereka turut merintis berdirinya sekolah Muhammadiyah di Kotagede. Ketika KH. Masyhudi menjabat sebagai Ketua Muhammadiyah Cabang Kotagede, Kiai Amir mengemban tugas sebagai kepala sekolah Muhammadiyah.

Peran tersebut menunjukkan bahwa perjuangan memajukan umat tidak hanya dilakukan melalui pengajian dan pembinaan keagamaan, tetapi juga lewat pendidikan yang terorganisasi.

Pada 1932, Kiai Amir bersama KH. Masyhudi menjadi wakil Cabang Muhammadiyah Kotagede yang menghadiri Kongres Muhammadiyah di Makassar. Kehadiran mereka menjadi bagian dari keterlibatan Muhammadiyah Kotagede dalam perkembangan persyarikatan di tingkat yang lebih luas.

Semangat pendidikan yang dirintis kedua tokoh tersebut terus menemukan bentuknya dalam perjalanan waktu. Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan agama sekaligus mampu menghadapi perkembangan masyarakat.

Masjid Perak, Warisan Perjuangan Umat

Masjid Perak Kotagede, masjid bersejarah yang menjadi bagian dari perkembangan dakwah Muhammadiyah di Kotagede.

Salah satu peninggalan penting dari kiprah Kiai Amir bersama tokoh-tokoh Muhammadiyah Kotagede adalah Masjid Perak di Kampung Trunojayan.

Pada 1937, Kiai Amir bersama KH. Masyhudi, H. Hisyam, dan H. Mudzakir menggagas pendirian masjid tersebut. Masjid Perak kemudian menjadi masjid kedua di Kotagede setelah Masjid Gedhe Mataram.

Gagasan mendirikan Masjid Perak tidak dapat dilepaskan dari perkembangan umat Islam di Kotagede. Seiring pertumbuhan Muhammadiyah, kebutuhan masyarakat terhadap tempat ibadah dan kegiatan dakwah juga semakin meningkat.

Masjid Gedhe Mataram memiliki bangunan yang luas, tetapi pengaturan kegiatan pada masa itu menghadapi sejumlah keterbatasan. Salah satunya berkaitan dengan penyampaian khotbah Jumat. Sebelum tersedia pengeras suara yang memadai, jamaah yang berada jauh dari mimbar kerap kesulitan mendengar materi khotbah.

Sekitar 1926–1927, Muhammadiyah Kotagede berupaya mengatasi persoalan tersebut dengan menempatkan mimbar khatib di bagian serambi agar suara khotbah lebih mudah didengar jamaah. Namun, gagasan itu tidak mendapat persetujuan dari pihak yang berwenang mengelola Masjid Gedhe Mataram.

Baca Juga :   Mutiara Nusantara Yang Terlupakan

Persoalan lainnya berkaitan dengan penyelenggaraan pengajian akbar. Pada masa itu, kegiatan semacam ini memerlukan izin dari pihak keraton. Proses perizinan dapat memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Ketentuan pemerintah kolonial mengenai rapat umum yang semakin ketat sejak 1937 turut menambah kesulitan penyelenggaraan kegiatan keagamaan.

Kondisi tersebut memperkuat kebutuhan akan masjid yang dapat digunakan masyarakat untuk beribadah, menyelenggarakan pengajian, dan mengembangkan dakwah secara lebih leluasa.

Pembangunan Masjid Perak berlangsung dengan semangat gotong royong. Prosesnya bahkan tidak diawali dengan pembentukan panitia pembangunan resmi yang rumit. Warga Kotagede bahu-membahu menyumbangkan apa yang mereka miliki demi terwujudnya rumah ibadah tersebut.

H. Hisyam dan H. Mudzakir, yang dikenal sebagai saudagar perak, menyumbangkan dana untuk pembebasan lahan serta penyediaan akses jalan di sisi utara. Warga yang tidak memiliki kemampuan finansial turut berkontribusi melalui tenaga dan keterampilan. Kaum perempuan juga berperan dalam menghimpun dana dengan berkeliling meminta dukungan masyarakat.

Kiai Amir menjadi salah satu penggagas utama pembangunan masjid tersebut dan kemudian dipercaya sebagai ketua pengurus Masjid Perak. Dua penghulu Masjid Gedhe Mataram turut masuk dalam kepengurusan.

Dukungan juga datang dari Kasultanan Yogyakarta melalui para abdi dalem yang menyumbangkan empat soko guru atau tiang utama masjid. Kayu jati untuk keempat tiang tersebut didatangkan dari Jatisrono, Klaten, Jawa Tengah.

Pembangunan Masjid Perak selesai pada 1939 dan penggunaannya diresmikan pada 1940. Mimbar khatib yang sebelumnya disiapkan untuk Masjid Gedhe Mataram kemudian digunakan di Masjid Perak. Dengan demikian, keberadaan mimbar tersebut mendahului berdirinya bangunan masjid yang kelak menjadi salah satu penanda sejarah Islam di Kotagede.

Masjid Perak bukan sekadar bangunan untuk melaksanakan ibadah. Sejarah pendiriannya mencerminkan kebutuhan umat, ikhtiar dakwah, dan kekuatan gotong royong masyarakat. Di dalamnya terdapat jejak perjuangan para tokoh yang berusaha menyediakan ruang bagi tumbuhnya kehidupan Islam yang lebih dinamis.

Warisan Kiai Amir bagi Generasi Berikutnya

Kiai Amir wafat pada 1948 dalam usia sekitar 56 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman Islam Kampung Boharen, Kotagede, di kawasan pemakaman keluarga Bani Mukmin.

Semangat keilmuannya juga diwariskan melalui keluarga. Di antara putranya terdapat Djakfar Amir, penulis buku-buku agama yang sejumlah karyanya digunakan sebagai bahan pegangan pelajaran agama Islam di tingkat sekolah dasar. Putranya yang lain, Wardan Amir, dikenal sebagai pengusaha peralatan drumband dan kulintang yang banyak diminati lembaga pendidikan.

Dalam bidang pendidikan, semangat yang dirintis Kiai Amir turut diteruskan melalui Yayasan Ma’had Islamy. Yayasan ini mengembangkan amal usaha di bidang pendidikan keagamaan dan umum, antara lain TK Ma’had Islamy, Madrasah Ibtidaiyah Ma’had Islamy, Madrasah Tsanawiyah Ma’had Islamy, serta Pondok Pesantren Fauzul Muslimin.

Perjalanan Kiai Amir Selokraman memberikan gambaran bahwa kemajuan umat dibangun melalui proses panjang. Pendidikan, pembinaan pemahaman agama, penguatan organisasi, dan penyediaan sarana ibadah menjadi bagian yang saling berkaitan.

Dari Syarikatul Mubtadi hingga keterlibatannya dalam Muhammadiyah, dari perintisan sekolah hingga pendirian Masjid Perak, Kiai Amir menunjukkan bahwa dakwah tidak berhenti pada penyampaian ajaran. Dakwah juga diwujudkan melalui kerja nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Warisan perjuangannya menjadi bagian penting dari sejarah Muhammadiyah Kotagede. Bagi generasi sekarang, kisah tersebut mengingatkan bahwa merawat persyarikatan berarti melanjutkan semangat para perintis: memperkuat ilmu, memajukan pendidikan, membangun kebersamaan, dan menghadirkan Islam yang membawa kemaslahatan bagi umat.

Sumber: TokohMu, program inventarisasi tokoh wilayah PRM AAU Kotagede oleh Majelis Seni dan Budaya PRM AAU Kotagede. Tulisan Erwito Wibowo pernah dimuat dalam rubrik Wawasan Kotagede, majalah Qolami terbitan SMP Muhammadiyah 7 Kotagede, tahun ke-5, Oktober 2011.


Bagikan

Leave a Reply