
Jalan-Jalan Sejarah Muhammadiyah Kotagede, Menyusuri Jejak Persyarikatan dari Masa ke Masa
Kotagede kembali menjadi ruang belajar sejarah dengan cara yang berbeda. Ahad, 6 September 2026, sebanyak sekitar 35 peserta mengikuti kegiatan Jalan-Jalan Sejarah Muhammadiyah Kotagede yang dimulai sejak pukul 06.00 WIB.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Geruduk Cabang yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) dan Pimpinan Daerah Nasyiatul โAisyiyah (PDNA) Kota Yogyakarta.
Jalan-Jalan Sejarah Muhammadiyah Kotagede dilaksanakan melalui kerja sama Pemuda Muhammadiyah (PM) Kotagede, Nasyiatul โAisyiyah (NA) Kotagede, serta Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PCM Kotagede.
Tidak sekadar berjalan kaki, kegiatan ini mengajak peserta mengenal kembali sejumlah tempat yang memiliki cerita penting dalam perjalanan sejarah Muhammadiyah di Kotagede.
Menyusuri Jejak Sejarah Muhammadiyah di Kotagede
Peserta memulai perjalanan dari Mushola โAisyiyah Kotagede yang sekaligus menjadi titik start dan finish.
Dari tempat tersebut, peserta kemudian menyusuri sejumlah titik sejarah yang telah ditentukan. Rute dibuat agar peserta dapat menikmati suasana Kotagede sekaligus mendapatkan cerita dan pengetahuan mengenai berbagai situs yang berkaitan dengan perjalanan sejarah masyarakat dan Muhammadiyah.
Adapun rute Jalan-Jalan Sejarah Muhammadiyah Kotagede meliputi:
- Start-Finish: Mushola โAisyiyah Kotagede
- Titik Poin 1: Langgar Duwur
- Titik Poin 2: Ropingen
- Titik Poin 3: Masjid Gedhe Mataram
- Titik Poin 4: Masjid Perak
- Titik Poin 5: Pendopo Sopingen

Setiap titik bukan sekadar tempat untuk disinggahi. Di balik bangunan dan lingkungan yang dilewati, tersimpan cerita tentang perjalanan masyarakat Kotagede, perkembangan Islam, tradisi keagamaan, hingga dinamika gerakan Muhammadiyah.
Karena itu, berjalan kaki menjadi cara yang menarik untuk kembali melihat Kotagede. Jalan yang sehari-hari mungkin dilewati begitu saja, pada kegiatan ini berubah menjadi ruang untuk belajar dan mengingat kembali sejarah.
Geruduk Cabang dengan Konsep Wisata Sejarah
Ketua PM Kotagede, Wikan Aji, mengatakan bahwa pelaksanaan Geruduk Cabang kali ini memiliki konsep yang berbeda dari kegiatan sebelumnya.
Menurutnya, kegiatan tidak hanya berfokus pada agenda sosial berupa pemberian santunan, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata sejarah dengan mengunjungi sejumlah situs penting perkembangan Muhammadiyah.
โGruduk Cabang yang diselenggarakan oleh PDPM dan PDNA Kota Yogyakarta berbeda dari biasanya. Acara ini tidak hanya fokus pada pemberian santunan, melainkan juga menonjolkan wisata sejarah dengan mengunjungi berbagai situs krusial perkembangan Muhammadiyah,โ ungkap Wikan.
Peserta diajak menyusuri rute edukatif mulai dari Langgar Duwur, Ropingen, hingga Masjid Perak. Setiap tempat menjadi bagian dari perjalanan untuk memahami sejarah yang tumbuh dan berkembang di Kotagede.
Wikan berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan sehingga menjadi salah satu ikon wisata lokal berbasis sejarah.
โHarapannya kegiatan ini dapat menjadi ikon wisata lokal sejarah yang mampu memperkuat ekonomi kreatif masyarakat Kotagede,โ lanjutnya.
Sejarah Bukan Hanya untuk Diingat
Kegiatan Jalan-Jalan Sejarah Muhammadiyah Kotagede memberikan pesan sederhana bahwa sejarah tidak harus selalu dipelajari melalui buku atau ruang kelas.
Sejarah juga dapat ditemukan di jalan-jalan kampung, masjid, langgar, pendopo, serta berbagai bangunan yang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hingga hari ini.
Bagi generasi muda Muhammadiyah, mengenal sejarah lingkungan sendiri menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana sebuah gerakan dapat tumbuh dan bertahan di tengah masyarakat.
Kotagede memiliki kekayaan sejarah yang sangat besar. Karena itu, merawat ingatan tentang sejarah sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda merupakan pekerjaan bersama.
Melalui kolaborasi PM Kotagede, NA Kotagede, dan Majelis Pustaka dan Informasi PCM Kotagede, Jalan-Jalan Sejarah Muhammadiyah Kotagede diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan satu hari.
Lebih jauh, kegiatan ini dapat menjadi awal dari upaya untuk menghidupkan kembali sejarah sebagai bagian dari wisata, pendidikan, dakwah, dan penguatan identitas masyarakat Kotagede.
Sebab, ketika kita berjalan menyusuri sebuah kawasan, sesungguhnya kita tidak hanya sedang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kita sedang berjalan menyusuri cerita yang pernah hidup di dalamnya.
