
Dari Kader Muda Hingga Pemanfaatan Wakaf, Begini Cara PCM Kotagede Menjaga Gerakan Tetap Hidup
Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kotagede Yogyakarta tidak tumbuh dalam waktu singkat. Ada perjalanan panjang, warisan dakwah, wakaf, amal usaha, hingga kaderisasi yang membuat gerakan Muhammadiyah di kawasan ini tetap hidup dan berkembang hingga sekarang.
Dalam dokumen profil PCM Kotagede sebagai cabang unggulan, setidaknya terdapat lima aspek yang menjadi kekuatan utama, yakni keunggulan sosio-kultural, gerakan jamaah dakwah jamaah, pemberdayaan wakaf, amal usaha, serta pemberdayaan kader dan angkatan muda muhammadiyah. Kekuatan tersebut bukan berdiri sendiri. Semuanya tumbuh dari perjalanan sejarah panjang Muhammadiyah di Kotagede.
Dari Syarikatul Mubtadi hingga Muhammadiyah
Jauh sebelum Muhammadiyah berkembang di Kotagede, pada 1910 telah muncul gerakan Islam bernama Syarikatul Mubtadi (Perkumpulan Utama). Gerakan yang didirikan Kiai Amir dan Kiai Masyhudi tersebut bergerak dalam bidang pendidikan masyarakat agar dapat menjalankan Islam dengan benar.
Ketika KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 1912, para tokoh Syarikatul Mubtadi melihat adanya keselarasan semangat dakwah. Empat tahun kemudian, pada 1916, Syarikatul Mubtadi melebur ke Muhammadiyah.
Kiai Masyhudi dan Kiai Amir kemudian dipercaya memimpin Muhammadiyah di Kotagede. Meski belum diketahui secara pasti kapan PCM Kotagede didirikan, pada 1923 keduanya telah mewakili PCM Kotagede dalam Kongres Nasional Muhammadiyah di Makassar. Saat itu, PCM Kotagede dilaporkan telah memiliki sekolah dasar empat tahun dan pengajian rutin bagi warga Muhammadiyah di Kotagede dan sekitarnya.
Sejak masa awal tersebut, semangat mengembangkan Muhammadiyah terus diwariskan. Para tokoh pendahulu, yang sebagian merupakan saudagar perak dan pedagang besar Kotagede, turut mewakafkan sebagian tanah mereka untuk kepentingan dakwah dan amal usaha Muhammadiyah. Warisan itulah yang kemudian diteruskan generasi demi generasi.
Muhammadiyah dan Wajah Sosial Budaya Kotagede
Kotagede merupakan kawasan tua yang menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-16. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kehidupan umat Islam di Kotagede masih dipengaruhi budaya animisme dan dinamisme.
Muhammadiyah hadir membawa nuansa baru.
Menariknya, perkembangan Muhammadiyah di Kotagede berlangsung dengan pendekatan yang disebut dalam dokumen sebagai penuh kearifan, kebijaksanaan, dan keuletan. Perubahan masyarakat Islam Kejawen menuju masyarakat Islam Muhammadiyah berlangsung tanpa gejolak atau pertentangan.
Perjalanan tersebut kemudian menarik perhatian Mitsuo Nakamura, peneliti etnografi dari Jepang. Ia melakukan penelitian mengenai perkembangan Muhammadiyah di Kotagede pada 1970โ1972.
Disertasinya tentang Muhammadiyah di Kotagede periode 1910โ1970 diterima Cornell University pada 1976 dan kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Bulan Sabit Terbit Dari Balik Pohon Beringin oleh Gadjah Mada University Press pada 1983. Nakamura kemudian melanjutkan penelitian untuk periode 1970โ2010 yang diterbitkan oleh ISEAS Singapura pada 2012.

Salah satu kesimpulan menarik Nakamura adalah bahwa Muhammadiyah di Kotagede tampak agresif dan fanatik, tetapi cara dakwahnya sesungguhnya berlangsung secara bertahap dan toleran. Bahkan, Muhammadiyah yang tampak anti-Jawa justru dalam banyak hal mewujudkan kebajikan-kebajikan Jawa.
Hari ini, Muhammadiyah telah menjadi bagian dari sosio-kultural masyarakat Kotagede. Praktik keagamaan dan kegiatan sosial kemasyarakatan banyak mencerminkan ajaran Muhammadiyah. Bahkan muncul anekdot yang cukup populer: โWong Kotagede yo wong Muhammadiyah.โ
Menghidupkan Dakwah dari Masjid dan Ranting
Kekuatan berikutnya adalah Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah.
Konsep ini diarahkan agar berbagai program, keputusan organisasi, termasuk fatwa dan putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah, dapat tersampaikan hingga tingkat jamaah dan anggota di masjid serta ranting-ranting Muhammadiyah.
Di Kotagede, gerakan tersebut salah satunya dilakukan dengan mendorong Pimpinan Ranting Muhammadiyah membentuk jaringan jamaah melalui Bopo Jamaah berbasis masjid dan mushala. Bopo Jamaah bertugas mengoordinasikan serta menyelenggarakan majelis taklim secara rutin dan berkala.
Hasilnya cukup nyata.
Dokumen PCM Kotagede mencatat terdapat lebih dari 15 tempat yang menyelenggarakan majelis taklim dan kajian Islam secara rutin. Waktunya beragam, mulai pukul 05.00โ06.30 pagi, setelah Magrib, hingga setelah Isya.
Artinya, dakwah tidak berhenti di gedung organisasi. Ia bergerak ke masjid, mushala, kampung, dan ruang kehidupan sehari-hari masyarakat. Gerakan jamaah juga dikembangkan untuk bidang ekonomi. Salah satunya melalui pengadaan hewan untuk kebutuhan kurban yang melibatkan AMM, PRM, maupun jamaah.
Wakaf yang Tidak Berhenti Menjadi Tanah
Salah satu kekuatan paling menonjol dari PCM Kotagede adalah pemberdayaan tanah wakaf.
Data hingga 2024 mencatat terdapat 185 sertifikat wakaf dan hak milik yang dikelola PCM Kotagede dengan luas keseluruhan mencapai 82.016 meter persegi. Dalam dokumen tersebut, PCM Kotagede disebut sebagai salah satu cabang yang terbanyak dan terluas dalam pengelolaan tanah wakaf.
Yang menarik, wakaf tersebut tidak berhenti sebagai aset pasif.
Tanah wakaf digunakan untuk berbagai kebutuhan: masjid dan mushala, pendidikan, kesehatan, kegiatan ekonomi, serta kegiatan sosial lainnya. Dari keseluruhan aset tersebut, bidang pendidikan menjadi pengguna terbesar dengan luas 44.497 meter persegi. Nilai keseluruhan aset yang tercatat dalam dokumen mencapai sekitar Rp582,44 miliar.
Di sinilah wakaf menemukan makna pemberdayaannya.
Tanah yang dahulu diwakafkan oleh para pendahulu kemudian tumbuh menjadi sekolah, fasilitas kesehatan, pusat kegiatan sosial, hingga sarana ekonomi yang terus memberi manfaat bagi masyarakat.
Pendidikan Menjadi Kekuatan Utama
Amal usaha pendidikan menjadi salah satu wajah penting PCM Kotagede.
Di bidang pendidikan, PCM Kotagede mengelola tiga SD Muhammadiyah yang secara keseluruhan menempati lahan sekitar 9.462 meter persegi. Salah satunya adalah SD Muhammadiyah Kleco yang memiliki sejarah panjang sejak dekade 1920-an. Saat ini sekolah tersebut tercatat memiliki lebih dari 586 siswa.
Ada pula SD Muhammadiyah Bodon, yang berdiri pada Mei 1924. Sekolah ini kini memiliki 17 rombel dengan 425 siswa dan sedang merintis Boarding Class di tanah wakaf Karangduren.
Sementara SD Muhammadiyah Purbayan, yang berdiri pada 22 April 1976, kini memiliki 15 rombel dengan 336 siswa.
Pada jenjang menengah terdapat SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta atau yang dikenal dengan Moetoe Junior. Sekolah ini berdiri sejak 1 Agustus 1965 dan kini memiliki 14 rombel dengan 363 siswa di atas lahan 7.747 meter persegi.
Ada pula SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta yang berdiri pada 2 Januari 1978. Sekolah yang berada di kompleks Masjid Perak ini menempati lahan 3.016 meter persegi dan memiliki 237 siswa.
Sementara SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta berdiri sejak 1969 dan berkembang di bidang teknologi dan rekayasa, teknologi komunikasi dan informatika, serta kesehatan. Sekolah ini memiliki tujuh program keahlian dan tercatat memiliki lebih dari 1.076 siswa di atas lahan wakaf seluas 14.306 meter persegi.
PCM Kotagede juga memanfaatkan tanah wakaf untuk tiga unit pondok pesantren atau rumah tahfidz, yakni Pondok Al Amin, Pondok Ibnu Juraimi IV Putra, dan Pondok Ibnu Juraimi IV Putri.
Dari Pelayanan Kesehatan hingga Penguatan Ekonomi
Kiprah PCM Kotagede tidak hanya berada di bidang pendidikan.
Pelayanan kesehatan Persyarikatan Muhammadiyah Kotagede telah dimulai sejak 1928 di kawasan timur Pasar Kotagede. Perkembangannya kemudian melahirkan RSKIA PKU Muhammadiyah Kotagede yang berdiri di atas tanah wakaf dan memperoleh izin tetap sebagai Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak pada 31 Mei 2007.
RSKIA tersebut memiliki 48 tempat tidur untuk pelayanan ibu bersalin, pasien dewasa wanita, anak, dan bayi. PCM Kotagede juga sedang berusaha mengembangkan status RSKIA menjadi rumah sakit umum.
Di bidang ekonomi, semangat yang dibangun bukan sekadar mencari keuntungan organisasi. Pengembangan ekonomi diarahkan untuk membantu masyarakat agar tidak terjerat pinjaman online maupun rentenir sekaligus memberdayakan ekonomi umat.
Salah satunya adalah KSPPS BTM An Nikmah Surya Kotagede, yang berawal dari BMT An Niโmah pada 1997. Lembaga tersebut lahir dari keprihatinan terhadap maraknya rentenir di sekitar Pasar Kotagede dan diharapkan menjadi salah satu pilar ekonomi masyarakat.
Wakaf Menghidupkan Ekonomi Ranting
Menariknya, pemberdayaan wakaf juga diturunkan hingga tingkat ranting.
Sebagian tanah wakaf diserahkan pengelolaannya kepada Pimpinan Ranting Muhammadiyah untuk digunakan sebagai gedung pertemuan, kegiatan dakwah dan sosial, sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.
PRM Prenggan, misalnya, mengembangkan KSPPS BTM Kotagede. Lembaga yang berdiri pada 2009 tersebut berawal dari modal Rp46 juta dan kini berkembang dengan aset sekitar Rp5 miliar serta sekitar 800 anggota.
PRM Jagalan mengembangkan PUSAKA Urban Farming dengan memanfaatkan tanah wakaf untuk budidaya ikan lele dan domba.
Sementara PRM Basen memanfaatkan tanah wakaf di Kampung Kembang untuk membangun sembilan kamar kos. Dengan tarif sewa Rp500 ribu per bulan, pengelolaan tersebut rata-rata menghasilkan sekitar Rp63 juta per tahun untuk kegiatan dakwah.
Di PRM Alun-alun Utara, tanah wakaf seluas 1.000 meter persegi sebagian dimanfaatkan untuk membangun 10 garasi mobil. Dengan sewa Rp3 juta per tahun per garasi, kegiatan tersebut menghasilkan sekitar Rp30 juta per tahun untuk mendukung dakwah.
Model seperti ini menunjukkan bahwa wakaf dapat dikelola secara produktif. Hasilnya kemudian kembali untuk menghidupkan dakwah dan pelayanan masyarakat.
Kader Muda Menjadi Penjaga Masa Depan
Kekuatan berikutnya adalah kaderisasi.
Di Kotagede, seluruh pimpinan cabang organisasi otonom Angkatan Muda Muhammadiyah tercatat memiliki kepengurusan yang telah mendapatkan SK dan aktif dalam kegiatan. Mereka meliputi Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Tapak Suci, dan Hizbul Wathan.
Aktivitas kader muda juga hadir dalam berbagai kegiatan, mulai dari Musycab, Pawai Takbir, kompetisi sepak bola antar ranting melalui PMKG Cup, hingga aktivitas Tapak Suci dan Hizbul Wathan.
Salah satu kekuatan lain adalah keberadaan KOKAM Kotagede. Dokumen mencatat KOKAM Kotagede telah aktif sejak didirikan pada 1965. Hingga kini terdapat 150 anggota KOKAM dari berbagai generasi.
Regenerasi dengan demikian tidak hanya berbicara tentang pergantian pengurus. Ia juga menyangkut bagaimana generasi muda mendapatkan ruang untuk belajar, bergerak, melayani, dan meneruskan amanah Persyarikatan.
Kotagede dan Sebuah Warisan yang Terus Bergerak
Melihat perjalanan tersebut, keunggulan PCM Kotagede sesungguhnya tidak hanya dapat diukur dari banyaknya amal usaha, luas tanah wakaf, jumlah jamaah, atau jumlah kader.
Ada sesuatu yang lebih penting: kemampuan menjaga warisan sekaligus menggerakkannya sesuai kebutuhan zaman.
Dari gerakan pendidikan pada awal abad ke-20, dakwah berbasis masjid dan ranting, pengelolaan wakaf produktif, sekolah, rumah sakit, lembaga ekonomi, hingga kader muda yang terus bergerak, semuanya memperlihatkan satu pola yang sama: gerakan harus hadir dan memberi manfaat nyata.
Tanah wakaf tidak sekadar menjadi aset. Masjid bukan sekadar bangunan. Sekolah bukan hanya tempat belajar. Ranting bukan hanya struktur organisasi dan kader muda bukan sekadar pelengkap kepengurusan.
Semuanya menjadi bagian dari ekosistem gerakan.
Inilah yang membuat Muhammadiyah begitu lekat dengan kehidupan masyarakat Kotagede. Sebuah gerakan yang telah tumbuh lebih dari satu abad, tetapi terus mencari cara untuk tetap relevan. Dari Kotagede, kita belajar bahwa gerakan yang kuat bukan hanya gerakan yang memiliki sejarah panjang, tetapi gerakan yang mampu mewariskan nilai, mengelola aset, membangun jamaah, dan menyiapkan generasi penerus.
