
Pengajian Pimpinan PCM Kotagede Bahas Kesehatan Mental Remaja dan Keluarga
KOTAGEDE โ Persoalan kesehatan mental remaja dan keluarga menjadi perhatian dalam Pengajian Pimpinan yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kotagede, Jumat, 4 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Nurul Iman, Purbayan, Kotagede, menghadirkan Prof. Dr. Dody Hartanto, M.Pd., Guru Besar Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan.
Pengajian yang diikuti unsur pimpinan PCM, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), organisasi otonom (Ortom), serta Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Kotagede tersebut mengangkat tema โMembaca Masalah Kesehatan Mental Remaja dan Keluargaโ.
Tema tersebut terasa dekat dengan kehidupan masyarakat. Sebab, persoalan kesehatan mental tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Kecemasan, kesepian, tekanan hidup, konflik keluarga, hingga kehilangan makna hidup dapat berlangsung dalam diam dan sering kali tidak segera mendapatkan perhatian.
Kesehatan Mental Remaja Bukan Sekadar Tren
Dalam materi pengajiannya, Prof. Dody mengajak peserta melihat persoalan kesehatan mental berdasarkan data. Survei kesehatan jiwa remaja nasional I-NAMHS 2022 mencatat 34,9 persen atau sekitar 15,5 juta remaja Indonesia usia 10โ17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
Sementara itu, sekitar 5,5 persen atau 2,45 juta remaja tercatat mengalami gangguan mental berdasarkan kriteria DSM-5 dalam periode yang sama. Survei tersebut melibatkan 5.664 pasangan remaja usia 10โ17 tahun dan pengasuhnya di seluruh Indonesia.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental remaja bukan sekadar isu yang sedang ramai dibicarakan. Ada persoalan nyata yang perlu dipahami bersama, termasuk oleh keluarga dan lingkungan sosial tempat remaja tumbuh.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru. Remaja hidup dalam dunia yang serba terhubung, tetapi pada saat yang sama dapat mengalami kesepian, tekanan untuk mendapatkan pengakuan di media sosial, gangguan tidur, kecemasan, hingga menurunnya rasa percaya diri.
Karena itu, persoalan kesehatan mental tidak cukup diselesaikan dengan meminta seseorang untuk โlebih kuatโ. Dibutuhkan ruang yang aman untuk bercerita, keluarga yang mau mendengar, serta lingkungan yang mampu memberikan dukungan.
Pinjol, Judol, dan Gaya Hidup Konsumtif
Salah satu bagian menarik dalam materi pengajian adalah pembahasan mengenai fenomena pinjaman online (pinjol), judi online (judol), dan perilaku belanja kompulsif.
Ketiganya dapat menjadi persoalan yang saling berkaitan. Tekanan emosional, kesepian, kebutuhan akan pelarian instan, serta kemudahan teknologi dapat membuat seseorang semakin sulit mengendalikan diri.
Pinjol dapat menimbulkan tekanan akibat utang dan tagihan. Judi online menawarkan harapan mendapatkan keuntungan secara cepat, sementara perilaku belanja impulsif dapat memberikan kepuasan sesaat tetapi berujung pada penyesalan dan persoalan keuangan.
Materi pengajian mengajak jamaah untuk tidak hanya melihat persoalan tersebut sebagai masalah ekonomi, tetapi juga memahami akar psikologis dan spiritualnya.
Literasi digital dan literasi keuangan menjadi penting. Namun, keduanya juga perlu berjalan bersama dengan kemampuan mengelola emosi, penguatan iman, serta keberanian untuk mencari bantuan ketika seseorang mulai kesulitan mengendalikan perilakunya.
Islam Memandang Manusia Secara Utuh
Prof. Dody juga mengajak peserta melihat kesehatan manusia dari perspektif Islam. Manusia tidak hanya dipandang sebagai jasad yang membutuhkan kesehatan fisik, tetapi juga memiliki akal, qalb, nafs, dan ruh.
Kesehatan yang utuh berarti menjaga berbagai dimensi tersebut secara seimbang.
Dalam perspektif ini, kesehatan jiwa tidak berhenti pada tidak adanya gangguan psikologis. Ada dimensi spiritual yang juga perlu diperhatikan. Hati yang bersih, kemampuan mengendalikan hawa nafsu, ketenangan dalam mengingat Allah, serta hubungan yang baik dengan sesama menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Materi tersebut kemudian mengajak peserta mengenal perjalanan tazkiyatun nafs, atau penyucian jiwa. Salah satu tahapannya adalah berusaha meninggalkan sifat dan akhlak tercela, kemudian menghiasi diri dengan kesabaran, syukur, kejujuran, tawakal, muhasabah, dzikrullah, dan penghambaan kepada Allah.
Dalam materi juga disampaikan sejumlah rujukan mengenai kesehatan jiwa, termasuk kajian tentang religious coping dan dzikir dalam menghadapi kecemasan. Daftar referensi pengajian mencakup I-NAMHS, WHO, UNICEF, kajian pendidikan jiwa dalam perspektif Ibn Qayyim al-Jauziyyah, serta sejumlah penelitian mengenai religious coping dan dzikir.
Keluarga Menjadi Madrasah Pertama
Pembahasan kemudian diarahkan kepada keluarga. Keluarga memiliki posisi penting dalam membentuk kesehatan jiwa anak dan remaja. Rumah semestinya menjadi tempat pertama bagi anak untuk merasakan aman, dicintai, didengar, dan dihargai. Ketika komunikasi dalam keluarga memburuk atau konflik berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat dirasakan oleh anak dalam jangka panjang.
Karena itu, membangun keluarga yang sehat tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan materi. Keluarga juga membutuhkan komunikasi terbuka, keteladanan, perhatian, dan pendampingan.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan. Orang tua dapat menyediakan waktu untuk berbicara tanpa menghakimi, memberikan teladan dalam mengelola emosi, mendampingi anak dalam menggunakan gawai, serta membangun kebiasaan ibadah bersama di rumah.
Dan yang tidak kalah penting, keluarga tidak perlu merasa malu untuk mencari bantuan profesional ketika menghadapi persoalan kesehatan mental. Meminta bantuan konselor atau psikolog bukan tanda kelemahan. Justru hal tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menyelesaikan persoalan dengan cara yang tepat.
Muhammadiyah Perlu Menjadi Ruang Aman
Materi pengajian juga membawa pembahasan tersebut ke dalam konteks gerakan Muhammadiyah di Kotagede. PCM, PRM, Ortom, dan AUM tidak hanya memiliki tugas dalam penguatan dakwah dan pendidikan, tetapi juga dapat mengambil peran dalam menciptakan lingkungan yang sehat secara sosial dan psikologis.
Beberapa langkah yang dapat dikembangkan antara lain menghadirkan layanan konseling berbasis masjid, menyediakan ruang aman bagi remaja melalui kegiatan Ortom, memperkuat pembinaan keluarga sakinah, meningkatkan literasi digital bagi orang tua, serta menyiapkan jalur rujukan yang jelas bagi jamaah yang membutuhkan bantuan profesional.
Ruang-ruang tersebut penting karena tidak semua orang mampu menceritakan persoalannya secara langsung kepada keluarga. Kadang seseorang justru lebih dahulu membutuhkan lingkungan yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Di sinilah dakwah Muhammadiyah dapat hadir secara lebih dekat dengan persoalan kehidupan masyarakat.
Dari Pengajian Menuju Gerakan Nyata
Pengajian Pimpinan PCM Kotagede ini pada akhirnya tidak berhenti pada pembahasan mengenai masalah kesehatan mental. Ada pesan yang lebih besar: persoalan jiwa membutuhkan perhatian bersama.
Keluarga perlu hadir. Lingkungan perlu peduli. Organisasi juga perlu membuka ruang. Dan ketika persoalan membutuhkan penanganan lebih lanjut, bantuan profesional harus menjadi bagian dari ikhtiar.
Kesehatan mental remaja dan keluarga adalah persoalan nyata yang membutuhkan perhatian serius. Islam memberikan pandangan yang utuh tentang manusia, sementara Muhammadiyah memiliki ruang gerakan yang luas untuk menerjemahkan nilai tersebut menjadi aksi nyata.
Jiwa yang sehat akan melahirkan keluarga yang kokoh. Keluarga yang kokoh akan menjadi fondasi bagi umat yang kuat.
Semangat itulah yang diharapkan tidak berhenti di ruang pengajian, tetapi dapat tumbuh menjadi gerakan bersama di lingkungan PCM, PRM, Ortom, dan AUM se-Kotagede.
