UNY dan KWT ‘Aisyiyah Berkah Lumintu Gelar Pelatihan Diversifikasi Olahan Labu Madu di Kotagede

Bagikan

Yogyakarta – Program Studi Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bekerja sama dengan Kelompok Wanita Tani ‘Aisyiyah Berkah Lumintu (KWT ABL) Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Prenggan, Kotagede, Yogyakarta mengadakan pelatihan pangan dalam rangka program Pengabdian kepada Masyarakat. Kegiatan ini mengusung tema “Diversifikasi Produk Olahan Labu Madu sebagai Upaya Peningkatan Nilai Tambah dan Kemandirian KWT ABL”.

- Advertisement -

Pelatihan dilaksanakan pada Ahad, 10 Mei 2026 bertempat di kawasan kebun KWT ABL, Jalan Mondorakan, Kotagede, Yogyakarta. Kegiatan ini berfokus pada inovasi pemanfaatan labu madu untuk diolah menjadi berbagai produk pangan, baik kue basah maupun kue kering. Seluruh anggota KWT ABL turut mengikuti pelatihan dengan penuh antusias.

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini yakni Prof. Kokom Komariah, M.Pd., Luthfi Riyadh Rahman, M.Pd., dan Dr. Novi Trilisiana, S.Pd., M.Pd., yang merupakan dosen dari Program Studi Pendidikan Tata Boga UNY. Turut mendampingi pula dua anggota tim pengabdi, yaitu Amri Irkhan Fathullah dan Lia Agustin Dian Lestari yang merupakan mahasiswa Pendidikan Tata Boga UNY.

Artikel Lainnya
1 of 102

Dorong Kemandirian Melalui Inovasi Produk

Pembina KWT ABL, Dr. Siti Hamidah, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kerja sama ini sangat penting untuk mendukung perkembangan KWT ABL. Menurutnya, salah satu tujuan dibentuknya KWT ABL adalah menghidupkan kembali lahan kosong di perkotaan sebagai bagian dari Gerakan Lumbung Pangan ‘Aisyiyah.

Baca Juga :   Rapat Kerja : PRM & PRA Jagalan Bergerak, Mencerahkan Jagalan Berkemajuan

“Supaya KWT ABL berkembang, dibutuhkan inovasi. Labu madu menjadi salah satu hasil kebun yang sudah menjadi ikon dan perlu terus dikembangkan,” ujarnya.

Hamidah berharap pelatihan ini dapat memberikan wawasan mengenai teknik, strategi, dan faktor-faktor penting dalam proses produksi kue berbahan dasar labu madu. Dengan adanya inovasi produk, diharapkan pasar produk KWT ABL semakin luas sehingga hasil penjualannya dapat menopang biaya operasional kelompok secara mandiri.

Ia juga menyampaikan bahwa labu madu kini telah ditanam secara mandiri oleh sebagian warga ‘Aisyiyah sehingga mampu mendukung ketersediaan bahan baku. Selain itu, resep yang dipraktikkan dalam pelatihan ini telah menjadi hak paten KWT ABL.

“Jika ada peserta yang ingin mengembangkan produk ini secara mandiri, harus seizin KWT ABL,” tuturnya.

Labu Madu sebagai Ikon dan Potensi Pangan Masa Depan

Dalam sambutannya, Prof. Kokom Komariah, M.Pd. menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk ajakan kepada KWT ABL untuk berkembang bersama melalui berbagi ilmu dan pengalaman.

“Selain menularkan ilmu, kegiatan ini juga menjadi wujud misi untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama,” ungkapnya.

Menurut Kokom, salah satu ciri khas KWT ABL adalah labu madu yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Labu madu dikenal memiliki daya simpan yang lama ketika masih dalam kondisi utuh.

“Diversifikasi olahan labu madu sebaiknya tidak hanya dikukus, tetapi perlu diinovasikan menjadi produk lain yang lebih menarik dan bernilai jual,” jelasnya.

Ia berharap inovasi ini dapat menjadi langkah awal agar produk khas KWT ABL mampu dikenal lebih luas hingga menjadi ikon “Kotagede untuk Dunia”.

Kaya Nutrisi dan Baik untuk Kesehatan

Dalam pemaparan materi, Prof. Kokom menjelaskan bahwa labu madu merupakan bahan pangan dengan kandungan gizi yang sangat baik. Labu madu kaya akan vitamin A dan beta karoten yang bermanfaat untuk kesehatan mata. Selain itu, kandungan serat, vitamin C, vitamin E, dan antioksidannya juga sangat tinggi.

Baca Juga :   Semangat Kartini di TK ABA Bodon Kotagede Lewat Pawai dan Fashion Show

Karena teksturnya lembut dan rasanya manis alami, labu madu juga cocok digunakan sebagai Makanan Pendamping ASI (MPASI) bagi bayi usia enam bulan ke atas. Manfaat lainnya antara lain membantu meningkatkan daya tahan tubuh, melawan kuman, dan mempercepat penyembuhan luka.

Kokom juga membagikan tips memilih labu madu berkualitas, yaitu dengan memperhatikan warna kulit dan berat buahnya. Sementara untuk proses memasak, ia menyarankan metode pengukusan selama 10–15 menit agar kandungan gizinya tetap terjaga.

“Mari kita kampanyekan pula labu madu untuk diet karena memberikan rasa kenyang lebih lama,” ujarnya.

Antusias Praktik Membuat Kue Olahan Labu Madu

Pada sesi praktik, peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok mempraktikkan satu resep berbeda, yaitu dua jenis kue basah berupa Lapis Labu Madu dan Puding Labu Madu dengan Vla Keju Creamy, serta satu jenis kue kering Chocochip Cookies Labu Madu.

Selama praktik berlangsung, setiap kelompok didampingi oleh tim pengabdi dan dosen pendamping. Amri dan Lia membantu proses persiapan bahan, pelaksanaan praktik, penataan produk (food styling), hingga penyajian hasil olahan agar terlihat menarik.

Suasana pelatihan berlangsung aktif dan partisipatif. Seluruh peserta tampak antusias mengerjakan tugas masing-masing hingga dalam waktu sekitar satu jam seluruh produk berhasil diselesaikan dengan hasil yang cantik dan lezat.

Melalui pelatihan ini, para peserta mendapatkan ilmu dan pengalaman baru yang sangat bermanfaat. Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dengan berbagai inovasi produk pangan lainnya di masa mendatang.


Bagikan

Leave a Reply