Jejak Keteladanan Abdul Kahar Mudzakkir: Agama, Ilmu, dan Pengabdian untuk Umat

Bagikan

Sepeninggal Abdul Kahar Mudzakkir pada tahun 1973, jejak perjuangan, pemikiran, dan keteladanan hidupnya tidak pernah benar-benar hilang ditelan zaman. Warisan nilai yang ia tanamkan justru terus tumbuh dan membekas dalam ingatan banyak orang, khususnya masyarakat Kotagede dan mereka yang pernah mengenal dekat sosoknya. Ia dikenang bukan hanya sebagai pendakwah dan pendidik, tetapi juga sebagai pribadi sederhana yang hidup membumi bersama masyarakat.

- Advertisement -

Dalam sebuah film dokumenter tentang Abdul Kahar Mudzakkir, budayawan sekaligus kemenakannya, Achmad Charris Zubair, menyampaikan bahwa esensi manusia sejatinya tercermin pada diri Kahar Mudzakkir.

“Melihat manusia itu adalah melihat Pak Kahar Mudzakkir.”

Artikel Lainnya
1 of 2

Ungkapan tersebut menggambarkan bagaimana kepribadian dan laku hidup Kahar Mudzakkir telah mencerminkan idealnya seorang manusia bersikap. Sepanjang hidupnya, ia mengabdikan diri untuk memperdalam agama dan ilmu pengetahuan sebagai bekal menebarkan kemaslahatan bagi umat.

Agama sebagai Fondasi Kehidupan

Semasa hidupnya, Kahar dikenal sebagai sosok religius yang teguh memegang ajaran Islam. Kesalehan dan konsistensinya dalam menjalankan agama bukan hadir secara instan, melainkan dibentuk sejak masa kecil melalui lingkungan keluarga yang kuat dalam nilai-nilai Islam.

Di tengah masyarakat Kotagede kala itu yang masih lekat dengan budaya sinkretisme dan kejawen, Kahar tumbuh dalam keluarga yang berpegang teguh pada ajaran Islam. Keluarganya bahkan memiliki peranan penting dalam perkembangan gerakan Muhammadiyah di Kotagede. Pamannya, Masyhudi, dikenal sebagai salah satu pendiri Muhammadiyah cabang Kotagede. Sementara ayahnya, Kyai Mudzakir, seorang guru agama di Masjid Gedhe Mataram, turut menjadi donatur pembangunan Masjid Perak milik Muhammadiyah.

Dalam film dokumenter tersebut, Trias Setiawati menyebut bahwa Kahar memang lahir dari keturunan orang-orang fakih dalam agama Islam.

Pendidikan agama pertama kali diperoleh Kahar dari lingkungan keluarga. Ia mulai belajar mengaji di pendapa rumah kakeknya hingga akhirnya nilai-nilai Islam tertanam kuat dalam dirinya. Nilai itu kemudian menjadi jati diri, integritas, dan pedoman moral yang ia pegang hingga akhir hayat.

Baca Juga :   Berlalu dan Teringat

Ilmu sebagai Jalan Pengabdian

Semangat keagamaan membawa Kahar menempuh perjalanan panjang dalam menuntut ilmu. Ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lain, mulai dari Pesantren Al Munawwir Krapyak, Pesantren Tremas, Pesantren Jamsaren, hingga Madrasah Mambaul Ulum.

Pengembaraan tersebut membentuk keluasan ilmunya dalam berbagai disiplin keislaman, mulai dari tafsir, hadis, fikih, akidah, akhlak, ushul fikih, nahwu, sharaf, hingga balaghah.

Meski tumbuh dalam lingkungan Muhammadiyah, Kahar tidak pernah menutup diri terhadap keberagaman pemikiran Islam. Ia justru memandang perbedaan mazhab dan tradisi sebagai ruang belajar untuk memahami Islam secara lebih luas dan bijaksana.

Hasratnya terhadap ilmu juga tidak berhenti di tanah air. Di usia muda, Kahar berangkat ke Mesir untuk memperluas wawasan keilmuan, baik agama maupun pengetahuan umum. Di sana ia membangun relasi dengan para ilmuwan dan tokoh intelektual dari berbagai negara.

Semua perjalanan panjang itu ia tempuh demi satu cita-cita besar: membangun pendidikan tinggi Islam yang berkualitas dan inklusif di Indonesia. Ia percaya bahwa kemajuan umat hanya dapat dicapai melalui pendidikan.

Sekembalinya ke tanah air, cita-cita itu perlahan diwujudkan. Hingga akhirnya, Kahar dikenal sebagai salah satu arsitek pendidikan Islam Indonesia yang berperan besar dalam pelopor lahirnya berbagai perguruan tinggi Islam di tanah air.

Kemaslahatan Umat sebagai Tujuan Hidup

Bagi Abdul Kahar Mudzakkir, agama dan ilmu bukan sekadar untuk kepentingan pribadi. Keduanya menjadi bekal utama dalam mengabdi kepada masyarakat.

Dalam film dokumenter tentang dirinya, Syukriyanto AR menyebut Kahar sebagai sosok manusia pilihan.

“Jalma pinilih rembesing madu. Ngayahi darmaning gesang.”

jelas Syukriyanto

Ungkapan Jawa tersebut berarti manusia terpilih yang hidupnya senantiasa mengalirkan kebaikan dan menjalankan tugas pengabdian kehidupan.

Sifat pengabdiannya tampak dalam kehidupan sehari-hari. Kahar dikenal ramah, terbuka, dan dekat dengan masyarakat. Rumahnya hampir selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin bersilaturahmi, berbagi cerita, atau meminta nasihat.

Dakwah baginya tidak mengenal ruang dan waktu. Bahkan saat bepergian menggunakan andong menuju kantor, ia tetap berdialog dan berbagi ilmu dengan sesama penumpang, yang kebanyakan adalah para pedagang perempuan dari Pasar Beringharjo.

Baca Juga :   PGT, Drumband, Marching Band, Kesenian Yang Berakar Kuat di Kotagede

Kesederhanaannya juga menjadi ciri khas yang melekat kuat. Ia lebih sering tampil dengan pakaian sederhana seperti kemeja tanpa dasi, sarung, dan peci. Kehidupannya jauh dari kemewahan, meskipun ia memiliki nama besar sebagai tokoh pendidikan nasional.

Sikap zuhud sangat terasa dalam dirinya. Dunia tidak ia jadikan tujuan, melainkan sarana untuk berbuat manfaat. Bahkan dalam berbagai kesempatan, ia rela mengorbankan kepentingan pribadi demi umat.

Dalam buku Dari Muhammadiyah Untuk Indonesia dikisahkan bahwa suatu hari seorang mahasiswa datang kepadanya karena gagal membayar uang kuliah akibat kecopetan. Mendengar hal itu, Kahar langsung memberikan uang pribadinya agar mahasiswa tersebut tetap bisa melanjutkan pendidikan.

“Saudara jadi masuk STI. Ini uang asrama dan uang kuliah.”

tutur Kahar, sebagaimana dikutip dari buku tersebut.

Pada masa awal perintisan Sekolah Tinggi Islam, lembaga tersebut juga pernah mengalami kesulitan ekonomi. Saat itu Kahar rela menjual hasil panen kelapanya demi membayar gaji para dosen.

Refleksi Keteladanan

Kisah hidup Abdul Kahar Mudzakkir menjadi refleksi penting bahwa hakikat kehidupan manusia adalah memberi manfaat bagi sesama. Agama membentuk kepribadian, sementara ilmu memperluas wawasan dan kemampuan untuk mengabdi.

Keteladanan Abdul Kahar Mudzakkir menunjukkan bahwa ilmu tanpa pengabdian akan kehilangan makna, dan agama tanpa amal hanya menjadi sebatas pengetahuan. Melalui hidupnya, ia mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang mampu menghadirkan kebaikan bagi masyarakat di sekitarnya.

Referensi. 

Nakamura, Mitsuo. “Prof. H. Abdul Kahar Muzakkir and the development of Islamic reformist movement in Indonesia.” Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies 15, no. 2 (2019): 203-225.

Muhammadiyah, Pimpinan Pusat. “Dari Muhammadiyah Untuk Indonesia: Pemikiran dan Kiprah Ki Bagus Hadikosumo, Mr. Kasman Singodimedjo, dan K.H. Abdul Kahar Mudzakkir.” Yogyakarta (2013).

Setiawati, Trias. Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir: mutiara Nusantara dari Yogyakarta. Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia, 2007.

UII, Program PascaSarjana FIAI. 2020. Prodi MIAI – Launching Film Dokumenter KH. Abdul Kahar Mudzakkir (Studi Tokoh Pendiri UII). Youtube  https://youtu.be/FZwLx8AYwUU?si=U4xZeFeLpydfEI5c  Diakses pada 25 Februari 2026.


Bagikan

Leave a Reply