Paham Agama dalam Muhammadiyah, Bukan Sekadar Keyakinan tetapi Harus Membawa Kemajuan

Bagikan

Memahami agama dalam Muhammadiyah tidak cukup hanya dengan mengetahui dalil dan melaksanakan ibadah secara pribadi. Pemahaman agama harus tercermin dalam akhlak, perilaku, kehidupan sosial, serta semangat membangun peradaban. Agama harus menjadi kekuatan yang menggerakkan manusia menuju kehidupan yang lebih baik.

- Advertisement -

Dalam konteks Muhammadiyah, pemahaman agama juga berkaitan erat dengan identitas kader, ketaatan terhadap persyarikatan, dan kesediaan menjadi penggerak dakwah Islam yang berkemajuan.

Tiga Ciri Kader Muhammadiyah

Artikel Lainnya
1 of 141

Ada tiga ciri yang harus melekat pada diri seorang kader Muhammadiyah.

Pertama, mengikuti paham agama sesuai dengan pemahaman Muhammadiyah. Artinya, kader perlu memahami bagaimana Muhammadiyah menetapkan dan mengamalkan ajaran Islam berdasarkan sumber-sumber agama yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kedua, taat kepada persyarikatan. Kader Muhammadiyah tidak cukup hanya mengaku sebagai bagian dari organisasi, tetapi juga perlu memahami keputusan, prinsip, dan arah gerakan persyarikatan.

Ketiga, menjadi tulang punggung penggerak persyarikatan. Kader harus hadir sebagai pelaku gerakan, bukan sekadar penonton. Ada kontribusi nyata yang diberikan untuk menghidupkan organisasi, mengembangkan dakwah, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ketiga hal tersebut saling berkaitan. Pemahaman agama menjadi landasan, ketaatan kepada persyarikatan menjadi komitmen, sedangkan keterlibatan dalam gerakan menjadi wujud pengamalan.

Dengan demikian, menjadi kader Muhammadiyah bukan sekadar persoalan identitas atau keanggotaan. Ada tanggung jawab untuk memahami, menghayati, dan menggerakkan nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan Pemahaman Agama Sudah Ada Sejak Zaman Nabi

Dalam memahami agama, perbedaan pendapat bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Bahkan, pada zaman Nabi Muhammad saw., pernah terjadi perbedaan pemahaman di antara para sahabat ketika menerima perintah beliau.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad saw. memberikan instruksi kepada para sahabat agar tidak melaksanakan salat Asar kecuali setelah sampai di Bani Quraizhah.

Sebagian sahabat memahami perintah tersebut secara tekstual. Mereka berpendapat bahwa salat Asar harus dilaksanakan setelah tiba di Bani Quraizhah, sekalipun waktu salat telah habis.

Sementara itu, sebagian sahabat lainnya memahami bahwa perintah tersebut dimaksudkan agar mereka bersegera menuju Bani Quraizhah. Karena waktu Asar hampir habis, mereka memilih melaksanakan salat sebelum tiba di tempat tujuan.

Perbedaan pemahaman itu kemudian disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. Dalam riwayat tersebut, Nabi tidak mencela salah satu dari kedua kelompok sahabat itu.

Peristiwa ini memberikan pelajaran penting bahwa perbedaan pemahaman dapat terjadi ketika seseorang berusaha memahami dan mengamalkan perintah agama. Para sahabat sama-sama berusaha menaati perintah Nabi, tetapi mengambil pemahaman yang berbeda.

Baca Juga :   PDA Yogyakarta Gelar Sosialisasi POSBAKUM Aisyiyah

Karena itu, ketika menghadapi perbedaan pemahaman agama, kita perlu menyikapinya dengan baik dan bijaksana. Perbedaan harus dibicarakan dengan ilmu, argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta akhlak yang baik.

Dalam kehidupan berorganisasi, perbedaan pendapat juga perlu ditempatkan secara proporsional. Sikap saling menghormati tidak berarti mengabaikan prinsip, tetapi menunjukkan bahwa prinsip dapat dijaga tanpa harus merendahkan orang lain.

Muhammadiyah Adalah Gerakan Islam yang Berasas Islam

Muhammadiyah merupakan gerakan Islam yang menjadikan Islam sebagai dasar dan pedoman perjuangannya. Oleh karena itu, memahami Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari pemahaman tentang agama Islam itu sendiri.

Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) halaman 276, agama dijelaskan sebagai syariat yang dibawa oleh para nabi dan rasul, yang berisi perintah, larangan, serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat.

Pengertian tersebut menegaskan bahwa agama memiliki pedoman yang bersumber dari wahyu, bukan semata-mata hasil pemikiran atau kebiasaan manusia.

Namun, memahami agama tidak berhenti pada pengetahuan tentang perintah dan larangan. Ajaran agama harus diwujudkan dalam kehidupan sehingga benar-benar menghadirkan kebaikan bagi manusia.

Agama semestinya menjadi jalan untuk menghadirkan kebahagiaan, meningkatkan kesejahteraan, serta menciptakan keamanan dan kedamaian.

Dalam perspektif gerakan Muhammadiyah, keberagamaan juga harus mendorong kecerdasan, kemajuan, dan perkembangan peradaban. Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah Swt., tetapi juga mengatur bagaimana manusia membangun hubungan yang baik dengan sesama dan lingkungannya.

Beragama Harus Membawa Kemajuan

Jika agama dipahami sebagai pedoman menuju kebaikan dunia dan akhirat, maka keberagamaan seharusnya memberikan dampak nyata bagi kehidupan.

Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang sangat penting. Namun, membaca saja tidak cukup apabila nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak berusaha diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Qur’an mengajarkan kejujuran, keadilan, kepedulian, tanggung jawab, dan berbagai nilai kebaikan. Semua itu harus tercermin dalam perilaku pribadi, kehidupan keluarga, aktivitas organisasi, serta hubungan sosial di tengah masyarakat.

Orang yang memahami agama semestinya semakin jujur dalam bekerja, semakin amanah ketika memegang tanggung jawab, semakin peduli terhadap sesama, dan semakin bersungguh-sungguh dalam memberikan manfaat.

Begitu pula dalam kehidupan persyarikatan. Pemahaman agama harus mendorong kader untuk bekerja, berinovasi, meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan pelayanan kesehatan, memperkuat pemberdayaan masyarakat, serta membangun kehidupan sosial yang lebih baik.

Inilah salah satu makna penting Islam berkemajuan: ajaran Islam tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan dan peradaban.

Islam Mencakup Akidah, Akhlak, Ibadah, dan Muamalah

Pemahaman Islam mencakup beberapa aspek yang saling melengkapi, yaitu akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah.

Pertama, akidah. Akidah berkaitan dengan keyakinan yang tertanam dalam hati. Keyakinan ini semestinya menjadi landasan yang menggerakkan seseorang untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan ajaran Islam.

Pertanyaan pentingnya adalah, bagaimana jika keislaman seseorang belum mampu menggerakkan dirinya untuk melakukan kebaikan?

Jika keyakinan kepada Allah Swt. telah tertanam kuat, semestinya keyakinan itu melahirkan kejujuran, amanah, keberanian membela kebenaran, dan kepedulian terhadap sesama. Akidah bukan hanya sesuatu yang diyakini, melainkan juga landasan bagi pembentukan sikap dan perilaku.

Baca Juga :   Milad ke-109 ‘Aisyiyah, PRA Basen Gelar Beragam Kegiatan Sosial, Kesehatan, dan Pengajian

Kedua, akhlak. Akhlak merupakan cerminan kualitas keberagamaan seseorang. Pemahaman agama seharusnya membuat seseorang semakin santun, adil, rendah hati, dan mampu menjaga hubungan baik dengan orang lain.

Ketiga, ibadah. Ibadah merupakan bentuk penghambaan kepada Allah Swt. melalui ketentuan yang telah diajarkan dalam Islam. Ibadah membentuk kedisiplinan, ketundukan, dan kesadaran akan tanggung jawab manusia kepada Allah Swt.

Keempat, muamalah. Muamalah berkaitan dengan hubungan dan aktivitas manusia dalam kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, politik, serta berbagai bidang kehidupan lainnya. Di sinilah nilai-nilai Islam perlu hadir untuk membangun kehidupan yang adil, bermanfaat, dan bermartabat.

Keempat aspek tersebut tidak seharusnya dipisahkan. Akidah menjadi landasan keyakinan, akhlak membentuk perilaku, ibadah memperkuat hubungan dengan Allah Swt., sedangkan muamalah menjadi ruang penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Al-Qur’an dan As-Sunnah Menjadi Sumber Ajaran Islam

Dalam memahami agama, Muhammadiyah menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam.

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Adapun As-Sunnah merupakan segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw., baik berupa perkataan (qauli), perbuatan (fi’li), maupun persetujuan beliau terhadap sesuatu (taqriri).

Keduanya menjadi pedoman dalam memahami akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.

Dalam praktiknya, pemahaman terhadap sumber ajaran Islam memerlukan ilmu dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, Muhammadiyah mengembangkan pemahaman keagamaan melalui kegiatan tarjih, kajian, serta ijtihad untuk menjawab berbagai persoalan kehidupan yang terus berkembang.

Dengan cara tersebut, ajaran Islam tetap menjadi pedoman yang kokoh sekaligus memberikan tuntunan bagi umat dalam menghadapi perubahan zaman.

Menjadi Kader yang Memahami dan Mengamalkan Islam

Pada akhirnya, memahami agama dalam Muhammadiyah tidak cukup hanya dengan mengetahui berbagai istilah, menguasai dalil, atau rajin mengikuti pengajian. Semua itu penting, tetapi harus dilanjutkan dengan pengamalan nyata.

Kader Muhammadiyah perlu memiliki pemahaman agama yang kuat, komitmen terhadap persyarikatan, dan kesediaan untuk menjadi penggerak dakwah.

Perbedaan pemahaman perlu disikapi dengan bijaksana. Akidah harus mampu menggerakkan perilaku. Ibadah harus membentuk akhlak. Muamalah harus menghadirkan kemaslahatan. Dan seluruh pengamalan agama harus mengarah pada kehidupan yang lebih baik.

Beragama bukan sekadar memahami ajaran Islam, tetapi bagaimana ajaran itu menggerakkan diri kita untuk berbuat baik, memajukan masyarakat, dan membangun peradaban.

Inilah tantangan sekaligus tanggung jawab kader Muhammadiyah: menjadikan Islam bukan hanya sebagai keyakinan yang diucapkan, melainkan sebagai nilai yang hidup dan memberi manfaat nyata bagi kehidupan.

Andy Putra Wijaya, S.E.I., M.S.I.

Muslim Millenial Training, Ahad, 30 Rabi’ul Akhir 1448/ 11 Okt 2026. MPKSDI – MTDK

Pemateri :
Ustadz Andy Putra Wijaya, S.E.I., M.S.I.

Dirangkum oleh:
Ibnu Arsjad el-Quthaghidiy
(Anggota MPKSDI PCM Kotagede)


Bagikan

Leave a Reply