Siniar Alternatif Media Dakwah, Bisa?

Bagikan

(Prima Agus Setiyawan, Brosur Lebaran 1444 H)

- Advertisement -

Alhamdulillah, kita dipertemukan Kembali dengan Bulan Ramadan, bulan yang dinanti oleh umat muslim seluruh dunia. Seluruh kegiatan baik ibadah, maupun kegiatan yang bersifat social, semua ada di bulan ini. Salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh umat muslim, yaitu mengikuti pengajian. Di setiap masjid atau musholla diselenggarakan pengajian setiap hari, baik menjelang berbuka, atau saat Nuzulul Qur’an. Tak hanya masjid dan musholla saja yang menyelenggarakan, media seperti radio dan televisi pun melaksanakan program pengajian yang sudah terjadwal sedemikian rupa. Dari dahulu hingga kini, kedua media tersebut tidak terpisahkan dalam kehidupan kita.

Di beberapa waktu terakhir, sudah bervariasi platform media yang berfokus pada pengajian, serta kajian keislaman. Tidak susah-susah kesana-kemari untuk mengikuti kajian, tinggal buka kotak Ajaib (ponsel pintar) saja, sudah banyak sekali kanal kajian keilmuan yang tersedia, baik yang biasa, sampai yang ekstrim pun ada. Penulis tidak berfokus pada varian kajian keislaman pada berbagai platform media, penulis ingin berfokus pada satu media yang akhir-akhir ini viral di kalangan kaum muslim selain social media, yaitu podcast atau siniar.

Artikel Lainnya
1 of 6

Mengapa penulis memilih siniar sebagai focus utama penulis? Siniar bisa didengarkan dimana saja, kapan saja, sendiri atau Bersama teman, sanak saudara, atau keluarga. Meski platform ini kalah dengan media social yang tren seperti Tiktok, Instagram, Facebook, Twitter, Mastodon, Matrix, Michat, Fiber, Reddit sampai Clubhouse. Umumnya, podcast dinikmati oleh mereka yang bermobilitas tinggi, suka dengan hal-hal yang bersifat auditori, sembari melakukan aktifitas yang rutin dilakukan. Materi yang disajikan pun beragam, dan penyajiannya interaktif serta mudah dipahami oleh para pendengar siniar/podcast. Apakah podcast atau siniar nantinya menggantikan siaran yang ada di media elektronik seperti radio dan televisi? Saat ini, media radio dan televisi masih diminati oleh semua kalangan di tengah persaingan media social serta munculnya platform siniar atau podcast. Beberapa contoh podcast atau siniar yang berfokus pada keislaman seperti podcast milik Ustadz Firanda Adirja, podcast milik Habib Ja’far, podcast milik Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc., dll.

Bisakah siniar atau podcast menjadi media alternatif dakwah keislaman di tengah persaingan podcast atau siniar yang terkenal dan menjadi top chart di berbagai platform podcast? Perlu strategi agar podcast atau siniar yang bertemakan keislaman yang bisa dinikmati oleh pendengar setia podcast. Agar mudah dalam memahami podcast, anggap saja podcast atau siniar seperti acara di radio yang bisa diputar secara on demand, maksudnya bisa di putar dimana saja dan kapan saja, bahkan bisa diputar tanpa koneksi internet. Platform mendengarkan podcast pun beragam, bisa diakses di berbagai perangkat gawai serta lintas system operasi. Seperti Spotify yang menjadi nomor satu platform distribusi podcast seluruh dunia, diikuti platform lain seperti Pogo FM, Apple Podcast, sampai platform local (Noice). Semakin banyak platform, semakin banyak kemudahan yang didapat dalam mendengarkan podcast kesayangan, salah satunya yang berfokus pada keislaman. Podcast attau siniar bisa dianalogikan sebagai blog berbentuk suara, maksud penulis satu kanal podcast satu tema bahasan, tidak gado-gado. Contoh, bila bahasannya tentang fiqih munakahat, kanal podcast focus pada fiqih munakahat. Contoh lain, bila tema berfokus pada fiqih ilmu waris, semuanya membahas ilmu waris, dan seterusnya.

Baca Juga :   Akhid Widi Rahmanto Ketua Takmir Masjid Adz-Dzikra Cokroyudan Kotagede

Apakah penyajiannya seperti pada ceramah-ceramah umum layaknya kultum, atau khutbah Jumat, dialog interaktif seperti di radio/televisi, atau ad acara lain agar podcast atau siniar keislaman itu bisa dinikmati oleh pendengar? Bagi pegiat siniar atau podcaster yang masih awal-awal berkarya, mereka memahami bahwa podcast dakwah keislaman isinya dakwah satu arah seperti rekaman pengajian umum, kultum, atau Khutbah Jumat yang dijadikan episode podcast, lebih tepatnya sama dengan radio-radio islam. Itu pemahaman yang benar, namun yang lebih tepat bahwa podcast dakwah keislaman tidak hanya sekadar satu arah layaknya pengajian umum di masjid, musholla, atau di radio dan televisi, podcast atau siniar  dalam menyajikan konten dakwah keislaman diharapkan lebih berkreasi agar para pendengar betah dalam mendengarkan masing-masing episodenya, baik cara penyampaian materi yang sulit dipahami menjadi mudah dipahami, menghadirkan narasumber yang berkompeten serta dikenal banyak orang, atau dengan model diskusi antara host dan narasumber yang dikemas dengan santai, namun berisi. Seperti podcast “Berbeda Tetapi Sama” milik Habib Ja’far di platform Noice, penyajian materi dalam masing-masing episode dikemas santai, dan berisi, dihadiri bintang tamu semua kalangan. Contoh berikutnya, Rumaysho Podcast milik Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.sc. yang berisi kajian, serta ceramah singkat keislaman.

Selain materi dakwah, lalu cara penyampaian perepisode, yang paling penting adalah sasaran dakwah. Seperti pada media lainnya, sasaran audiens atau mad’u atau orang yang jadi sasaran dakwah tetap diperhatikan, seperti rentang usia, profesi, sampai pada aktifnya dalam media social. Misal pada usia, rata-rata para pendengar podcast atau siniar berkisar usia 17 sampai 30, profesi rata-rata dari pelajar, mahasiswa, sampai pada pasangan muda. Termasuk, pembagian audiens berdasarkan jenis kelamin, missal podcast atau siniar keislaman yang membahas soal perempuan dan keislaman yang dikemas dengan khas perempuan, dan interaktif, kreatif, dan berbobot sehingga Muslimah yang mendengarkan podcast luas wawasannya, serta luas pengetahuannya di sela-sela kesibukannya sebagai pelajar, mahasiswi, sampai pada ibu rumah tangga. Kenyataanya, emak-emak milenial suka dengan podcast atau siniar yang ringan, berbobot, dan bertemakan kemuslimahan. Intinya, sasaran orang yang didakwahi tepat sasaran, tidak mengejar popularitas podcast atau siniar di Spotify. Diperlukan riset berkala untuk mendapatkan pendengar setia podcast atau siniar yang bertemakan dakwah yang terdistribusi di platform seperti Spotify.

Tambahan, untuk mempermudah akses pemutaran podcast atau siniar, dibutuhkan satu wadah seperti situs, landing page, bio links, untuk meletakkan podcast dakwah, serta bisa dibagikan di social media. Meski ini berupa teknis, namun ini bisa dipelajari sembari mengisi konten episode dakwah keislaman. Contoh yang paling sederhana menggunakan Link Tree (bio link sejuta creator). Dengan Link Tree, para podcaster sekaligus pendakwah bisa membagikan tautan podcast atau siniar dalam satu halaman sederhana dan mudah dikustomisasi sesuai dengan focus tema podcast. Bagi yang sudah berpengalaman dan dikenal, lebih kompleks dengan satu situs dengan hosting mandiri, atau buat satu laman dalam satu situs besar yang bahasannya keislaman. Semisal, situs web seperti Muhammadiyah, seluruh konten web tersebut membahas keislaman khas Muhammadiyah, dan di web yang sama ada satu halaman khusus yang berisi podcast bertemakan kemuhammadiyahan yang berupa widget pemutar siniar yang bisa diputar, dan ada tombol untuk mengunduh episode. Karena tidak semua pendengar podcast atau siniar mencari podcast atau siniar melalui mesin pencari, atau di kolom pencarian di masing-masing pemutar podcast. Para pendengar ini lebih suka mendengarkan, dan tidak mau repot-repot mencari, tinggal membuka situs atau bio link melalui bio media social, lalu memutar salah satu episode yang ditunggu-tunggu. Selain teknis yang penulis sebutkan, yang satu ini tidak kalah penting, dan ini disukai oleh generasi “Z”, yaitu promosi di media social. Diperlukan kreasi visual dalam mengunggah potongan-potongan episode yang akan terbit di platform Spotify, durasi secara umum berkisar 15 sampai 30 detik, serta diberi caption atau keterangan yang persuasive dan menarik.

Baca Juga :   Kiai Amir, Seorang Pedagang Yang Ulama

Terakhir, melibatkan pendengar setia dalam episode live atau secara langsung. Teknis ini bisa dicoba dengan mengintegrasikan platform podcast atau siniar dengan media konverensi seperti Zoom, Google Meet, Microsoft Temes, YouTube, Facebook live, Instagram live, Twitter Space, sampai Clubhouse. Atau lebih sederhana, menggunakan satu platform yang bisa all in one (AIO), salah satu fiturnya episode live, seperti platform Noice yang ada fitur episode live. Catatan, sesuaikan dengan audiens yang ada, beri kemudahan dalam mengakses episode live, serta mudah dalam berinteraksi dengan host dan narasumber berupa teks, audio, dan video.

Kesimpulannya, podcast atau siniar bisa menjadi alternatif media dakwah seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih dan memudahkan para penggunanya dalam berselancar di internet, salah satunya mendengarkan podcast atau siniar yang berfokus pada dakwah keislaman. Bagi para pegiat siniar (podcaster) pintar-pintar dalam mengemas podcast atau siniar bernuansa islami. Materi disajikan dengan cara sederhana, kreatif, berbobot, interaktif, mudah dipahami para audiens, serta promosikan podcast atau siniar di media social secara massif dan kreatif agar para audiens tertarik mendengarkan podcast. Termasuk memberikan kesempatan para audiens bergabung dalam episode live, seperti tanya jawab santai secara daring, juga kemudahan dalam mengakses podcast baik dengan landing page, bio link, situs tersendiri, atau satu laman khusus dalam situs besar yang ssatu tema, yaitu keislaman.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi bagi para podcaster sekaligus aktifis dakwah secara umum, terutama di sekitaran Kotagede, dan khususnya di Muhammadiyah. Sebelum ditutup, penulis bagikan siniar milik penulis yang temanya jurnal pribadi. Penulis baru setahun membuat podcast atau siniar sederhana ini, alhamdulillah baru 32 episode di sesi pertama, tersedia di Spotify, Pogo FM, dan Noice. Link podcast masing-masing platform sebagai berikut:

  1. Spotify: https://s.id/mpj-spotify.
  2. Noice: https://s.id/mpj-noiceid.
  3. Pogo FM: https://s.id/mpj-pogofm.

Agar mempermudah akses, penulis sediakan situs sederhana (masih dalam pengembangan), agar mudah dalam mendengarkan podcast tanpa membuka aplikasi. Situs podcast: https://masprimajogja.transistor.fm. Sedikit informasi, beberapa waktu lalu, penulis mengikuti tantangan “30 Hari Bersuara” yang diselenggarakan oleh komunitas podcaster terbesar di Indonesia. Penulis mengikuti 2 kepesertaan, yaitu ikut podcast atau siniar komunitas, dan podcast atau siniar pribadi. Senang rasanya mengikuti event besar tersebut, nuansanya sepeeti lomba, walau melelahkan. Bahkan, diakhir-akhir, stamina fisik hamper drop karena begadang mengedit audio sampai waktu Subuh. Terima kasih.


Bagikan
1 Comment
  1. Addiwiratama says

    Waau ada di platform noice 😀

Leave a Reply