
TLSA Basen Gelar Pengajian Milad ‘Aisyiyah ke-109, Mengenang Sejarah dan Kiprah Dakwah Perempuan
Kotagede – Taman Lansia Sahaja ‘Aisyiyah Basen (TLSA) mengadakan pengajian khusus dalam rangka memperingati Milad ‘Aisyiyah ke-109. Kegiatan yang berlangsung pada pertemuan rutin Ahad sore tersebut mengangkat tema Milad ‘Aisyiyah 109 tahun, yaitu “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian.”
Acara diawali dengan tadarus Al-Qur’an yang dipimpin Ketua Pengelola TLSA, Khusni. Para peserta bersama-sama membaca Surat Al-Fatihah, Ayat Kursi, Surat Al-Ikhlas, dan Surat An-Nas sebelum mengikuti kajian yang telah dipersiapkan khusus untuk mengenalkan sejarah dan perjuangan ‘Aisyiyah kepada para lansia.
Sebelum penyampaian materi, perwakilan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Basen, Umi Hidayati, memberikan sambutan kepada seluruh peserta yang hadir. Ia menjelaskan bahwa pertemuan kali ini sengaja diisi dengan materi ke-‘Aisyiyahan karena pada bulan Mei ini organisasi perempuan Muhammadiyah tersebut genap berusia 109 tahun.
“Usia 109 tahun merupakan perjalanan yang sangat panjang. Jika disamakan dengan usia manusia, tentu sudah termasuk usia yang sangat tua. Namun hingga kini ‘Aisyiyah tetap eksis dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, mari bersama-sama mengenang sejarah berdiri dan perjalanan perjuangan ‘Aisyiyah,” ujar Umi Hidayati.
Materi utama disampaikan oleh Wakil Ketua PCA Kotagede, Siti Hamidah. Dalam paparannya, Hamidah menjelaskan sejarah lahir dan berkembangnya ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah yang berperan besar dalam kemajuan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan perempuan di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa cikal bakal ‘Aisyiyah bermula dari kelompok pengajian perempuan bernama Sopo Tresno yang lahir di Kampung Kauman atas prakarsa KH Ahmad Dahlan. Pada masa itu, perempuan memiliki akses yang sangat terbatas terhadap pendidikan dan aktivitas sosial di luar rumah.
“KH Ahmad Dahlan mengajak para perempuan di sekitar rumahnya untuk mengikuti pengajian agar memiliki pengetahuan agama yang lebih baik dan mampu berkembang bersama masyarakat,” jelas Hamidah.
Pengajian Sopo Tresno berlangsung sejak tahun 1912 hingga 1917 dengan fokus pada peningkatan pemahaman keagamaan perempuan. Selanjutnya, pada tahun 1917, kelompok tersebut berkembang menjadi organisasi perempuan Muhammadiyah yang kemudian diberi nama ‘Aisyiyah, dengan Siti Bariyah sebagai ketua pertama.
Hamidah juga menjelaskan bahwa KH Ahmad Dahlan memberikan kesempatan luas kepada perempuan untuk memperoleh pendidikan formal. Langkah tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam perjuangan ‘Aisyiyah memajukan kaum perempuan melalui pendidikan.
Selain itu, KH Ahmad Dahlan juga mendirikan sekolah yang pada masa awal bernama Frobel School dan kini dikenal sebagai TK ABA Kauman. Sekolah tersebut tercatat sebagai salah satu lembaga pendidikan anak usia dini tertua yang dimiliki ‘Aisyiyah.
Suasana pengajian semakin meriah ketika Siti Hamidah mengajak para peserta mengikuti senam otak sederhana melalui gerakan tangan yang melatih konsentrasi dan koordinasi. Para lansia tampak antusias mengikuti setiap instruksi dengan penuh keceriaan, meskipun sesekali terjadi gerakan yang tidak serempak.
Sebagai penutup, Hamidah mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga semangat dalam berdakwah dan berkontribusi bagi masyarakat. Ia juga menyampaikan yel-yel Milad ‘Aisyiyah yang disambut penuh semangat oleh para peserta.
Kegiatan pengajian diakhiri dengan ajakan kepada seluruh anggota TLSA untuk turut menyemarakkan rangkaian kegiatan Milad ‘Aisyiyah ke-109 yang diselenggarakan oleh PCA Kotagede. (umih)
