As’ad Humam, Ulama Kotagede Penemu Metode Iqro’ yang Mengubah Cara Belajar Mengaji

Bagikan

Bagi generasi 1990-an, masa kecil tidak bisa dilepaskan dari berbagai kenangan khas: jajanan jadul, permainan tradisional, lagu anak-anak, hingga buku kecil berwarna-warni bernama Iqro’. Buku inilah yang menjadi pintu awal banyak anak Indonesia belajar membaca Alquran.

- Advertisement -

Di sampul buku tersebut terdapat sosok lelaki tua berkacamata, mengenakan jas hitam dan peci sambil memegang tongkat. Tidak sedikit yang mengenal wajahnya, tetapi belum mengetahui siapa sebenarnya tokoh itu.

Sosok tersebut adalah K.H. As’ad Humam, ulama asal Yogyakarta yang menemukan metode Iqro’, sebuah metode revolusioner pembelajaran membaca Alquran yang kemudian menyebar hingga ke berbagai negara.

Artikel Lainnya
1 of 2

Lahir dari Kampung Muhammadiyah di Kotagede

K.H. As’ad Humam lahir di Kampung Selokraman, Kotagede, tahun 1933. Ia tumbuh dalam lingkungan Muhammadiyah yang kuat. Ayahnya, Humam Siradj, dikenal sebagai pedagang sukses di Pasar Beringharjo.

Pendidikan As’ad Humam cukup beragam. Ia pernah belajar di SD Muhammadiyah Kleco, SMP Negeri di Ngawi, hingga melanjutkan pendidikan di Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Selain itu, ia juga sempat mondok di Pesantren Al-Munawir Krapyak selama dua tahun.

Namun perjalanan hidupnya berubah setelah mengalami kecelakaan saat memanjat pohon pada tahun 1963. Kecelakaan itu menyebabkan pengapuran tulang belakang sehingga lehernya tidak dapat digerakkan secara normal. Sejak saat itu, ia harus berjalan menggunakan tongkat.

Baca Juga :   PCA Kotagede Melakukan Penyegaran Pimpinan Dengan Baitul Arqam

Tongkat yang selalu menemaninya itulah yang kemudian tampak dalam pose ikonik di sampul buku Iqro’.

Mencari Cara Mengaji yang Lebih Mudah

Pada era 1980-an, metode belajar membaca Alquran yang populer masih menggunakan metode Baghdadiyah. Cara ini dianggap cukup sulit dan membutuhkan waktu lama untuk dikuasai anak-anak.

As’ad Humam kemudian mengajarkan metode Qiroati yang dikembangkan oleh Kiai Dahlan Salim Zarkasyi di Semarang. Akan tetapi, menurutnya metode tersebut masih memiliki beberapa kelemahan yang bisa disempurnakan.

Karena usul perbaikannya tidak diterima, As’ad Humam akhirnya memilih mengembangkan metode sendiri.

Di bawah pohon jambu di samping rumahnya di Kotagede, ia bertahun-tahun bereksperimen menyusun sistem pembelajaran Alquran yang lebih sederhana, cepat, dan mudah dipahami anak-anak.

Usaha panjang itu akhirnya melahirkan metode Iqro’.

Lahirnya Metode Iqro’

Bersama Jazir ASP dan Tim Tadarus AMM Yogyakarta, As’ad Humam mendirikan TK Alquran AMM pada 16 Maret 1986.

Dari sinilah metode Iqro’ mulai berkembang pesat.

Berbeda dengan metode lama yang mengharuskan anak mengeja huruf satu per satu, metode Iqro’ langsung mengajarkan bunyi bacaan secara praktis melalui suku kata seperti “ba-ta”, “ka-ta”, dan “ba-ja”.

Metode ini membuat anak-anak lebih cepat membaca Alquran tanpa merasa terbebani.

Buku Iqro’ sendiri terdiri dari enam jilid dengan warna sampul berbeda-beda yang dirancang menarik bagi anak-anak. Menurut As’ad Humam, metode Iqro’ memiliki karakter praktis, sistematis, komunikatif, fleksibel, dan mendorong santri menjadi aktif belajar.

Menyebar ke Seluruh Dunia

Perkembangan metode Iqro’ berlangsung sangat cepat. Setelah mendapat dukungan dari jaringan TPA dan masjid, metode ini diadopsi secara luas di Indonesia.

Pada tahun 1988, metode Iqro’ memperoleh pengakuan dari Kementerian Agama dan mulai didistribusikan secara nasional pada 1992.

Baca Juga :   LPCRPM Umumkan Daftar Juara CRM Award VI, PCM Kotagede Masuk Kategori PCM Unggulan Harapan

Bukan hanya di Indonesia, metode ini juga menyebar ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, hingga Eropa dan Amerika.

Jutaan anak Muslim akhirnya belajar membaca Alquran melalui metode yang ditemukan oleh seorang ulama sederhana dari Kotagede tersebut.

Amal Jariyah yang Terus Mengalir

K.H. As’ad Humam wafat pada Jumat, 2 Februari 1996. Namun warisannya terus hidup hingga hari ini.

Ribuan TPA dan TPQ di berbagai daerah masih menggunakan metode Iqro’ sebagai dasar pembelajaran membaca Alquran. Bahkan bagi banyak keluarga Muslim Indonesia, buku Iqro’ menjadi simbol awal perjalanan spiritual anak-anak mereka.

Metode sederhana yang lahir dari kegigihan seorang guru Muhammadiyah di Kotagede itu kini menjadi amal jariyah yang terus mengalir lintas generasi dan lintas negara.

refrensi : muhammadiyah.or.id


Bagikan

Leave a Reply