Islam Berkemajuan Bukan Sekadar Gagasan, tetapi Gerakan Nyata

Bagikan

Islam Berkemajuan bukanlah istilah baru dalam Muhammadiyah. Gagasan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan gerakan sejak masa K.H. Ahmad Dahlan. Semangat itu tercermin dalam pesan beliau, β€œDadio wong Islam, dadio santri sing kemajuan”—menjadi orang Islam, menjadi santri yang berkemajuan.

- Advertisement -

Pesan tersebut kembali mengemuka dalam Pengajian Pimpinan Muhammadiyah Cabang (PCM) Kotagede yang menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Drs. Gita Danupranata, M.M., Jumat (2/10/2026). Dalam pengajian yang berlangsung sebagai bagian dari penyegaran jiwa tersebut, Gita mengajak jamaah memahami kembali makna Islam Berkemajuan dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan.

Menurutnya, Islam Berkemajuan dapat dipahami melalui gambaran Pohon Risalah Islam Berkemajuan. Akar dari pohon tersebut adalah pondasi tauhid. Batangnya merupakan seluruh aktivitas kehidupan yang dilandasi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dari batang itu tumbuh cabang dan ranting berupa semangat ijtihad serta tajdid atau pembaruan.

Artikel Lainnya
1 of 138

Sementara itu, daun menggambarkan pengembangan sikap wasathiyah, sedangkan buahnya adalah terwujudnya Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Islam Berkemajuan dan Semangat Perubahan

Islam Berkemajuan tidak hanya berbicara tentang perubahan dalam kehidupan sosial, tetapi juga tentang bagaimana seorang Muslim memiliki semangat untuk terus belajar, berusaha dan memperbaiki keadaan.

Gita menjelaskan bahwa takdir, ikhtiar dan tawakal merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Seorang Muslim tidak cukup hanya berserah diri kepada Allah, tetapi juga harus berusaha sungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan.

Allah SWT berfirman:

β€œDan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
QS. An-Najm: 39

Semangat perubahan juga ditegaskan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Baca Juga :   PCA Kotagede Sosialisasikan BIKKSA

Karena itu, Islam Berkemajuan menuntut umat untuk memiliki mental yang kuat, optimistis dan produktif. Rasulullah SAW, kata Gita, memiliki mental kaya, yakni mental yang mendorong umat untuk memiliki daya juang, kemandirian dan keberanian melakukan perubahan.

Rasulullah SAW diutus untuk membawa manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya, minazh-zhulumati ilan-nur. Semangat pencerahan tersebut salah satunya tercermin dari wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW, yaitu perintah membaca.

Membaca bukan sekadar aktivitas mengenali tulisan, tetapi dilanjutkan dengan memahami dan mengamalkannya. Karena itu, literasi menjadi bagian penting dari upaya membangun umat yang berkemajuan.

Kembali kepada Ajaran Islam

Gita juga mengingatkan kembali pandangan K.H. Ahmad Dahlan mengenai sebab kemunduran umat Islam. Salah satu persoalannya adalah ketika sebagian umat terlalu jauh meninggalkan ajaran Islam.

Karena itu, kemajuan tidak berarti meninggalkan nilai-nilai agama. Sebaliknya, kemajuan justru dibangun di atas fondasi tauhid dan ajaran Islam.

Islam juga mengajarkan sikap wasathiyah, yakni berada di posisi pertengahan. Sikap ini tidak berarti mengambil posisi abu-abu dalam beragama, tetapi menempatkan sesuatu secara proporsional dan tidak berlebihan.

Islam tidak mengajarkan sikap ekstrem, baik ke kanan maupun ke kiri. Dalam menjalankan agama, umat juga tidak seharusnya mudah mengharamkan segala sesuatu, tetapi pada saat yang sama tidak pula memahami kebebasan secara tanpa batas.

Dalam kondisi tertentu ketika terdapat kesulitan atau keadaan darurat, Islam memberikan ruang untuk menjalankan ibadah sesuai kemampuan.

Allah SWT berfirman:

β€œAllah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
QS. Al-Baqarah: 185

Prinsip tersebut menunjukkan bahwa Islam memiliki ajaran yang membawa kemudahan, sekaligus tetap memiliki batas dan tuntunan yang harus dijaga.

Islam sebagai Rahmat bagi Seluruh Alam

Pada akhirnya, seluruh nilai dalam Islam Berkemajuan bermuara pada terwujudnya Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Baca Juga :   Al Islah Berbagi Hewan Qurban

Allah SWT berfirman:

β€œDan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
QS. Al-Anbiya: 107

Rahmat tersebut diwujudkan melalui perbuatan baik kepada sesama manusia dan seluruh makhluk. Islam tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi juga mendorong umat untuk menghadirkan kemanfaatan di tengah masyarakat.

Dalam konteks kehidupan bermuhammadiyah, semangat tersebut salah satunya diwujudkan melalui upaya memakmurkan masjid.

Mendorong Generasi Muda Memakmurkan Masjid

Gita menegaskan bahwa berbagai gagasan tentang Islam Berkemajuan pada akhirnya harus bermuara pada gerakan nyata, termasuk bagaimana menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan umat.

Karena itu, generasi muda perlu diberi ruang untuk terlibat dalam pengelolaan masjid. Mereka tidak hanya ditempatkan sebagai jamaah, tetapi juga diberikan kesempatan untuk belajar mengelola kegiatan, menyusun program, mengembangkan kreativitas dan mengambil peran dalam pelayanan umat.

β€œGerakkan generasi muda untuk mengelola masjid. Beri kesempatan, fasilitasi dan biayai,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam pengajian tersebut.

Menurutnya, terdapat sejumlah masjid yang dapat menjadi contoh dalam memberikan ruang bagi generasi muda, di antaranya Masjid Raya Al-Falah Sragen dan Masjid Syuja’ PKU Muhammadiyah Gamping.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 18 bahwa yang memakmurkan masjid Allah adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat serta tidak takut kecuali kepada Allah.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa memakmurkan masjid bukan hanya tentang membangun atau merawat bangunan fisiknya. Lebih dari itu, masjid perlu dihidupkan dengan kegiatan yang memberi manfaat bagi umat.

Di sinilah Islam Berkemajuan menemukan bentuk nyatanya. Berawal dari tauhid, berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, membuka ruang ijtihad dan pembaruan, menjaga sikap wasathiyah, menghadirkan rahmat bagi alam, hingga melahirkan generasi yang mampu menghidupkan dan memakmurkan masjid.

Dirangkum oleh:
Ibnu Arsjad el-Quthaghidiy


Bagikan

Leave a Reply