
Memahami Istisqa, Saat Umat Memohon Hujan kepada Allah
Ketika hujan berhenti terlalu lama, manusia kembali menyadari betapa pentingnya air bagi kehidupan. Tanah mengering, tanaman kehilangan sumber kehidupan, sementara persediaan air perlahan menipis. Namun, ketika hujan turun tanpa henti, air yang semula dinantikan justru dapat berubah menjadi bencana.
Dalam kondisi seperti itu, Islam mengajarkan umat untuk kembali kepada Allah melalui istisqa, yakni memohon hujan dan pertolongan kepada-Nya.
Istisqa tidak selalu harus dilakukan dalam bentuk salat berjamaah di lapangan. Doa memohon hujan dapat dilakukan secara perorangan maupun bersama-sama. Tuntunan Tarjih Muhammadiyah juga menjelaskan beberapa bentuk istisqa sesuai dengan keadaan yang dihadapi umat.
Putusan Muktamar Tarjih XX di Garut tahun 1976 menjelaskan bahwa umat Islam dianjurkan berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah ketika mengalami kekeringan panjang. Anjuran tersebut juga berlaku ketika hujan turun terus-menerus hingga menimbulkan bencana.
Pada dasarnya, istisqa merupakan bentuk kesadaran manusia bahwa ada perkara dalam kehidupan yang berada di luar kendalinya. Air, hujan, dan kehidupan yang bergantung kepadanya menjadi pengingat agar manusia kembali bersandar kepada Allah.
Istisqa Tidak Selalu Berarti Salat
Secara sederhana, istisqa berarti meminta hujan. Dalam pengertian keagamaan, istisqa merupakan ibadah berupa doa atau salat untuk memohon kepada Allah agar menurunkan hujan ketika terjadi kemarau atau musim kering yang panjang.
Karena itu, pelaksanaan istisqa memiliki beberapa bentuk.
Jika dilakukan secara bersama-sama, doa dapat dipimpin imam di masjid, di atas mimbar, maupun di luar masjid. Doa memohon hujan juga dapat disampaikan dalam khutbah Jumat. Dalam keadaan tersebut, imam mengangkat kedua tangan dan jamaah mengikutinya.
Salah satu doa yang diajarkan adalah:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا طَبَقًا مَرِيعًا غَدَقًا عَاجِلًا غَيْرَ رَائِثٍ
Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, yang menyegarkan, yang merata, yang menyuburkan, yang lebat, segera dan tidak terlambat.”
Doa tersebut menunjukkan bahwa yang dimohon bukan sekadar turunnya hujan, tetapi hujan yang membawa manfaat bagi kehidupan.
Ketika Istisqa Dilakukan dengan Salat
Apabila istisqa dilakukan dengan salat, tuntunan Tarjih menjelaskan bahwa imam bersama jamaah keluar menuju tanah lapang setelah matahari terbit.
Mereka datang dengan pakaian sederhana, dalam suasana penuh kerendahan hati dan kekhusyukan.
Salat istisqa dilaksanakan dua rakaat tanpa azan dan iqamah. Bacaan dalam salat dikeraskan.
Tuntunan tersebut antara lain bersandar pada hadis Abdullah bin Zaid yang menggambarkan Nabi Muhammad Saw keluar untuk memohon hujan, menghadap kiblat sambil berdoa, membalik pakaian luarnya, kemudian melaksanakan salat dua rakaat dengan mengeraskan bacaan.
Riwayat lain dari Abu Hurairah juga menyebutkan bahwa Nabi Saw melaksanakan salat istisqa dua rakaat tanpa azan dan iqamah. Setelah itu beliau berdoa kepada Allah, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan membalik pakaian luarnya.
Dengan demikian, terdapat beberapa unsur penting dalam salat istisqa, antara lain salat dua rakaat, tanpa azan dan iqamah, membaca dengan jahr, berdoa menghadap kiblat, mengangkat tangan, serta membalik pakaian luar.
Nabi Saw Memohon Hujan dengan Beberapa Cara
Riwayat tentang istisqa juga menunjukkan bahwa Rasulullah Saw tidak hanya melakukannya dalam satu bentuk.
Dalam Subulus-Salam, sebagaimana dikutip dalam sumber Tarjih, disebutkan beberapa cara Nabi Saw memohon hujan. Di antaranya dengan keluar ke lapangan dan melaksanakan salat istisqa disertai khutbah, berdoa dalam khutbah Jumat, berdoa di atas mimbar di Masjid Madinah tanpa salat, berdoa sambil duduk di masjid, berdoa di luar masjid, hingga berdoa ketika berada di medan perang.
Ragam tersebut memperlihatkan bahwa istisqa tidak semestinya dipahami secara sempit sebagai satu bentuk ritual saja.
Ada keadaan ketika Nabi Saw melaksanakan salat berjamaah. Ada pula keadaan ketika beliau hanya berdoa.
Karena itu, berbagai riwayat tersebut tidak harus dipertentangkan. Justru dari sana terlihat adanya beberapa cara yang pernah dilakukan Rasulullah Saw dalam memohon hujan.
Riwayat ‘Aisyah Menggambarkan Praktik Istisqa
Salah satu riwayat yang cukup lengkap mengenai praktik istisqa adalah hadis dari ‘Aisyah.
Ketika masyarakat mengalami kekeringan, Nabi Saw memerintahkan agar mimbar disiapkan di tempat salat. Beliau kemudian keluar ketika matahari mulai tampak. Setelah duduk di atas mimbar, beliau memuji Allah, menyampaikan keadaan umat, lalu berdoa.
Nabi Saw kemudian mengangkat kedua tangan dan membalik pakaian luarnya. Setelah itu beliau menghadap kembali kepada masyarakat dan melaksanakan salat dua rakaat.
Salah satu bagian doa tersebut menegaskan ketergantungan manusia kepada Allah:
“Ya Allah, Engkaulah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Kaya, sementara kami adalah miskin. Turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan itu kekuatan dan bekal bagi kami untuk waktu yang lama.”
Doa itu membawa pesan yang sederhana tetapi dalam. Manusia memiliki keterbatasan, sementara Allah adalah tempat bergantung.
Khutbah Istisqa Satu Kali
Hal lain yang menarik dalam tuntunan istisqa adalah mengenai khutbah.
Putusan Tarjih menjelaskan bahwa khutbah dapat dilakukan setelah salat, tetapi terdapat pula dasar hadis yang menunjukkan kemungkinan khutbah dilakukan sebelum salat. Mengenai jumlah khutbah, tidak ditemukan riwayat yang menunjukkan Nabi Saw melakukan dua khutbah dalam istisqa.
Karena itu, khutbah istisqa dipahami sebagai satu kali khutbah, bukan dua khutbah sebagaimana khutbah Jumat.
Jika salat istisqa dilaksanakan, rangkaiannya dapat berupa salat dua rakaat kemudian satu kali khutbah. Namun, khutbah juga dapat dilakukan sebelum salat.
Khutbah Istisqa dan Memperbanyak Istighfar
Kekhasan khutbah istisqa terletak pada pesan dan doa yang disampaikan.
Jamaah diajak untuk memperbanyak istighfar, mengingat dosa, bertobat, serta memohon ampun kepada Allah. Kekeringan tidak hanya dilihat sebagai persoalan alam, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan introspeksi dan memperkuat hubungan dengan Allah.
Salah satu doa yang diajarkan memohon agar Allah memberikan air kepada manusia dan hewan, menyebarkan rahmat-Nya, serta menghidupkan negeri yang telah mati.
Hujan yang dimohon juga bukan hujan yang membawa kerusakan, melainkan hujan yang bermanfaat dan memberikan kehidupan.
Ketika Hujan Justru Menjadi Bencana
Menariknya, tuntunan istisqa tidak hanya berbicara tentang kondisi ketika hujan tidak turun.
Ketika hujan turun terlalu banyak dan menimbulkan bencana, umat Islam juga diajarkan untuk berdoa.
Doa yang diajarkan Nabi Saw antara lain:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan jangan Engkau turunkan atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit, dataran tinggi, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”
Doa ini memperlihatkan satu pesan penting: yang dimohon bukan sekadar hujan, tetapi hujan yang membawa manfaat dan tidak mendatangkan kerusakan.
Pada akhirnya, istisqa bukan sekadar tentang bagaimana meminta hujan.
Ia merupakan bentuk penghambaan dan kesadaran bahwa kehidupan manusia sangat bergantung kepada Allah. Dalam keadaan kekeringan, umat diajak berdoa, beristighfar, bertobat, dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
Sebaliknya, ketika hujan berlebihan dan menjadi bencana, umat juga diajarkan untuk memohon agar air tersebut diarahkan ke tempat yang memberikan manfaat.
Hujan adalah rahmat. Namun manusia tetap membutuhkan kebijaksanaan agar rahmat tersebut tidak berubah menjadi musibah.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Catatan sumber: Tulisan ini disusun berdasarkan Salinan Keputusan Muktamar Tarjih XX di Garut tahun 1976, Berita Resmi Muhammadiyah No. 76 Tahun 1977, serta pembahasan “Khutbah Istisqa’” dalam Suara Muhammadiyah No. 5 Tahun ke-84/1999.
