
Pengajian Pimpinan ‘Aisyiyah Kotagede, Perkuat Sinergi Majelis dan Kepedulian terhadap Difabel
KOTAGEDE — Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kotagede terus memperkuat sinergi antarmajelis sekaligus meningkatkan pemahaman pimpinan tentang pentingnya kepedulian terhadap penyandang disabilitas. Upaya tersebut diwujudkan melalui pengajian pimpinan yang digelar pada Rabu, 21 Oktober 2026, di Aula PCA Kotagede.
Pengajian pimpinan yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan ini menjadi sarana konsolidasi sekaligus penguatan semangat para pimpinan dalam menjalankan amanah organisasi. Melalui kegiatan tersebut, setiap majelis diharapkan dapat saling mendukung sehingga program-program ‘Aisyiyah berjalan lebih terarah dan bersinergi.
Ketua PCA Kotagede, Muftiyah Hidayati, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada pemateri, Fandi Ahmad, yang merupakan salah satu pimpinan Majelis Pemberdayaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY sekaligus dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Ia juga mengapresiasi kehadiran para pimpinan ‘Aisyiyah Kotagede dalam kegiatan tersebut.
Muftiyah mengajak seluruh pimpinan untuk terus meluangkan waktu menghadiri pengajian pimpinan. Menurutnya, kehadiran dalam kegiatan tersebut tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memperkuat semangat dan komitmen dalam menegakkan gerakan ‘Aisyiyah di Kotagede.
“Dengan kehadiran ibu-ibu pimpinan dalam pengajian ini, kita dapat memperkuat diri dan semangat dalam menjalankan amanah ‘Aisyiyah, yang selanjutnya diwujudkan melalui berbagai kegiatan di masing-masing majelis,” ujarnya.
Empat Doa dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam penyampaian materinya, Fandi Ahmad mengajak para peserta untuk membiasakan diri membaca doa dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Ia menekankan pentingnya doa sebagai bentuk ikhtiar spiritual agar setiap kegiatan senantiasa membawa kebaikan dan keberkahan.
Fandi menyebutkan empat doa yang perlu dibiasakan, yakni doa sapu jagat, doa sebelum makan, doa sebelum tidur, dan doa sebelum bepergian.
Doa sapu jagat menjadi permohonan kebaikan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sementara itu, doa sebelum makan diharapkan menjadi pengingat agar makanan yang dikonsumsi membawa keberkahan dan mendukung kesehatan tubuh.
Adapun doa sebelum tidur menjadi bentuk permohonan agar diberikan ketenangan dan dapat beristirahat dengan baik. Sedangkan doa sebelum bepergian dipanjatkan agar perjalanan diberikan keselamatan dan dijauhkan dari berbagai bahaya.
Dengan gaya penyampaian yang santai dan sesekali diselingi humor, Fandi mengajak peserta untuk menjadikan doa sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar bacaan yang diucapkan pada waktu tertentu.
Enam Hak Sesama Muslim, Termasuk bagi Penyandang Disabilitas
Selain membahas doa, Fandi juga menjelaskan enam hak sesama muslim yang perlu dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.
Keenam hak tersebut meliputi menjawab salam ketika bertemu sesama muslim, memenuhi undangan, memberikan nasihat yang baik ketika diperlukan, mendoakan orang yang bersin setelah mengucapkan alhamdulillah, menjenguk saudara yang sedang sakit, serta mengiringi dan menyalatkan jenazah ketika ada saudara muslim yang meninggal dunia.
Menurut Fandi, hak-hak tersebut berlaku bagi seluruh umat Islam tanpa terkecuali, termasuk penyandang disabilitas. Karena itu, masyarakat perlu membangun pemahaman bahwa keterbatasan fisik, sensorik, intelektual, maupun kondisi disabilitas lainnya tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi penghormatan terhadap hak dan martabat seseorang.
“Semua hak tersebut harus diberikan kepada setiap muslim tanpa pengecualian, termasuk saudara-saudara kita penyandang disabilitas,” jelasnya.
Muhammadiyah Perjuangkan Fikih yang Inklusif
Fandi selanjutnya menjelaskan komitmen Muhammadiyah dalam memperjuangkan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas, salah satunya melalui penyusunan fikih difabel.
Fikih difabel disusun untuk menghadirkan pemahaman hukum Islam yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai subjek hukum yang setara dan bermartabat, serta memiliki hak dan kewajiban keagamaan secara utuh dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Menurutnya, penyandang disabilitas harus dipandang sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki hak yang sama untuk memperoleh akses terhadap pendidikan, pelayanan keagamaan, dan berbagai aktivitas sosial.
Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, MPKS PWM DIY turut mengembangkan layanan keagamaan bagi penyandang disabilitas serta membentuk komunitas untuk memperkuat partisipasi mereka dalam kehidupan bermasyarakat.
Salah satu layanan yang dikembangkan adalah kesempatan belajar membaca Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas dengan menyesuaikan metode dan sarana pembelajaran. Bagi penyandang disabilitas netra, tersedia Al-Qur’an Braille. Sementara itu, bagi penyandang disabilitas rungu dan wicara, pembelajaran dapat dilakukan dengan dukungan bahasa isyarat sesuai kebutuhan.
MPKS PWM DIY juga membentuk Himpunan Disabilitas Muhammadiyah (HIDIMU) sebagai wadah komunitas penyandang disabilitas untuk saling mendukung, memperkuat partisipasi, dan mengembangkan potensi diri.
Melalui pengajian pimpinan ini, PCA Kotagede berharap para pimpinan ‘Aisyiyah semakin memahami pentingnya membangun gerakan yang bersinergi, inklusif, dan berpihak pada pemenuhan hak setiap orang.
Penguatan pemahaman keagamaan yang disertai kepedulian sosial diharapkan dapat mendorong ‘Aisyiyah menghadirkan program-program yang tidak hanya memperkuat organisasi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. (umih)
