Tim Pengabdian Masyarakat UNY Edukasi Pengelolaan Sampah Organik kepada Ibu-Ibu PRA Depokan Kotagede

Bagikan

Kotagede, Yogyakarta – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah organik terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Tim Pengabdian Masyarakat dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar kegiatan edukasi dan praktik pengelolaan sampah organik bersama ibu-ibu Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Depokan, Kotagede, pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

- Advertisement -

Kegiatan yang berlangsung di wilayah Pelemsari, Kotagede ini menjadi salah satu bentuk kepedulian akademisi terhadap persoalan sampah yang semakin kompleks, terutama setelah adanya perubahan sistem pengelolaan sampah dan penutupan operasional Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk mulai mengelola sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Perempuan sebagai Agen Perubahan Pengelolaan Sampah

Artikel Lainnya
1 of 121

Ibu rumah tangga dipilih sebagai peserta utama karena memiliki peran strategis dalam mengatur aktivitas rumah tangga, khususnya pengelolaan sampah dapur. Selain menjadi pengambil keputusan dalam pengelolaan limbah rumah tangga, perempuan juga berperan sebagai agen perubahan yang dapat menanamkan kebiasaan ramah lingkungan kepada seluruh anggota keluarga.

Hal tersebut sejalan dengan fakta bahwa sebagian besar timbulan sampah berasal dari aktivitas rumah tangga, dengan komposisi terbesar berupa sisa makanan dan sampah organik yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna.

Belajar Mengolah Sampah Organik dengan Komposter Ember

Dalam kegiatan ini, Tim Pengabdian Masyarakat UNY memperkenalkan konsep pengelolaan sampah berbasis prinsip 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot) dengan penekanan pada proses Rot, yaitu pengomposan sampah organik.

Baca Juga :   UMKM PRA Prenggan Ikuti Bimtek Fasilitasi Informasi Nilai Gizi Pada Label Pangan Olahan

Tidak hanya menerima materi secara teoritis, para peserta juga mengikuti praktik langsung merakit dan menggunakan komposter ember bertingkat sebagai teknologi tepat guna untuk mengolah sampah organik rumah tangga.

Komposter tersebut dirancang menggunakan sistem tertutup yang dilengkapi sirkulasi udara, lubang drainase, serta kran pada bagian bawah untuk menampung cairan lindi yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair.

Praktik Pengomposan yang Mudah Diterapkan di Rumah

Pada sesi praktik, peserta diajarkan tahapan pengomposan yang benar agar menghasilkan kompos berkualitas tanpa menimbulkan bau yang mengganggu.

Tim fasilitator menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan empat unsur utama dalam proses pengomposan, yaitu:

  • Karbon dari sampah kering.
  • Nitrogen dari sampah basah seperti sisa sayuran dan buah.
  • Kadar air yang cukup.
  • Oksigen untuk mendukung aktivitas mikroorganisme.

Peserta kemudian mempraktikkan proses pencacahan sampah organik berukuran sekitar 1–4 sentimeter, menyusun lapisan sampah kering dan basah secara bergantian, kemudian menyemprotkan bioaktivator EM4 untuk mempercepat proses fermentasi aerob.

Perwakilan Tim Pengabdian Masyarakat UNY menyampaikan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada pemahaman masyarakat terhadap proses alami yang terjadi selama pengomposan.

“Pengelolaan sampah yang baik dimulai dari pemahaman tentang keseimbangan alam. Kami ingin menanamkan bahwa sampah organik bukan untuk dibuang, melainkan diolah sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan maupun keluarga.”

Menghasilkan Pupuk Organik untuk Ketahanan Pangan Keluarga

Selain membantu mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, penggunaan komposter ember juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan.

Melalui metode ini, keluarga dapat memanen Pupuk Organik Cair (POC) sekitar hari ke-40, sementara kompos padat siap digunakan setelah kurang lebih 60 hari.

Hasil kompos tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman pekarangan, mendukung kegiatan urban farming, serta meningkatkan ketahanan pangan keluarga secara mandiri.

Baca Juga :   Sambut 1 Muharam 1447 H, RS PKU Muhammadiyah Kotagede Gelar Khitan Gratis

Mendorong Budaya Pengelolaan Sampah dari Rumah

Melalui edukasi ini, Tim Pengabdian Masyarakat FISIP UNY berharap setiap rumah tangga, khususnya keluarga besar PRA Depokan Kotagede, mampu menerapkan kebiasaan mengolah sampah organik secara mandiri.

Langkah sederhana melalui satu komposter di setiap rumah diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah yang berakhir di TPA, menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, serta memperkuat budaya hidup berkelanjutan di Kota Yogyakarta.


Bagikan

Leave a Reply