
Kajian Munakahat PRA Purbayan, Menemukan Solusi Rumah Tangga Bahagia
Kotagede โ Pimpinan Ranting โAisyiyah (PRA) Purbayan mengadakan kajian Munakahat di Masjid Nurul Huda Purbayan, Ahad, 13 September 2026. Kegiatan ini dihadiri Pimpinan Cabang โAisyiyah (PCA) Kotagede, pimpinan ranting, serta anggota โAisyiyah Purbayan.
Kajian yang mengangkat tema โKetika Ujian Menyapa: Menemukan Solusi Rumah Tangga Bahagiaโ ini menghadirkan Adib Sofia, Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat โAisyiyah, sebagai narasumber.
Ketua PRA Purbayan, Nofri Hartini, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut telah lama dipersiapkan. Namun, pelaksanaannya baru dapat dilakukan setelah menyesuaikan waktu dengan narasumber.
Menurut Nofri, kajian Munakahat menjadi kegiatan yang penting karena persoalan keluarga dapat dialami oleh siapa saja, baik keluarga muda maupun keluarga yang telah lama membina rumah tangga.
โMateri ini sangat menarik dan penting bagi keluarga, baik keluarga muda, keluarga yang sudah lama maupun keluarga tua,โ ungkapnya.
Ujian Keluarga Memerlukan Solusi
Sambutan PCA Kotagede disampaikan oleh Umi Hidayati. Ia menyampaikan apresiasi kepada PRA Purbayan yang telah menyelenggarakan kajian tersebut sekaligus memotivasi jamaah untuk menyimak materi dengan baik.
Umi mengatakan, ujian dalam kehidupan keluarga memiliki bentuk yang beragam. Karena itu, diperlukan pemahaman dan solusi agar keluarga tetap dapat membangun suasana yang tenteram dan bahagia.
โUjian untuk keluarga itu sangat bervariasi dan tentunya perlu adanya solusi agar di keluarga menjadi tenteram dan tentunya bahagia,โ tuturnya.
Umi juga menyampaikan bahwa usia narasumber yang relatif muda tidak menjadi ukuran pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya. Menurutnya, pengalaman dapat diperoleh dari orang tua maupun proses belajar dari kehidupan keluarga.
Ia menambahkan, Adib Sofia memiliki pengalaman keluarga yang baik, termasuk dari orang tuanya yang pernah menjadi keluarga teladan nasional. Hal tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya jamaah menyimak materi yang disampaikan.
Empat Filosofi Jawa untuk Rumah Tangga
Dalam kajiannya, Adib Sofia menyampaikan materi dengan bahasa yang lugas, ringan, dan mudah dipahami. Ia mengajak jamaah memahami bahwa kehidupan rumah tangga yang nyaman dan bahagia perlu dibangun melalui komunikasi, sikap saling menghargai, serta kemampuan mengelola emosi.
Adib membagikan empat filosofi Jawa yang diperolehnya dari orang tua sebagai salah satu resep dalam membangun keluarga sakinah. Keempat filosofi tersebut dirangkum dalam istilah Guci, Lengo, Kayu, dan Gapuk.
1. Guci โ Lugu lan suci
Guci merupakan kepanjangan dari lugu lan suci. Filosofi ini mengajarkan agar pasangan berbicara apa adanya dan senantiasa berprasangka baik (husnuzan) kepada pasangan.
2. Lengo โ Yen ono sing mentheleng, sijine lungo
Filosofi ini bermakna, ketika salah satu pasangan sedang marah atau emosi, pasangan yang lain tidak perlu membalas dengan kemarahan. Sebaiknya, salah satu menghindar sejenak atau berpindah tempat agar suasana tidak semakin memanas.
3. Kayu โ Teko, ngguyuo
Ketika ada pasangan yang datang, sambutlah dengan senyuman. Sikap sederhana ini menjadi bentuk penghargaan dan kehangatan dalam rumah tangga.
4. Gapuk โ Lego, ngepuk-ngepuk
Ketika salah satu pasangan sedang bahagia atau merasa senang, pasangan yang lain dapat memberikan respons positif, termasuk melalui sentuhan lembut atau tepukan penuh kasih sayang.
Keempat filosofi tersebut menggambarkan pentingnya membangun komunikasi yang sehat, mengendalikan emosi, menyambut pasangan dengan keramahan, serta saling memberikan dukungan dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga Perasaan dan Saling Menghargai
Selain filosofi Jawa, Adib juga menyampaikan beberapa hal yang perlu dihindari dalam kehidupan rumah tangga. Menurutnya, suami dan istri perlu menjaga perasaan masing-masing agar hubungan tetap harmonis.
Pertama, tidak boleh merendahkan pasangan. Apa pun yang dilakukan atau diperoleh pasangan perlu dihargai, sehingga tidak ada pihak yang merasa direndahkan.
Kedua, tidak boleh mencela. Setiap tindakan pasangan hendaknya tidak dijadikan bahan cemoohan atau celaan yang dapat melukai perasaan.
Ketiga, tidak boleh memberikan panggilan yang buruk. Adib mengingatkan bahwa nama merupakan doa. Karena itu, pasangan sebaiknya memberikan panggilan yang baik dan tidak menggunakan sebutan yang merendahkan.
Setelah pemaparan materi, kajian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Antusiasme jamaah terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan kepada narasumber. Adib pun menjawab pertanyaan tersebut dengan jelas dan memberikan penjelasan yang mudah dipahami.
Kajian Munakahat PRA Purbayan kemudian ditutup dengan foto bersama. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi jamaah untuk memperkuat pemahaman tentang kehidupan keluarga yang sakinah, tenteram, dan bahagia. (umih)
