
Jika Kita Sakit, Harus Bagaimana? Memahami Adab Sakit dalam Islam
Sakit bukan hanya ujian bagi tubuh, tetapi juga kesempatan bagi seorang Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan kesabaran, doa, ibadah, dan ikhtiar yang benar, sakit dapat menjadi jalan mendapatkan pahala dan pengampunan dosa.
Namun, bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim ketika sedang sakit? Islam mengajarkan sejumlah adab yang perlu diperhatikan agar sakit tidak hanya menjadi ujian fisik, tetapi juga menjadi sarana untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan.
Berikut delapan adab ketika sakit yang penting untuk dipahami dan diamalkan.
Jika Kita Sakit, Harus Bagaimana? Ini 8 Adab dalam Islam
1. Bersabar ketika menghadapi sakit
Sakit merupakan salah satu bentuk ujian yang dapat dialami setiap manusia, termasuk orang-orang beriman. Karena itu, seorang Muslim perlu membangun sikap sabar ketika menghadapi rasa sakit dan kesulitan.
Allah SWT berfirman:
ุงูุญูุณูุจู ุงููููุงุณู ุงููู ูููุชูุฑููููููุง ุงููู ููููููููููููุง ุงูฐู ููููุง ููููู ู ููุง ููููุชููููููู
โApakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, โKami telah beriman,โ dan mereka tidak diuji?โ
(QS. Al-‘Ankabut: 2)
Para nabi juga mendapatkan ujian yang berat. Salah satu kisah yang sering menjadi teladan adalah Nabi Ayyub AS yang menghadapi ujian sakit dan kesulitan dengan kesabaran serta tetap menjaga hubungan dengan Allah SWT.
Sabar bukan berarti mengabaikan rasa sakit atau menolak pengobatan. Sabar berarti tetap berusaha menjaga keimanan, mengendalikan sikap, dan menghadapi ujian dengan penuh pengharapan kepada Allah.
2. Tidak mencela sakit yang sedang dialami
Ketika sakit, rasa tidak nyaman, nyeri, dan kelelahan terkadang membuat seseorang mengeluh. Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak mencela penyakit atau demam yang dialaminya.
Rasulullah SAW bersabda:
ููุง ุชูุณูุจููู ุงููุญูู ูููุ ููุฅููููููุง ุชูุฐูููุจู ุฎูุทูุงููุง ุจูููู ุขุฏูู ูุ ููู ูุง ููุฐูููุจู ุงูููููุฑู ุฎูุจูุซู ุงููุญูุฏููุฏู
โJanganlah engkau mencela demam. Karena demam itu bisa menghilangkan kesalahan-kesalahan (dosa) manusia, sebagaimana alat yang digunakan pandai besi menghilangkan kotoran besi.โ
(HR. Muslim)
Hadis tersebut mengajarkan bahwa sakit dapat menjadi sebab mendapatkan pengampunan dosa. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu menjaga lisannya dan tidak menjadikan penyakit sebagai alasan untuk mencela ketetapan Allah.
Tentu saja, menyampaikan keluhan kepada keluarga atau tenaga kesehatan untuk mendapatkan pertolongan bukanlah hal yang sama dengan mencela penyakit. Keluhan yang disampaikan untuk mencari bantuan merupakan bagian dari ikhtiar.
3. Memperbanyak istighfar dan taubat
Sakit dapat menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri. Seorang Muslim dapat memanfaatkannya untuk memperbanyak istighfar, berdoa, dan bertaubat kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
ููู ูุง ุฃูุตูุงุจูููู ู ู ููู ู ูุตููุจูุฉู ููุจูู ูุง ููุณูุจูุชู ุฃูููุฏููููู ู ููููุนูููู ุนููู ููุซููุฑู
โDan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).โ
(QS. Asy-Syura: 30)
Ayat ini mengingatkan manusia untuk melakukan evaluasi diri dan tidak melupakan taubat. Namun, bukan berarti setiap penyakit pasti disebabkan oleh dosa tertentu. Sakit dapat menjadi ujian, sarana penghapusan dosa, atau sebab peningkatan derajat seseorang di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
โCobaan itu akan senantiasa bersama orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, baik berkaitan dengan dirinya, anaknya, ataupun hartanya, sampai dia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa.โ
(HR. At-Tirmidzi)
Karena itu, ketika sakit, mari memperbanyak istighfar dan taubat, sekaligus tetap berbaik sangka kepada Allah SWT.
4. Tetap melaksanakan ibadah wajib sesuai kemampuan
Sakit tidak menggugurkan kewajiban ibadah begitu saja. Islam memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan, termasuk dalam pelaksanaan salat.
Allah SWT berfirman:
ููุงุชูููููุง ุงููููููู ู ูุง ุงุณูุชูุทูุนูุชูู ู
โMaka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.โ
(QS. At-Taghabun: 16)
Dalam kondisi sakit, pelaksanaan salat dapat disesuaikan dengan kemampuan:
- Jika tidak mampu salat sambil berdiri, diperbolehkan salat sambil duduk.
- Jika tidak mampu duduk, dapat salat sambil berbaring sesuai ketentuan.
- Jika tidak mampu melakukan gerakan secara normal, dapat melaksanakan salat dengan isyarat sesuai kemampuan dan tuntunan fikih.
- Jika penggunaan air membahayakan kondisi kesehatan atau tidak memungkinkan, tayamum dapat dilakukan sesuai ketentuannya.
- Dalam kondisi tertentu, terdapat keringanan terkait penggabungan salat (jamak) sesuai ketentuan fikih dan kondisi yang dialami.
Prinsipnya, jangan meninggalkan ibadah wajib hanya karena sedang sakit. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan dan tuntunan syariat.
5. Tidak meminta kematian karena penderitaan yang dialami
Rasa sakit yang berat terkadang membuat seseorang merasa putus asa. Dalam keadaan seperti itu, seorang Muslim perlu berusaha menjaga harapan dan tidak mengharapkan kematian karena penderitaan yang sedang dialami.
Rasulullah SAW bersabda:
โJanganlah salah seorang di antara kalian berangan-angan untuk mati karena musibah yang menimpanya. Kalau memang harus berangan-angan, hendaknya dia mengatakan, โYa Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku. Dan matikanlah aku jika kematian itu baik untukku.โโ
(HR. Bukhari dan Muslim)
Doa tersebut mengajarkan seorang Muslim untuk menyerahkan urusan hidup dan mati kepada Allah SWT.
Dalam praktiknya, orang yang mengalami sakit berat tetap membutuhkan dukungan, pendampingan, dan pertolongan medis. Ketika muncul keputusasaan atau keinginan mengakhiri hidup, keluarga perlu memberikan perhatian dan mencari bantuan profesional yang sesuai.
6. Berikhtiar mencari pengobatan yang halal
Islam mengajarkan umatnya untuk berikhtiar ketika mengalami sakit. Selain berdoa, seorang Muslim dianjurkan untuk mencari pengobatan yang sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan.
Rasulullah SAW bersabda:
โSesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, melainkan Dia juga menurunkan obatnya.โ
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dengan redaksi dan penilaian hadis yang beragam dalam riwayat-riwayat terkait)
Ikhtiar pengobatan dapat dilakukan melalui berbagai cara yang dibenarkan, antara lain:
- Pengobatan medis, seperti pemeriksaan dokter, penggunaan obat, dan tindakan medis yang sesuai dengan kebutuhan.
- Pengobatan tradisional yang aman, apabila memiliki dasar dan tidak membahayakan kesehatan.
- Ruqyah syar’iyyah, berupa doa dan bacaan yang sesuai dengan tuntunan syariat.
Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW adalah:
ุงููููููู ูู ุฑูุจูู ุงููููุงุณู ุฃูุฐูููุจู ุงููุจูุฃูุณู ููุงุดููููู ููุฃูููุชู ุงูุดููุงููู ููุง ุดูููุงุกู ุฅููููุง ุดูููุงุคููู ุดูููุงุกู ููุง ููุบูุงุฏูุฑู ุณูููู ูุง
โYa Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah kesusahan dan sembuhkanlah. Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.โ
(HR. Bukhari dan Muslim)
Doa dan pengobatan medis dapat berjalan bersama. Tawakal kepada Allah bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar yang diperlukan.
7. Tidak berobat dengan cara yang haram atau membahayakan
Dalam mencari kesembuhan, seorang Muslim perlu memperhatikan cara dan sarana pengobatan yang digunakan. Tujuan yang baik tidak otomatis membenarkan semua metode pengobatan.
Beberapa hal yang perlu dihindari antara lain:
- Praktik pengobatan yang mengandung kesyirikan atau bertentangan dengan tuntunan tauhid.
- Penggunaan metode yang mengandung unsur penipuan, eksploitasi, atau membahayakan pasien.
- Penggunaan bahan obat yang haram atau najis tanpa pertimbangan hukum dan kebutuhan yang sesuai.
- Pengobatan yang tidak memiliki dasar keamanan dan berpotensi menimbulkan bahaya.
Terkait bahan obat, penilaian halal dan haram perlu memperhatikan jenis bahan, proses pembuatannya, serta kondisi kebutuhan medis. Dalam keadaan darurat, terdapat ketentuan fikih yang perlu dikonsultasikan kepada ulama yang kompeten bersama tenaga kesehatan.
Yang terpenting, jangan sampai keinginan untuk sembuh mendorong seseorang menempuh jalan yang bertentangan dengan ajaran Islam atau membahayakan dirinya.
8. Jika sakit parah dan mendekati akhir kehidupan, persiapkan diri
Ketika seseorang mengalami sakit parah dan berada dalam kondisi yang mengarah pada akhir kehidupan, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Pendampingan keluarga dan perhatian terhadap kebutuhan pasien menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
Pertama, menyelesaikan urusan utang.
Jika masih memiliki utang, berusaha menyelesaikan atau memberikan informasi yang jelas kepada keluarga mengenai kewajiban tersebut.
Kedua, meminta maaf kepada orang lain.
Memanfaatkan kesempatan untuk memperbaiki hubungan, meminta maaf atas kesalahan, dan menghindari perselisihan yang belum terselesaikan.
Ketiga, menyampaikan wasiat.
Menyampaikan wasiat yang sesuai dengan ketentuan syariat dan hukum yang berlaku, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan amanah serta kewajiban yang belum diselesaikan.
Keempat, membimbing dengan kalimat tauhid secara lembut.
Orang yang sedang menghadapi sakaratulmaut dapat dibimbing untuk mengingat Allah dan mengucapkan kalimat la ilaha illallah dengan cara yang lembut dan tidak memaksa.
Pendamping tidak perlu memerintah dengan cara yang membuat pasien tertekan atau kebingungan. Perhatikan kondisi kesadaran, kemampuan mendengar, dan kenyamanan orang yang sedang sakit. Tujuan pendampingan adalah membantu, bukan menambah beban.
Penutup: Sakit Menjadi Pengingat untuk Lebih Dekat kepada Allah
Sakit adalah bagian dari perjalanan kehidupan manusia. Tidak ada seorang pun yang menginginkan sakit, tetapi setiap Muslim perlu mempersiapkan diri menghadapi ujian tersebut dengan sikap yang benar.
Melalui sakit, kita belajar tentang kesabaran, pentingnya berdoa, memperbanyak istighfar, menjaga ibadah, dan melakukan ikhtiar pengobatan. Sakit juga mengingatkan kita bahwa kesehatan merupakan nikmat yang perlu disyukuri.
Karena itu, ketika sakit datang, jangan hanya berfokus pada rasa sakitnya. Jadikan kesempatan tersebut sebagai ruang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan tetap berusaha mendapatkan kesembuhan dengan cara yang baik.
Semoga Allah SWT memberikan kesembuhan kepada saudara-saudara kita yang sedang sakit, menguatkan kesabaran mereka, mengangkat derajatnya, serta menjadikan setiap ujian sebagai jalan mendapatkan kebaikan dan pahala. Aamiin.
Ngaji Sabtu Pagi, wisma Ainur Rofiq Kotagede Yogyakarta, 15 Rabi’ul Akhir 1448/ 26 Sept 2026
Bersama: Ustadz Budi Setiawan
Dirangkum oleh: Ibnu Arsjad el-Quthaghidiy
