Jaga Kesehatan Gigi, ‘Aisyiyah Kotagede Bahas Dampak Kerapuhan Gigi pada Dewasa dan Lansia

Bagikan

KOTAGEDE – Kesehatan gigi dan mulut menjadi bagian penting dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Persoalan gigi yang sering dianggap sepele ternyata dapat berdampak pada kondisi kesehatan lainnya apabila tidak mendapatkan perhatian dan perawatan yang baik.

- Advertisement -

Hal tersebut menjadi perhatian Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kotagede dalam pengajian pimpinan yang digelar Rabu, 16 September 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Berbagai Efek dari Kerapuhan Gigi” dengan menghadirkan drg. Ambarwati Triwinahyu sebagai narasumber.

Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mengingat kembali pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Sebelumnya, pada 12 September 2026 diperingati Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional dengan tema “Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat.”

Artikel Lainnya
1 of 131

drg. Ambarwati Triwinahyu merupakan dokter gigi yang pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja. Sebelum purna tugas, ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Farmasi, Alat Kesehatan dan Makanan Minuman Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta.

Ketua PCA Kotagede, Muftiyah Hidayati, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kesehatan gigi perlu mendapatkan perhatian serius. Menurutnya, persoalan yang berawal dari kerapuhan gigi dapat berdampak pada kesehatan organ tubuh lainnya.

“Gigi itu sangat penting diperhatikan karena berawal dari kerapuhan gigi akan menjalar sampai ke organ tubuh lainnya,” ujarnya.

Karena itu, Muftiyah mengajak para peserta pengajian untuk menyimak materi yang disampaikan drg. Ambarwati dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Mari kita perhatikan betul apa yang disampaikan oleh drg. Ambarwati, agar kita berupaya sehat dengan senyum yang sehat karena ditopang gigi yang kuat,” lanjutnya.

Baca Juga :   Ketua PP Muhammadiyah Ungkap Tiga Prinsip Pembelajaran Berkualitas

Pentingnya Perawatan Gigi bagi Dewasa dan Lansia

Mengawali penyampaian materi, drg. Ambarwati mengaku senang mendapat kesempatan untuk kembali berbagi pengetahuan sesuai dengan latar belakang pendidikannya sebagai dokter gigi.

Ia mengatakan, selama beberapa tahun terakhir, materi yang disampaikan dalam berbagai kegiatan lebih banyak berkaitan dengan amanah yang pernah dijalankannya di Dinas Kesehatan. Kesempatan berbagi tentang kesehatan gigi membuatnya kembali mengingat berbagai persoalan yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut.

“Rasanya saya kembali ke habitat saya yang sudah lama sekali tidak berkecimpung sesuai dengan basic pendidikan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ambarwati mengangkat materi “Perawatan Gigi untuk Dewasa dan Lansia”. Menurutnya, menjaga kesehatan gigi bukan hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh.

Ada sejumlah manfaat yang dapat diperoleh dari perawatan gigi secara baik, antara lain mencegah gigi berlubang dan karang gigi, mencegah penyakit gusi seperti gingivitis dan periodontitis, serta mencegah bau mulut.

Selain itu, kesehatan gigi dan mulut juga berkaitan dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Infeksi yang terjadi di dalam mulut dapat berhubungan dengan berbagai kondisi kesehatan, termasuk penyakit jantung dan diabetes.

“Menjaga kesehatan gigi juga dapat menghemat biaya karena mencegah lebih murah daripada mengobati,” jelasnya.

Masalah Gigi pada Orang Dewasa dan Lansia

Ambarwati kemudian menjelaskan sejumlah permasalahan gigi yang sering dialami orang dewasa dan lansia. Beberapa di antaranya adalah gigi berlubang atau karies, terutama pada bagian akar gigi, karang gigi, gigi ompong, keausan gigi, halitosis atau bau mulut, serta berbagai kondisi lain yang terjadi di dalam rongga mulut.

Menurutnya, persoalan gigi dan mulut tidak seharusnya dibiarkan begitu saja. Gangguan pada gigi dapat menimbulkan berbagai keluhan lain.

Baca Juga :   PCA Kotagede Gelar Pesantren Ramadhan 1447 H

Gigi geraham bungsu yang mengalami impaksi maupun gigi berlubang dalam, misalnya, dapat memicu pusing atau sakit kepala. Sementara itu, bakteri dari abses gigi juga berpotensi menyebabkan infeksi yang menyebar.

Gangguan pada gigi juga dapat memengaruhi proses pencernaan. Ketika gigi mengalami sakit atau gangguan, makanan tidak dapat dikunyah secara sempurna sebelum masuk ke dalam sistem pencernaan.

Ambarwati juga menjelaskan mengenai jaringan periodontal yang menjadi jaringan penyangga gigi. Jika jaringan tersebut mengalami kerusakan, dapat terjadi penyakit pada jaringan penyangga gigi yang bersifat irreversible atau tidak dapat dikembalikan seperti semula. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan kehilangan gigi.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa bakteri yang terdapat pada gusi memiliki peluang berkaitan dengan sejumlah penyakit sistemik, di antaranya diabetes melitus, penyakit kardiovaskular, dan masalah penggumpalan darah.

Peserta Antusias Bertanya

Sebelum mengakhiri materi, Ambarwati membuka kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan. Sejumlah pertanyaan pun disampaikan dan mendapatkan penjelasan dari narasumber.

Suasana pengajian menjadi semakin hidup karena peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga dapat berkonsultasi dan berbagi pengalaman mengenai persoalan kesehatan gigi dan mulut yang mereka alami.

Pengajian pimpinan PCA Kotagede tersebut juga dihadiri mahasiswa doktoral Sophia University, Jepang, Eiko Shomura, yang sedang melakukan penelitian di Yogyakarta.

Eiko sempat memperkenalkan diri kepada para peserta. Ia mengaku senang dapat mengikuti pengajian dan bertemu dengan ibu-ibu ‘Aisyiyah Kotagede.

Selain mendapatkan pengalaman baru, Eiko juga merasa bersyukur dapat diterima dan berinteraksi dengan masyarakat di Kotagede.

Kehadirannya menjadi bagian menarik dari pengajian tersebut. Di tengah pembahasan tentang kesehatan gigi dan mulut, pertemuan itu juga memperlihatkan bagaimana ruang-ruang pengajian ‘Aisyiyah dapat menjadi tempat bertemu, belajar, dan berbagi pengalaman dengan siapa saja. (umih)


Bagikan

Leave a Reply