
PCA Kotagede Gelar Tasyakuran Milad ‘Aisyiyah ke-109 di Masjid QOV
Kotagede – Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kotagede menggelar tasyakuran Milad ‘Aisyiyah ke-109 pada Ahad, 7 Juni 2026, bertempat di Masjid Al Afiyah Asad Humam yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid QOV (Quranic Ocean View). Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah se-Kotagede, dengan masing-masing ranting mengirimkan dua orang peserta.
Dalam sambutan selamat datang, Hj. Khaelesha Afiati Asad Humam selaku pengelola Yayasan Al Afiyah Asad Humam menyampaikan informasi mengenai lembaga pendidikan yang dikelolanya. Menurut Afiati, masyarakat lebih mengenal kompleks tersebut sebagai Masjid QOV, padahal QOV merupakan nama kampusnya, sementara nama pondok pesantrennya adalah Jamaher QOV.
Ia menjelaskan bahwa Pondok Jamaher QOV saat ini memiliki 25 santri putra dengan program tahfiz Al-Qur’an selama dua tahun hingga mencapai target hafalan 30 juz. Program santri putra kini memasuki tahun ketiga penyelenggaraan dengan tiga mudir (pengasuh), sedangkan pondok putri telah berjalan selama tujuh tahun.
Santri yang diterima berasal dari lulusan SMP dan mengikuti pendidikan formal melalui PKBM di luar pondok. Para santri juga dapat melanjutkan pendidikan ke SMA Muhammadiyah Imogiri melalui kerja sama yang telah terjalin. Sementara itu, lulusan SMA yang masuk ke pondok mengikuti program takhassus dengan sistem asrama.
Ketua PCA Kotagede, Muftiyah Hidayati, dalam sambutannya mengajak seluruh peserta untuk bersyukur atas nikmat Allah Swt. sehingga dapat berkumpul dalam acara tasyakuran Milad ‘Aisyiyah ke-109.
Muftiyah menyampaikan bahwa rangkaian peringatan Milad tahun ini telah diawali dengan berbagai kegiatan, antara lain napak tilas perjuangan pendiri Muhammadiyah, seminar kesehatan, serta jalan santai menyusuri kampung-kampung di wilayah Kotagede. Pengajian tasyakuran ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa ‘Aisyiyah merupakan organisasi perempuan tertua di Indonesia yang berdiri pada 19 Mei 1917 atau bertepatan dengan 27 Rajab 1335 Hijriah. Pada Milad ke-109 ini, ‘Aisyiyah mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian.”
Menurut Muftiyah, dakwah kemanusiaan merupakan ruh perjuangan ‘Aisyiyah sejak awal berdirinya. Mengutip sambutan Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, ia menyampaikan bahwa dakwah kemanusiaan sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan. Dakwah tidak hanya diwujudkan melalui ceramah, tetapi juga melalui tindakan nyata dalam bidang pendidikan, kesehatan, hukum, sosial, dan berbagai bidang lainnya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Muftiyah juga menyampaikan kabar menggembirakan bahwa PCA Kotagede memperoleh penghargaan dari Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta karena berhasil meraih nilai asesmen tertinggi dalam program penilaian cabang unggul.
“Prestasi ini menjadi motivasi bagi kita semua untuk terus meningkatkan ghirah dalam memajukan organisasi perempuan berkemajuan,” ujar Muftiyah.
Acara tasyakuran dilanjutkan dengan pengajian yang disampaikan oleh Ustaz Muhammad Ulinnuha, salah satu pengajar di Pondok Jamaher QOV. Dalam tausiyahnya, Ulinnuha menekankan pentingnya adab dalam memberikan nasihat, termasuk kepada para pemimpin dan orang-orang yang mengemban amanah.
Menurutnya, nasihat harus disampaikan dengan cara yang baik dan tidak mempermalukan orang yang dinasihati. Ia mengutip sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i:
“Barang siapa menasihati saudaranya secara rahasia, maka ia telah berbuat baik dan menghormatinya. Barang siapa menasihatinya di depan umum, maka sesungguhnya ia telah mencela dan menghinanya.”
Karena itu, seseorang perlu memperhatikan waktu, tempat, cara, dan isi nasihat yang akan disampaikan agar tujuan perbaikan dapat tercapai tanpa menimbulkan fitnah maupun kesalahpahaman.
Ulinnuha juga mengingatkan pentingnya mencintai sesama sebagaimana mencintai diri sendiri serta menghargai setiap kebaikan sekecil apa pun. Ia mencontohkan kisah seorang perempuan yang rutin membersihkan masjid pada masa Rasulullah saw. Ketika perempuan tersebut wafat tanpa sepengetahuan Rasulullah, beliau merasa kehilangan, mencari makamnya, lalu mendoakan dan menyalatkannya. Kisah tersebut menunjukkan betapa Islam sangat menghargai setiap amal kebaikan yang dilakukan seseorang.
Menutup pengajiannya, Ulinnuha berpesan agar seluruh peserta menjadi pribadi yang tidak membeda-bedakan orang lain, senantiasa menghargai sesama, dan terus berbuat kebaikan meskipun terlihat kecil.
“Sekecil apa pun kebaikan yang mampu kita lakukan, maka lakukanlah,” pesannya. (umih)
