
Patahnya Waringin Sepuh dan Simbol Memori Kotagede yang Terancam

Bagi mereka yang tinggal di wilayah eks RK Alun-Alun bagian selatan dan Kelurahan Jagalan bagian timur, pohon waringin sepuh (beringin tua) merupakan ancer-ancer paling gampang untuk dibagikan ke para tamu yang baru pertama bersambang ke rumah.
Mereka bisa diarahkan ke lokasi ini terlebih dahulu karena mudah ditemukan. Setelah itu, baru diminta mengikuti rute kelak-kelok gang yang relatif ruwet menuju rumah.
Waringin sepuh di lompleks Makam Raja-Raja Mataram Kotagede memang mencolok. Tingginya sekitar 15-25 meter.
Warga yang tinggal di sekitar waringin sepuh hampir pasti selalu melihat waringin sepuh ini dari halaman belakang atau depan rumah mereka. Betapa tinggi dan kentaranya pohon tersebut, meski dilihat dari kejauhan.
Hingga menjelang dasawarsa terakhir abad ke-20, waringin sepuh berdiri sebelahan dengan satu waringin lainnya, yang dianggap lebih muda. Letaknya berada di seberang waringin sepuh, tepatnya sisi utara jalan yang mengarah ke gapura paduraksa Masjid Gedhe Mataram.
Sketsa kompleks pasareyan Kotagede yang digambar Mas Sastrosoendjojo pada 1904 menggambarkan bahwa tinggi waringin muda lebih pendek dari waringin sepuh.
Sayangnya, seturut kesaksian Mitsuo Nakamura, waringin muda sudah roboh pada awal 1990-an saat antropolog asal Jepang itu kembali berkunjung ke Kotagede.
Bekas tumbuhnya waringin itu menyisakan sebuah lubang besar di tanah. Limbah rumah tangga yang mengalir di sekitar pohon dianggap jadi penyebab melemahnya akar penunjang waringin, sehingga memperbesar risiko robohnya pohon saat dihantam badai.
Apa yang dulu dikhawatirkan pada waringin sepuh akhirnya terjadi. Pohon waringin sepuh tumbang dua kali, yakni pada 29 Januari dan 11 Februari 2026. Dahannya yang patah menimpa atap dan kendaraan yang terparkir di sekitanya.
Hujan badai dan angin kencang di awal 2026 sejauh ini dianggap jadi penyebab. Kini, pohon beringin yang terletak di Dhondhongan itu masih berdiri, namun tak setinggi sebelumnya.
Terjadi pemangkasan terhadap pohon tersebut, yang diawali dengan proses sugengan oleh para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada 13 Februari 2026.
Saat ini batang waringin sepuh tinggal separuh. Mirip pemandangan sebuah tongkat yang patah. Daun-daunnya tak selebat dulu. Hanya ada beberapa gerumbul daun di bagian tengah batang.
Simbol yang Terancam
Rebahnya sebuah pohon beringin umumnya kerap dikaitkan dengan isyarat akan mendekatnya ajal seorang raja atau bangsawan Jawa. Namun, tafsir lain yang non-elitis juga bisa dipakai untuk membaca peristiwa itu.
Tumbangnya sebuah pohon tua juga dapat dipahami sebagai ancaman terhadap simbol memori masyarakat. Ingatan, atau memori suatu komunitas, tak hanya hidup di kepala, namun juga memiliki wujud materialnya sebagai simbol. Simbol itu bisa berupa monumen atau alam (Jenea Tallentire, 2001, hlm. 202).
Bila simbol itu hilang, maka identitas masyarakat juga berpotensi lenyap. Waringin sepuh Kotagede telah menjadi simbol, atau bisa dikatakan pula “monumen hidup”, tentang lanskap ekologis Kotagede tempo dulu.
Sejarah lisan telah banyak menyebut bahwa wilayah Kotagede dahulu adalah alas mentaok. Konon, pohon mentaok tumbuh subur di Kotagede sebelum kerajaan Mataram Islam berdiri.
Dongeng pohon mentaok ini satu tipe dengan kisah waringin sepuh di Dhondhongan. Sunan Kalijaga disebut menanam pohon tersebut untuk menandai berdirinya kerajaan Mataram Islam pada akhir abad ke-16.
Walaupun hanya satu cuplik cerita lisan tentang waringin sepuh di Kotagede, fragmen ini memberi sedikit petunjuk bahwa alam Kotagede pernah cukup beragam.
Buku Toponim Kotagede: Asal Muasal Nama Tempat (2010) memuat 19 nama tempat di Kotagede, baik kampung maupun suatu lokasi, yang diambil dari nama vegetasi. Sebut saja kleco, kitren, gedrek, winong, tanjung, hingga sumber kemuning.
Perubahan tata ruang kemungkinan telah menggusur pohon-pohon di atas—beserta dengan produksi pengetahuan tentangnya. Ruang hidup untuk pohon-pohon ini kian mengecil.
Orang jadi sulit mendeskripsikan pohon mentaok, lantaran mereka juga sudah jarang menemukan dan melihatnya secara langsung. Padahal, mentaok sudah lekat dengan Kotagede. Jalan di sisi timur Pasar Legi dinamakan Jalan Mentaok Raya. Dan bayangan orang tentang Kotagede pra-Mataram Islam selalu merujuk pada alas mentaok.
Kelangsungan pohon beringin, khususnya waringin sepuh di Dhondhongan, tak kurang krusialnya dengan mentaok. Selama kurang lebih 100 tahun terakhir, ia sebenarnya telah jadi simbol terakhir akan memori ekologi Kotagede masa Mataram.
Waringin Sepuh, Etika Lingkungan, dan Rekaman Lintas Generasi
Satu mitos tentang waringin sepuh Kotagede memberi gambaran lain bagaimana keberadaan pohon ini sempat menciptakan satu produksi pengertahuan di tingkat masyarakat. Waringin sepuh di Dhondhongan ini pernah mendapat julukan Nyai Panggung.
Nyai Panggung tak sendiri. Ia memiliki pasangan, yaitu Kyai Roso, pohon beringin di sebelah utaranya yang lebih dulu hilang sejak 1990 (Erwito Wibowo, dkk., 2010: 115). Julukan ini membuat kedua pohon tersebut ibarat ibu dan bapak.
Tak begitu jelas sejak kapan sebutan ini muncul. Namun, personifikasi terhadap waringin sepuh itu sebenarnya dapat dianggap sebagai satu cara untuk mengakui eksistensi pohon ini sebagai sesama makhluk.
Ada semacam kode moral yang membuat mereka merasa memiliki relasi dengan pohon beringin ini. Sebutan “Nyai” seolah mengindikasikan bentuk relasional tersebut seperti hubungan antara ibu dan anak.
Ibu, sebagai perempuan, adalah simbol kehidupan dan kesuburan. Ibu selalu mengayomi dan melindungi. Karena itu, balas budi paling baik adalah dengan menghormati dan memuliakannya.
Barangkali, lewat etika lingkungan hidup seperti itu, waringin sepuh di Kotagede ini bisa bertahan cukup panjang dan mengisi kenangan lintas generasi. Sebuah jepretan foto hitam-putih telah mendokumentasikan pohon ini di tahun 1896.
Foto itu menampilkan dua orang pria berpakaian adat Jawa yang berdiri di bawah waringin sepuh Kotagede. Tampak pula permukaan tanah yang masih terbuka, belum tertutup oleh paving block batu andesit. Lalu, terdapat dua pohon lagi di depan bangsal dan waringin sepuh.
Foto ini diberi takarir “Reusachtige waringin te Pasar Gede” dan masih bisa diakses di laman Leiden University Libraries. Foto ini pula yang jadi cover buku ikonik Mitsuo Nakamura tentang Kotagede, Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin.
Achmad Sunjayadi, dalam tulisannya di Kompas (27 Februari 2026) berjudul “Berpose di bawah Pohon Beringin pada Masa Kolonial”, menjelaskan betapa pohon beringin pernah dianggap unik oleh orang Eropa.
Pohon ini pun kerap jadi subjek fotografi di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, tak terkecuali waringin sepuh Kotagede.
Sementara itu, laporan di koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie pada 15 Januari 1904 memuat fenomena kemunculan kolom asap putih yang mengambang dan lenyap di atas waringin sepuh Kotagede setiap senja. Fenomena ini cukup menarik perhatian saat itu.
Foto dan laporan di koran Belanda itu sedikit banyak merekam ketakjuban sekaligus persepsi orang Eropa terhadap vegetasi di Kotagede pada masa penjajahan.
Mitsuo Nakamura juga mengabadikan pohon beringin Kotagede pada 1971. Foto tersebut sejatinya hanya menampilkan tampak depan pintu masuk Dhondhongan. Namun, daun kedua pohon beringin terlihat sedikit, bersama dengan daun beberapa pohon lain.
Mereka mengapit dan meneduhkan seruas jalan yang menuju gapura paduraksa masjid. Terlihat pula akses ke Dhondhongan yang saat itu masih berupa jalan undakan, bukan gelondoran seperti sekarang.
Kenangan orang Kotagede (yang lahir sesudah kemerdekaan Indonesia) terhadap waringin sepuh sering terkait dengan memori masa kecil. Sulur-sulur waringin sepuh yang menjuntai ke bawah kerap dijadikan alat gelantungan.
Ini pula yang pernah dialami dan dilakukan penulis pada awal tahun 2000-an. Masa-masa saat Dhondhongan belum banyak kendaraan yang terparkir di sana.
Berhenti Anggap Manusia Pusat Segalanya
Cuaca buruk dan perubahan iklim yang menyebabkan patahnya sebagian batang waringin sepuh Kotagede di awal 2026 mungkin memang bisa disalahkan.
Namun, penting pula untuk mulai memeriksa faktor lain yang menyebabkan pohon ini secara perlahan tampak meranggas pada 10-15 tahun terakhir, hingga akhirnya roboh separuh.
Perubahan dari peristiwa ini sangat mencolok: area Dhondhongan kini kehilangan peneduhnya—satu fenomena yang tampaknya belum pernah dialami pada kurun satu abad sebelumnya.
Untuk mencegah kemungkinan terburuk, etika lingkungan hidup yang pernah menjaga waringin sepuh Kotagede selama bertahun-tahun barangkali dapat dibangkitkan lagi, namun disesuaikan dengan jiwa zaman saat ini.
Konsep mother earth Islam yang diulas AS Rosyid dalam buku Melawan Nafsu Merusak Bumi: Prinsip Etika Lingkungan Hidup Islami (2025) barangkali bisa dipertimbangkan.
Pohon, dalam hal ini waringin sepuh Kotagede, dapat dianggap bagian dari ibu-bumi yang jadi saksi Allah SWT akan seluruh perbuatan manusia.
Sebagai sosok feminin dan perempuan perkasa, satu keyakinan di hati umat mesti dihidupkan: bahwa pohon tersebut—sebagai kepanjangan Allah SWT—dapat menghukum manusia dengan karma ekologis bila mereka melakukan dosa-dosa maskulinitas (AS Rosyid, 2025: 53-55).
Keyakinan ini juga harus diresapi di sektor birokrasi. Setiap kebijakan yang diputuskan di sekitar area pohon tersebut perlu lahir dari pertimbangan ekologis dan historis. Kurangi menjadikan ego dan nafsu manusia sebagai pusat keputusan. Sebab, meminjam kutipan di buku AS Rosyid, “Bagus bumi, bagus iman. Buruk bumi, buruk iman”.
Hilangnya sebagian waringin sepuh di salah satu situs sakral Kotagede ini telah membuka potensi akan konsekuensi buruk. Selain dampak lingkungan, simbol memori masyarakat pun juga terancam.
Jika pohon ini kelak hilang sepenuhnya, maka sejarah (ekologi) Kotagede juga akan terlupakan.
Tak ada lagi ikon untuk ancer-ancer para tamu. Tak ada lagi pemandangan kemegahan pohon ini dari halaman rumah. Pun, para fauna yang sebelumnya hidup di waringin sepuh bakal kehilangan rumahnya.
Waringin sepuh Kotagede, yang sebelumnya eksis sebagai “monumen hidup”, berpeluang hanya terkenang lewat cerita dari mulut ke mulut.
Ahmad Yasin
