Gerakan Unggulan ‘Aisyiyah Kotagede: Daycare Lansia, Menguatkan UMKM, Merawat Budaya dan Mengembangkan Pendidikan

Bagikan

Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kotagede terus mengembangkan berbagai program yang tidak hanya berorientasi pada penguatan organisasi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

- Advertisement -

Salah satu yang menarik adalah perhatian terhadap warga lanjut usia. Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, lansia juga membutuhkan ruang untuk tetap berkegiatan, bersilaturahmi, belajar, menjaga kesehatan, dan merasa diperhatikan. Karena itu, Daycare Lansia menjadi salah satu program yang memiliki nilai penting sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat saat ini.

Program-program tersebut menyentuh berbagai bidang, mulai dari pemberdayaan ekonomi warga ‘Aisyiyah, pelestarian budaya dan sejarah Kotagede, pendidikan anak usia dini, hingga pendampingan bagi warga lanjut usia.

Artikel Lainnya
1 of 123

Setidaknya ada empat program unggulan PCA Kotagede yang menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan gerakan ‘Aisyiyah yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Program tersebut bergerak di empat bidang penting, yaitu pemberdayaan lansia, pemberdayaan UMKM, perawatan warisan budaya, , dan pengembangan amal usaha pendidikan.

1. Daycare Lansia: Memberi Ruang untuk Tetap Aktif dan Berdaya

Program Daycare Lansia menyasar warga berusia 58 tahun ke atas. Program ini menjadi ruang untuk menjaga silaturahmi, meningkatkan aktivitas positif, sekaligus memberikan perhatian terhadap warga lanjut usia.

Kegiatan tahsin dilaksanakan setiap senin dan kamis pagi serta senam setiap sabtu sore. Kegiatan berlangsung di lima masjid Muhammadiyah wilayah Ranting Basen. Adapun sumber pendanaan berasal dari infak setiap pertemuan dan takmir masjid. Kegiatan yang dilakukan tidak hanya berkaitan dengan keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan, rekreasi, dan sosial. Bentuk kegiatannya meliputi:

  • Tadarus.
  • Materi Kemuhammadiyahan dan ‘Aisyiyah.
  • Materi kesehatan.
  • Materi ibadah.
  • Rekreasi dan games.
  • Pemeriksaan kesehatan.
  • Senam ‘Aisyiyah Bahagia.
  • Rihlah.
  • Bakti sosial.

Daycare Lansia menjadi bentuk perhatian bahwa memasuki usia lanjut bukan berarti berhenti beraktivitas. Lansia tetap membutuhkan ruang untuk belajar, bertemu, bergerak, dan menikmati kebersamaan.

2. Pemberdayaan UMKM melalui Festival Makanan Halal

Festival Makanan Halal menjadi salah satu program unggulan Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) PCA Kotagede. Kegiatan ini menjadi wadah bagi UMKM binaan ‘Aisyiyah untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan produk mereka.

Baca Juga :   Rupamu Salurkan Laba Penjualan Kaos Untuk Donasi Palestina

Program ini memiliki beberapa tujuan, di antaranya meningkatkan pemberdayaan UMKM warga ‘Aisyiyah, meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya perdagangan yang syar’i melalui Pengajian Bisnis Islami, mendorong pelaku UMKM memiliki sertifikat halal, serta membuka peluang pemasaran produk UMKM.

Festival ini menyasar UMKM PRA se-Cabang Kotagede. Kepanitiaannya dilaksanakan secara kolaboratif antara MEK PCA Kotagede dengan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) yang bertugas. Pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh tiga PRA secara bergiliran setiap satu tahun sekali. Sumber pendanaan berasal dari MEK PCA Kotagede, PCA Kotagede, sponsorship, donatur, serta kontribusi peserta bazar dari seluruh PRA se-PCA Kotagede.

Festival Makanan Halal 2025 yang diselenggarakan oleh PCA Kotagede

Bentuk kegiatannya antara lain:

  • Expo produk halal unggulan PRA.
  • Bazar produk halal UMKM PRA.

Pengembangan UMKM melalui Digital Mart

Pengembangan UMKM juga diarahkan pada pemanfaatan teknologi digital. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu momentum bagi pelaku UMKM untuk beradaptasi dengan pemasaran secara online.

Beberapa praktik yang telah berkembang di tingkat ranting antara lain Bukalapak PRA Prenggan, yang melayani jual beli secara online sekaligus pengantaran ke lokasi, serta Warung Online Basen yang menawarkan berbagai kebutuhan warga melalui layanan online. Selain digitalisasi, pengembangan UMKM dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan dengan menggandeng berbagai pihak, seperti Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM, BAZNAS Kota Yogyakarta, serta UIN Sunan Kalijaga.

Gerakan Lumbung Hidup ‘Aisyiyah

Program ekonomi juga dikembangkan melalui GLHA atau Gerakan Lumbung Hidup ‘Aisyiyah. Salah satu bentuknya adalah pembentukan Kelompok Wanita Tani ‘Aisyiyah (KWTA) di setiap ranting. Program ini mendorong pemanfaatan lahan perkotaan maupun lahan sempit untuk kegiatan produktif.

Semangat yang dibangun sederhana, tetapi penting: menanam apa yang dimakan dan makan apa yang ditanam. Selain bercocok tanam, warga juga diberikan pelatihan pengolahan pangan dan pemasaran hasilnya. Dalam pelaksanaannya, PCA Kotagede dapat bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Gapoktan, serta UGM.

3. Merawat Warisan Budaya melalui ACET

Program unggulan kedua adalah ACET atau ‘Aisyiyah Cultural Education Tourism. Program ini merupakan bentuk pendampingan terhadap Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. ACET dikembangkan sebagai sarana untuk mengenalkan kekayaan sejarah dan budaya Kotagede kepada masyarakat maupun wisatawan.

Kotagede memiliki kekayaan sejarah yang panjang. Tidak hanya dikenal sebagai kawasan heritage, Kotagede juga memiliki cerita tentang sejarah Keraton, perkembangan Islam, masjid-masjid Muhammadiyah, serta tokoh-tokoh Muhammadiyah yang memiliki peran penting dalam perjalanan masyarakat setempat.

Baca Juga :   Karnaval Gema Takbir Warungboto Siap Digelar, Ini Dia Rute dan Hadiahnya

Melalui ACET, berbagai kekayaan tersebut dikemas menjadi pengalaman wisata yang tidak sekadar berkunjung, tetapi juga belajar. Beberapa bentuk kegiatan yang dikembangkan antara lain:

  • Wisata heritage dan sejarah Kotagede.
  • Pengenalan sejarah dan tokoh Muhammadiyah.
  • Edukasi berbagai kekhasan Kotagede.
  • Persewaan pakaian adat dan fotografi.
  • Kelas kuliner tradisional Kotagede.
  • Kelas membatik.
  • Kelas bercocok tanam dan pengolahan hasil pertanian.

Pakaian Adat dan Fotografi

Salah satu daya tarik ACET adalah persewaan pakaian yang dapat digunakan wisatawan untuk mengenal sekaligus mengabadikan suasana Kotagede. Tersedia pakaian dengan model K.H. Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah, lengkap dengan berbagai pilihan motif, kerudung, serta pakaian laki-laki. Selain itu, tersedia pula berbagai model pakaian Jawa.

Kelas Kuliner, Membatik, dan Bercocok Tanam

Pengalaman wisata juga dikembangkan melalui kelas-kelas edukatif. Wisatawan dapat mengikuti kelas kuliner untuk membuat makanan tradisional Kotagede. Ada pula kelas membatik yang memberikan kesempatan untuk mengenal dan mempraktikkan proses membatik.

Sementara itu, kelas bercocok tanam mengenalkan berbagai jenis bibit sekaligus hasil olahan pertanian. Program ini menjadi salah satu cara PCA Kotagede ikut menjaga agar kekayaan budaya dan tradisi lokal tetap hidup serta dapat dikenalkan kepada generasi berikutnya.

4. Mengembangkan Amal Usaha Pendidikan

Bidang pendidikan menjadi salah satu kekuatan ‘Aisyiyah yang terus dikembangkan dari tingkat ranting hingga cabang. PCA Kotagede memiliki 13 TK ABA dan 3 Kelompok Bermain ‘Aisyiyah. Keberadaan lembaga pendidikan tersebut menjadi bagian penting dari kontribusi ‘Aisyiyah dalam memberikan pendidikan sejak usia dini.

Melalui amal usaha pendidikan, ‘Aisyiyah tidak hanya menghadirkan layanan pendidikan, tetapi juga ikut membangun karakter anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang memiliki nilai-nilai keislaman dan kepedulian sosial.

Gerakan ‘Aisyiyah yang Dekat dengan Masyarakat

Empat program unggulan tersebut menunjukkan bagaimana PCA Kotagede berusaha menerjemahkan gerakan ‘Aisyiyah dalam berbagai bidang kehidupan.

Daycare Lansia menjadi ruang pemberdayaan dan pendampingan bagi warga lanjut usia. Festival Makanan Halal menjadi ruang pemberdayaan UMKM. ACET menjadi ikhtiar merawat warisan sejarah dan budaya Kotagede. Sementara Amal Usaha Pendidikan menjadi bagian dari investasi generasi masa depan.

Pada akhirnya, kekuatan gerakan bukan hanya terlihat dari banyaknya program, tetapi dari seberapa jauh program tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dari lansia, UMKM, budaya, hingga pendidikan, PCA Kotagede terus berusaha menghadirkan gerakan ‘Aisyiyah yang tumbuh bersama masyarakat dan menjawab kebutuhan zaman.


Bagikan

Leave a Reply