
Penutupan ToT SECARA: Saatnya Ilmu Dibawa Pulang dan Digerakkan di Cabang Ranting
JAKARTA – Training of Trainer (ToT) Sekolah Cabang Ranting (SECARA) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi ditutup.
Kegiatan yang mempertemukan para penggerak cabang dan ranting dari berbagai daerah ini tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga menjadi tempat bertemunya gagasan, pengalaman, dan semangat untuk memperkuat Persyarikatan hingga ke akar rumput.
Pada acara penutupan, sejumlah pesan dan kesan disampaikan oleh pimpinan maupun perwakilan peserta.
Apresiasi untuk PCM Rawamangun
Wakil Ketua LPCRPM PP Muhammadiyah, Drs. Muhammad Safar Nasir, M.Si., menyampaikan apresiasi mendalam kepada PCM Rawamangun yang telah menjadi tuan rumah kegiatan.
Keramahan, kedisiplinan dalam menyiapkan logistik, hingga pelayanan transportasi menjadi bagian yang mendapat perhatian. Menurutnya, pelayanan yang diberikan selama kegiatan berlangsung sangat istimewa.
Namun lebih dari itu, kegiatan SECARA diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pelatihan. Silaturahmi dan inspirasi yang telah terbangun antarpenggerak cabang harus terus dijaga dan dikembangkan.
Muhammad Safar Nasir juga menyoroti salah satu kekuatan Muhammadiyah, yakni tata kelola organisasi yang tertib dan berjalan hingga tingkat ranting.
Pesan yang terasa kuat adalah rasa syukur atas keberhasilan pelaksanaan kegiatan sekaligus harapan agar seluruh peserta mampu melanjutkan komitmen setelah kembali ke daerah masing-masing.
Jangan Terjebak Tradisi Lama
Ketua PCM Rawamangun, Welli Sakti Pasaribu, S.T., menyampaikan pesan tentang pentingnya pembaruan gaya kepemimpinan dalam Muhammadiyah.
Menurutnya, organisasi perlu terus bergerak dan tidak boleh terjebak dalam tradisi lama yang kaku. Kepemimpinan membutuhkan bahasa penggerak yang kreatif, sekaligus dibuktikan melalui tindakan nyata.
PCM Rawamangun juga didorong untuk dapat menjadi salah satu percontohan di tingkat nasional.
Perhatian terhadap berbagai wilayah juga menjadi bagian penting dalam pengembangan organisasi. Muhammadiyah perlu memberikan ruang dan perhatian secara lebih merata agar potensi kader di berbagai daerah dapat terus tumbuh.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian untuk beradaptasi dengan perkembangan dunia internasional serta keluar dari kebiasaan konvensional yang sudah tidak lagi relevan.
Kader-kader potensial juga perlu terus didorong agar kelak mampu mengambil peran strategis di tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Ilmu SECARA Harus Dibawa Pulang
Kesan dan pesan juga disampaikan oleh perwakilan peserta dari PRM Wage, Sidoarjo.
Sebagai bagian dari generasi muda Muhammadiyah, peserta menilai bahwa pengelolaan organisasi yang rapi di tingkat akar rumput menjadi sesuatu yang sangat penting.
Ilmu yang diperoleh selama mengikuti SECARA tidak boleh berhenti di ruang pelatihan. Pengetahuan tersebut harus dibawa pulang dan diterapkan di cabang maupun ranting masing-masing.
Ada pula masukan agar peserta pada kegiatan mendatang mendapatkan pembekalan mengenai protokoler dan komunikasi publik. Kemampuan tersebut dinilai penting agar para kader mampu menyambut dan mendampingi pimpinan organisasi dengan lebih profesional.
Yang tidak kalah penting, para peserta diajak untuk pulang dengan membawa kegembiraan. Sebab dakwah tidak hanya tentang program dan kegiatan organisasi. Semangat positif yang diperoleh selama pelatihan diharapkan juga dapat dirasakan oleh keluarga dan lingkungan sekitar.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada panitia, LPCRPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, serta seluruh pihak yang telah memberikan fasilitas dan pelayanan selama kegiatan berlangsung.
Dari Maumere, NTT untuk Muhammadiyah
Kesan dan pesan berikutnya datang dari peserta PRM Maumere, Nusa Tenggara Timur.
Bagi peserta, SECARA memberikan wawasan baru sekaligus motivasi untuk menjadi penggerak yang mampu menginspirasi masyarakat luas.
Ilmu yang telah diperoleh diharapkan dapat dipraktikkan di tingkat cabang dan ranting. Dengan begitu, pelatihan tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga melahirkan perubahan positif yang berkelanjutan.
Rasa syukur dan terima kasih disampaikan kepada seluruh panitia dan narasumber yang telah membersamai peserta selama kegiatan. Permohonan maaf juga disampaikan apabila selama pelaksanaan kegiatan terdapat kekurangan.
Meski kegiatan telah resmi ditutup, silaturahmi diharapkan tidak ikut berakhir. Justru setelah kembali ke daerah masing-masing, para peserta memiliki tugas baru: menghidupkan kembali semangat, pengetahuan, dan pengalaman yang telah diperoleh selama SECARA.
Bukan Sekadar Pelatihan
Penutupan ToT SECARA menjadi pengingat bahwa pengembangan cabang dan ranting bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Pelatihan hanyalah salah satu pintu untuk membuka wawasan. Setelah pintu itu terbuka, para peserta memiliki tanggung jawab untuk membawa ilmu tersebut ke tengah jamaah dan masyarakat.
Dari Rawamangun, Jakarta, semangat itu diharapkan menyebar ke berbagai cabang dan ranting Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Ilmu dibawa pulang. Silaturahmi terus dijaga. Gerakan harus dilanjutkan.
Karena kuatnya Muhammadiyah di tingkat pusat, pada akhirnya tetap membutuhkan cabang dan ranting yang hidup, bergerak, dan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
