
Saatnya Anak Muda Bergelora, Meneguhkan Masa Depan Cabang dan Ranting Muhammadiyah
JAKARTA – Cabang dan ranting yang tangguh tidak hanya ditandai dengan banyaknya aset atau megahnya gedung yang dimiliki. Lebih dari itu, kekuatan sesungguhnya terletak pada hadirnya kader-kader muda yang siap melanjutkan perjuangan. Pesan tersebut disampaikan oleh Dr. Mutiullah, M.Hum. dalam sesi Training of Trainer (ToT) Sekolah Cabang Ranting (SECARA) yang diselenggarakan LPCRPM PP Muhammadiyah.
Menurutnya, cabang dan ranting yang hidup selalu melibatkan anak-anak muda dalam setiap proses gerakannya. Sebab, masa depan Persyarikatan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangun hari ini, tetapi juga oleh siapa yang akan melanjutkannya di masa mendatang.
Dakwah Membutuhkan Strategi dan Kematangan Gerakan
Dr. Mutiullah mengawali pemaparannya dengan mengingatkan pesan Allah dalam Surah Ali Imran ayat 104.
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
Kata “segolongan” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak semua orang memiliki tugas yang sama. Ada kelompok-kelompok yang secara khusus dipersiapkan untuk menjalankan misi dakwah dan gerakan.
Karena itulah Muhammadiyah tidak bergerak secara spontan tanpa arah. Dalam menjalankan amar makruf nahi mungkar, Muhammadiyah menyusun asesmen, silabus, kurikulum, hingga berbagai perangkat pembinaan. Semua dilakukan agar dakwah berjalan secara terukur, strategis, dan berkelanjutan.
“Menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran membutuhkan strategi yang matang dan bijaksana,” tegasnya.
Gerakan Tidak Boleh Bergantung pada Satu Figur
Dalam paparannya, Dr. Mutiullah juga menyinggung berakhirnya Perang Diponegoro. Salah satu pelajaran penting yang dapat dipetik adalah bahaya ketika sebuah gerakan terlalu bergantung pada satu figur.
Ketika tokoh sentral tidak lagi ada, gerakan bisa melemah bahkan berhenti. Oleh karena itu, Muhammadiyah harus dibangun di atas ideologi, gagasan, pemikiran, dan visi yang kuat sehingga dapat diwariskan dari generasi ke generasi.
Ia mengingatkan adanya fenomena yang sering disebut sebagai “kutukan generasi ketiga”.
- Generasi pertama merintis.
- Generasi kedua menikmati hasilnya.
- Generasi ketiga menghancurkannya.
Fenomena tersebut dapat terjadi apabila kaderisasi tidak berjalan dengan baik. Karena itu, cabang dan ranting harus terus menyiapkan kader penerus yang memiliki kapasitas, komitmen, dan semangat perjuangan.
Rela Bekerja dan Rela Berjalan
Membangun cabang dan ranting tidak cukup hanya dengan wacana. Dibutuhkan kesediaan untuk bekerja dan bergerak.
“Rela bekerja, rela berjalan,” ungkapnya.
Menurutnya, organisasi modern juga membutuhkan ukuran keberhasilan yang jelas. Karena itu, keberadaan indikator kinerja atau Key Performance Indicator (KPI) penting untuk menilai sejauh mana program dan kepemimpinan berjalan sesuai tujuan.
Dengan ukuran yang terukur, setiap pimpinan dapat mengevaluasi capaian dan memperbaiki kekurangan secara berkelanjutan.
Semakin Sulit Perjuangan, Semakin Besar Pahalanya
Dr. Mutiullah mengingatkan bahwa perjuangan di cabang dan ranting tidak selalu mudah. Namun justru di situlah nilai ibadahnya.
“Semakin sulit perjuangan, semakin banyak pahalanya,” ujarnya.
Ia kemudian mengaitkan dengan hadis tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat. Dua di antaranya sangat relevan dengan kaderisasi Muhammadiyah.
Pertama, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah. Artinya, segala aktivitas dan pengabdiannya didasarkan pada niat ibadah.
Kedua, orang yang hatinya terikat dengan masjid. Ikatan spiritual dengan masjid akan melahirkan kepedulian terhadap umat dan gerakan dakwah.
Jihad Adalah Bersungguh-sungguh
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Mutiullah juga mengingatkan bahwa jihad tidak selalu dimaknai sebagai peperangan.
Jihad adalah kesungguhan dalam menjalankan amanah dan profesi masing-masing.
Menjadi dokter dengan sungguh-sungguh adalah jihad. Menjadi guru dengan sungguh-sungguh juga jihad. Menjadi penggerak Muhammadiyah yang bekerja sepenuh hati pun merupakan bagian dari jihad.
Semangat ini sejalan dengan seruan Nabi Isa dalam Surah Ali Imran ayat 52:
“Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan agama Allah?”
Pertanyaan tersebut sejatinya terus bergema hingga hari ini kepada seluruh kader Muhammadiyah.
Belajar dari Keberhasilan Al-Falah Sragen
Sebagai contoh keberhasilan pengelolaan organisasi, Dr. Mutiullah menyinggung perkembangan Al-Falah Sragen.
Dahulu jumlah jamaah dan infaq yang terkumpul relatif sedikit. Namun melalui sentuhan manajemen yang terukur layaknya perusahaan modern, pertumbuhan dapat dicapai secara signifikan.
Saat ini, infaq yang terkumpul disebut telah mencapai sekitar Rp700 juta per bulan.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa semangat dakwah perlu didukung oleh tata kelola yang baik, target yang jelas, serta pengukuran yang berkelanjutan.
Minoritas Berkualitas yang Menentukan Perubahan
Menurut Dr. Mutiullah, orang-orang baik sering kali berada dalam jumlah yang tidak banyak. Namun sejarah membuktikan bahwa perubahan besar justru lahir dari kelompok kecil yang memiliki kualitas.
“Orang baik itu selalu minoritas. Minoritas berkualitas akan menentukan,” ungkapnya.
Sebaliknya, jumlah yang besar tanpa ideologi, tanpa gagasan, dan tanpa arah hanya akan menjadi kerumunan.
Karena itu, Muhammadiyah membutuhkan kader-kader yang tidak hanya banyak secara kuantitas, tetapi juga kuat secara pemikiran, visi, dan kapasitas kepemimpinan.
Saatnya Anak Muda Bergelora
Menutup materinya, Dr. Mutiullah mengajak seluruh pimpinan cabang dan ranting untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada generasi muda.
Ia mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kewajiban sesuai kompetensinya masing-masing. Dalam konteks Muhammadiyah, tidak ada alasan untuk tidak terlibat hanya karena merasa sudah ada orang lain yang bergerak. Semangat fardlu kifayah justru menuntut setiap kader mengambil peran sesuai kemampuan yang dimiliki.
Pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama adalah:
Apakah PCM dan PRM hari ini sudah menyiapkan pelanjut yang tangguh? Ataukah hanya meninggalkan gedung-gedung dan stempel organisasi yang sepi dari napas pemuda?
Karena itu, sudah saatnya cabang dan ranting digembirakan dengan kehadiran generasi muda. Mereka perlu dirangkul, dipercaya, diberi kesempatan, dan didoakan agar tumbuh menjadi penerus perjuangan Persyarikatan.
Mari kita gembirakan cabang dan ranting dengan merangkul, mempercayai, dan mendoakan anak-anak muda kita. Sebab masa depan Muhammadiyah akan ditentukan oleh sejauh mana hari ini kita menyiapkan kader-kader terbaiknya.
