Perak Kotagede, Jejak Sejarah yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman

Bagikan

KOTAGEDE โ€“ Ketika berbicara tentang kotagede, ingatan orang mungkin akan tertuju pada sejarah Mataram Islam, Masjid Gedhe Mataram, makam para pendiri kerajaan, rumah-rumah tradisional, atau suasana kampung yang masih menyimpan jejak masa lalu.

- Advertisement -

Namun, ada satu warisan yang tidak hanya tersimpan dalam bangunan dan situs sejarah. Warisan itu terus bergerak, dikerjakan dengan tangan, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan bahkan pernah menembus pasar internasional.

Warisan tersebut adalah kerajinan perak kotagede.

Artikel Lainnya
1 of 123

Perak bukan sekadar hasil kerajinan masyarakat Kotagede. Di balik benda-benda yang dihasilkan para pengrajin terdapat perjalanan panjang yang berkaitan dengan perkembangan kawasan ini sebagai pusat Mataram Islam, perubahan kebutuhan masyarakat, hingga pertumbuhan industri pada abad ke-20.

Dari Lingkungan Kerajaan hingga Kehidupan Masyarakat

Kotagede memiliki posisi penting dalam sejarah Mataram Islam. Kawasan ini pernah menjadi pusat pemerintahan sekaligus perekonomian kerajaan. Dari tempat inilah kehidupan politik dan ekonomi Mataram Islam berkembang dan membentuk masyarakat Kotagede.

Ketika Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan dari Kotagede ke Kerta pada 1613, peran kotagede tidak serta-merta berakhir. Berbagai peninggalan dari masa tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang.

Makam para pendiri kerajaan, Masjid Gedhe Mataram Kotagede, rumah tradisional, toponim perkampungan, hingga struktur benteng Keraton Mataram Islam menjadi bagian dari jejak sejarah yang masih dapat dilihat.

Dalam perjalanan panjang itulah keterampilan mengolah perak turut berkembang di Kotagede.

Kerajinan perak diperkirakan telah berkembang sejak kotagede mulai tumbuh sebagai pusat kerajaan sekitar abad ke-16 Masehi. Pada masa awal, keterampilan tersebut berkaitan dengan kebutuhan lingkungan keraton, rumah tangga, perdagangan, dan benda-benda yang menjadi simbol kemewahan.

Perak juga menjadi pilihan alternatif untuk membuat perhiasan dan berbagai perlengkapan karena harga emas relatif lebih mahal. Meski demikian, perak tetap mempunyai daya tarik tersendiri karena warna, keindahan, dan karakter desain yang dapat dihasilkan oleh para pengrajinnya.

Dari kebutuhan yang awalnya berkaitan dengan lingkungan kerajaan, keterampilan tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat.

Ketika Keterampilan Menjadi Mata Pencaharian

Salah satu hal yang menarik dari perjalanan perak kotagede adalah bagaimana sebuah keterampilan tradisional dapat bertahan melewati perubahan zaman.

Baca Juga :   Final Kotagede Cup 2024 Pertemukan PRM Prenggan vs PRM Singosaren

Keahlian mengolah perak diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan mengenai cara mengolah, membentuk, dan menghias perak tidak berhenti pada satu generasi, tetapi diteruskan kepada generasi berikutnya.

Lambat laun, kerajinan tersebut tidak lagi hanya berkaitan dengan kebutuhan lingkungan keraton. Perak berkembang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat Kotagede.

Perubahan itu kemudian semakin terlihat memasuki awal abad ke-20.

Sekitar tahun 1930, kerajinan perak kotagede mulai memperoleh perhatian yang lebih luas dan memasuki pasar internasional. Pada masa tersebut, industri perak yang sebelumnya banyak melayani kebutuhan keraton mulai berkembang untuk memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas.

Salah satu tokoh yang disebut memiliki peran dalam perkembangan industri perak Kotagede adalah Mary Agnes van Gesseler Verschuir, istri P.R.W. van Gesseler Verschuir yang menjabat sebagai Gubernur Yogyakarta pada 1929.

Perkembangan pasar membuat produk yang dihasilkan pengrajin kotagede semakin beragam. Mereka tidak hanya membuat perhiasan, tetapi juga berbagai perlengkapan rumah tangga berbahan perak untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Eropa.

Sendok, garpu, sendok nasi, panci, piring, dan cangkir menjadi bagian dari produk yang dihasilkan.

Dari sinilah keterampilan para pengrajin lokal semakin dikenal. Permintaan yang berkembang turut mendorong munculnya sentra-sentra kerajinan perak di Kotagede sekaligus membuka jalan bagi produk perak Kotagede untuk dikenal di luar negeri.

Motif yang Tidak Lepas dari Budaya Jawa

Perak Kotagede kemudian tidak hanya dikenal karena bahannya. Karakter kerajinan juga terbentuk dari teknik pengerjaan dan motif yang digunakan.

Menurut Priyo Salim, seorang pengrajin perak kotagede, seni ukir perak Kotagede mendapatkan inspirasi dari ukiran pada berbagai bangunan kuno di Jawa, termasuk Candi Mantingan dan Candi Prambanan.

Pengaruh tersebut memperlihatkan bahwa kerajinan perak tidak berdiri sendiri. Keterampilan para pengrajin berkembang dalam lingkungan budaya yang kaya dengan tradisi seni dan ornamen Jawa.

Perpaduan antara keterampilan tangan, teknik pengerjaan, dan inspirasi dari seni tradisional Jawa kemudian melahirkan karakter yang khas pada produk perak kotagede.

Bagi Priyo Salim, kedekatan dengan dunia perak juga tumbuh dari lingkungan keluarga. Ayahnya merupakan salah satu pengusaha perak di Kotagede. Dari sang ayah, ia mengenal kerajinan tersebut dan kemudian menekuninya hingga meneruskan usaha yang telah dirintis sebelumnya.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa keberlangsungan kerajinan perak bukan hanya ditentukan oleh pasar, tetapi juga oleh proses pewarisan pengetahuan dari keluarga dan lingkungan masyarakat.

Karena itu, perak bagi para pengrajinnya bukan semata-mata barang untuk diperjualbelikan. Ia juga menjadi bagian dari kebudayaan yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Baca Juga :   Perkuat Ghirah Kader, MPI PCM Kotagede, PCPM, dan Kokam Gelar Buka Bersama

Belajar Sejarah Perak di Museum Kotagede

Perjalanan perak Kotagede juga dapat dipelajari melalui Museum Kotagede Intro Living Museum.

Museum yang menempati bangunan cagar budaya Rumah Kalang tersebut menjadi salah satu ruang untuk mengenal kehidupan masyarakat Kotagede dari berbagai sisi. Rumah Kalang itu dahulu merupakan tempat tinggal B.H. Noerijah, salah satu tokoh Wong Kalang di Kotagede.

Museum Kotagede Intro Living Museum membagi kekayaan sejarah dan budaya Kotagede ke dalam empat klaster, yaitu:

  1. Klaster Situs Arkeologi dan Lanskap Sejarah.
  2. Klaster Kemahiran Teknologi Tradisional.
  3. Klaster Seni Pertunjukan, Sastra, Adat-Tradisi, dan Kehidupan Keseharian.
  4. Klaster Pergerakan Sosial Kemasyarakatan.

Kisah perkembangan kerajinan perak secara khusus dapat ditemukan dalam Klaster Kemahiran Teknologi Tradisional.

Melalui klaster tersebut, masyarakat maupun pengunjung dapat melihat bahwa keterampilan tradisional merupakan bagian penting dari perjalanan Kotagede. Kerajinan perak tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi tumbuh bersama perkembangan masyarakat dan kebudayaan di kawasan ini.

Menjaga Perak, Menjaga Identitas Kotagede

Perjalanan kerajinan perak Kotagede memperlihatkan bagaimana sebuah keterampilan dapat bertahan melewati perubahan zaman.

Dari kebutuhan lingkungan kerajaan, perak kemudian berkembang menjadi mata pencaharian masyarakat. Memasuki abad ke-20, kerajinan tersebut berkembang menjadi industri yang mampu menjangkau pasar internasional.

Di balik sebuah perhiasan, peralatan rumah tangga, atau benda dekoratif berbahan perak, terdapat pengetahuan yang diwariskan, keterampilan tangan para pengrajin, serta kreativitas yang terus berkembang.

Karena itu, keberadaan kerajinan perak di Kotagede memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar kegiatan ekonomi.

Perak menjadi bagian dari sejarah masyarakat. Ia menjadi salah satu penanda identitas kawasan dan memperlihatkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana keterampilan tersebut tetap diwariskan kepada generasi muda. Sebab, jika keterampilan para pengrajin berhenti pada satu generasi, maka yang hilang bukan hanya sebuah pekerjaan, tetapi juga bagian dari pengetahuan budaya Kotagede.

Perak Kotagede pada akhirnya bukan hanya benda yang dihasilkan dari logam bernilai tinggi. Di dalamnya terdapat cerita tentang kerajaan, masyarakat, keluarga, keterampilan, perdagangan, dan kebudayaan Jawa.

Dari tangan para pengrajin itulah sejarah tersebut terus dibuat dan diwariskan.

Perak Kotagede tetap hidup karena tradisi tidak hanya disimpan, tetapi terus dikerjakan.

Sumber

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Perkembangan Perak Kotagede dan Klaster Kemahiran Teknologi Tradisional Museum Kotagede.


Bagikan

Leave a Reply