Sikap Muhammadiyah terhadap Undangan Tahlilan: Menjaga Akidah dengan Tetap Mengedepankan Akhlak

Bagikan

Tahlil secara bahasa berarti mengucapkan kalimat lā ilāha illallāh, yaitu dzikir yang mengingatkan seorang Muslim kepada keesaan Allah SWT. Dalam Islam, dzikir merupakan ibadah yang sangat dianjurkan karena menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus bentuk rasa syukur atas nikmat-Nya.

- Advertisement -

Allah SWT berfirman:

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 152)

Artikel Lainnya
1 of 25

Ayat tersebut menegaskan pentingnya memperbanyak dzikir sebagai bagian dari kehidupan seorang mukmin. Selain itu, Rasulullah SAW juga menjelaskan besarnya keutamaan membaca kalimat tahlil.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang membaca:

“Lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, lahul mulku wa lahul ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr”

sebanyak 100 kali dalam sehari akan memperoleh pahala besar, dihapuskan dosa-dosanya, serta mendapat perlindungan dari godaan setan hingga petang. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Az-Zikr.

Hadis tersebut menunjukkan bahwa dzikir, termasuk bacaan tahlil, merupakan amalan yang memiliki keutamaan luar biasa dalam Islam.

Perbedaan Makna Tahlil dan Tahlilan

Dalam masyarakat Indonesia, istilah tahlilan sering dimaknai sebagai sebuah rangkaian acara doa bersama yang diselenggarakan setelah seseorang meninggal dunia. Biasanya kegiatan tersebut meliputi pembacaan tawasul, Surah Yasin, dzikir, tahlil, doa bersama, hingga jamuan makan bagi para tamu.

Baca Juga :   Pemanfaatan Dan Optimalisasi KCB Berbasis Partisipasi Masyarakat

Di sinilah muncul perbedaan pandangan di kalangan ulama. Sebagian ulama memandang tahlilan sebagai tradisi yang diperbolehkan selama berisi doa dan dzikir. Namun, sebagian ulama lainnya, termasuk Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, berpendapat bahwa praktik tahlilan kematian yang dilakukan secara khusus pada hari-hari tertentu tidak memiliki landasan yang kuat dari Al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah SAW.

Karena itu, warga Muhammadiyah umumnya tidak menjadikan tahlilan sebagai bagian dari tuntunan ibadah.

Bagaimana Sikap Muhammadiyah Saat Mendapat Undangan Tahlilan?

Perbedaan pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk memutus silaturahmi. Muhammadiyah mengajarkan agar warga tetap bersikap santun, menghargai sesama, namun tetap berpegang teguh pada prinsip agama yang diyakini.

1. Menolak Undangan dengan Santun

Pilihan yang paling sesuai adalah menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat menghadiri acara tersebut. Penolakan dilakukan secara baik-baik tanpa menyalahkan pihak yang mengundang.

Sikap ini menunjukkan komitmen terhadap keyakinan agama sekaligus menjaga hubungan baik dengan masyarakat.

2. Hadir Sebatas Menghormati Jika Ada Pertimbangan Sosial

Dalam kondisi tertentu, misalnya karena hubungan kekeluargaan atau alasan sosial yang sulit dihindari, seseorang dapat hadir tanpa ikut mengikuti rangkaian ritual yang bertentangan dengan keyakinannya.

Kehadiran tersebut dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang berduka, bukan sebagai persetujuan terhadap praktik ibadah yang dilaksanakan.

Meski demikian, Muhammadiyah tetap memandang pilihan pertama lebih sesuai dengan prinsip tarjih.

3. Memberikan Penjelasan Secara Bijaksana

Apabila memungkinkan, warga Muhammadiyah dianjurkan menjelaskan pandangan yang dianut dengan cara yang santun dan persuasif.

Penjelasan dapat disampaikan kepada tokoh keluarga atau orang yang dipercaya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Dengan pendekatan dialog yang baik, perbedaan dapat dipahami tanpa menimbulkan konflik ataupun merusak hubungan persaudaraan.

Baca Juga :   Lazismu Kotagede Bersinergi dengan MPKS PCM Kotagede Gelar Penerimaan Kulit dan Distribusi Hewan Kurban 1447 H

Mengutamakan Akhlak dalam Perbedaan

Perbedaan pandangan mengenai tahlilan merupakan bagian dari khilafiyah yang telah lama dikenal dalam khazanah keilmuan Islam. Karena itu, setiap Muslim hendaknya tetap menjaga adab dalam menyikapi perbedaan.

Bagi warga Muhammadiyah, menjaga kemurnian ibadah berdasarkan dalil merupakan prinsip yang penting. Namun pada saat yang sama, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi, menghormati sesama, serta menghindari sikap yang dapat melukai perasaan orang lain.

Melalui komunikasi yang santun, bijaksana, dan penuh hikmah, seorang Muslim dapat tetap istiqamah pada keyakinannya tanpa harus menciptakan perselisihan di tengah masyarakat.

Refrensi : Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. “Menyikapi Undangan Tahlilan Menurut Muhammadiyah.”Majalah Suara Muhammadiyah, Edisi No. 07 Tahun 2022.
Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagai rujukan resmi dalam penetapan hukum dan praktik ibadah warga Muhammadiyah.


Bagikan

Leave a Reply