
Napak Tilas 114 Tahun Perjuangan Muhammadiyah, TK ABA Pringwulung Depok Kunjungi Masjid Gedhe Mataram dan TK ABA Bodon
KOTAGEDE — Mengenalkan sejarah perjuangan Muhammadiyah sejak usia dini menjadi salah satu upaya menanamkan kecintaan anak terhadap persyarikatan. Hal inilah yang dilakukan TK ABA Pringwulung Depok, Sleman, melalui kegiatan silaturahmi dan napak tilas sejarah di Kotagede, Selasa (27/10/2026).
Mengusung tema “Napak Tilas 114 Tahun Jejak Perjuangan Muhammadiyah di Bumi Mataram”, rombongan TK ABA Pringwulung Depok mengunjungi Masjid Gedhe Mataram dan TK ABA Bodon. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran bagi anak-anak untuk mengenal jejak sejarah Muhammadiyah sekaligus kiprah ‘Aisyiyah dalam mengembangkan pendidikan.
Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kotagede menyambut baik kunjungan tersebut setelah menerima surat permohonan pendampingan dari TK ABA Pringwulung Depok. Permohonan itu kemudian disetujui dan ditindaklanjuti dengan penugasan tim ‘Aisyiyah Culture Education Tourism (ACET) Kotagede untuk mendampingi rombongan selama kegiatan berlangsung.
ACET merupakan bagian dari ikhtiar ‘Aisyiyah untuk mengenalkan, mengembangkan, dan memperkuat gerakan serta dakwah melalui wisata berbasis pendidikan dan budaya.
Rombongan TK ABA Pringwulung Depok terdiri atas 99 anak, 12 guru dan karyawan, 18 anggota komite sekolah, serta sejumlah orang tua atau wali murid.
Awali Kunjungan dengan Salat Duha di Masjid Gedhe Mataram
Kunjungan diawali di Masjid Gedhe Mataram. Rombongan disambut oleh sejumlah takmir masjid bersama tim ACET Kotagede.
Sebelum mendapatkan penjelasan mengenai sejarah masjid, anak-anak terlebih dahulu melaksanakan salat Duha berjamaah. Salah satu siswa laki-laki kelas B mendapat kesempatan menjadi imam dalam salat tersebut.
Usai salat Duha, Kepala TK ABA Pringwulung Depok, Erna Widiyaningrum, mengarahkan anak-anak untuk mengikuti kegiatan pengenalan sejarah masjid dengan tertib dan menyimak penjelasan yang disampaikan.
Sambutan juga disampaikan oleh Umi Hidayati, perwakilan PCA Kotagede yang sekaligus menjadi bagian dari tim ACET. Ia menyampaikan terima kasih atas kunjungan TK ABA Pringwulung Depok dan berharap anak-anak dapat menikmati kegiatan tersebut sekaligus memperoleh pengalaman belajar yang berkesan.
Umi juga menyampaikan bahwa setelah mengenal sejarah Masjid Gedhe Mataram, rombongan akan diajak menyusuri jalan-jalan kampung di Kotagede menuju TK ABA Bodon.
Selanjutnya, salah satu takmir Masjid Gedhe Mataram, Herlin, memberikan penjelasan singkat mengenai sejarah dan bagian-bagian penting masjid.
Herlin menceritakan bahwa pembangunan Masjid Gedhe Mataram dimulai pada 1578 dan selesai pada 1587, pada masa pemerintahan Panembahan Senopati, raja pertama Kerajaan Mataram Islam. Sejak berdiri, masjid tersebut telah mengalami beberapa kali renovasi.
Anak-anak juga dikenalkan dengan berbagai bagian dan perlengkapan masjid. Di halaman masjid terdapat 17 pohon sawo kecik yang menjadi pengingat jumlah rakaat salat wajib dalam sehari semalam.
Herlin turut menjelaskan fungsi serambi sebagai tempat berkumpul, soko atau tiang penyangga bangunan, serta bedug dan kentongan yang digunakan sebagai penanda waktu salat.
Tidak hanya itu, anak-anak juga mendapat penjelasan mengenai tembok yang mengelilingi kompleks masjid. Tembok tersebut memiliki fungsi sebagai benteng pertahanan. Mereka kemudian diperkenalkan dengan pintu masuk menuju ruang utama masjid.
Melalui penjelasan sederhana dan suasana belajar yang menyenangkan, anak-anak diajak mengenal sejarah tidak hanya melalui cerita, tetapi juga dengan melihat langsung peninggalan sejarah yang masih terawat hingga sekarang.
Menyusuri Kampung Kotagede Menuju TK ABA Bodon
Setelah mengenal sejarah Masjid Gedhe Mataram, rombongan melanjutkan perjalanan menuju TK ABA Bodon dengan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan sempit di kawasan permukiman Kotagede.
Perjalanan tersebut dipandu oleh Emi Murfiani dan Noor Rochmaniati. Selain menjadi bagian dari rangkaian kunjungan, perjalanan ini memberikan pengalaman tersendiri bagi anak-anak untuk melihat lebih dekat suasana kampung dan lingkungan bersejarah Kotagede.
Setibanya di TK ABA Bodon, rombongan disambut hangat oleh anak-anak sekolah tersebut. Anak-anak TK ABA Bodon menyambut sahabat-sahabat mereka dari TK ABA Pringwulung Depok dengan memberikan bendera kecil sebagai tanda persahabatan.
Rombongan kemudian dipersilakan menuju pendopo sekolah oleh kepala sekolah dan para guru.
Kepala TK ABA Bodon, Siti Sa’diyah, menyampaikan ucapan selamat datang dan menyambut gembira kunjungan tersebut. Ia juga bercerita secara singkat mengenai sekolah yang menjadi salah satu tujuan silaturahmi itu.
Suasana keakraban semakin terasa ketika anak-anak TK ABA Bodon bersama para guru dan karyawan turut menyambut rombongan di serambi pendopo. Kunjungan diakhiri dengan kegiatan berbagi makanan ringan yang menambah keceriaan dan mempererat persahabatan antaranak.
Mengenal Sendang Selirang dan Lingkungan Bersejarah Kotagede
Usai berkunjung ke TK ABA Bodon, rombongan kembali menuju Masjid Gedhe Mataram. Dalam perjalanan, mereka melewati rumah Indhise yang dikenal sebagai salah satu bangunan bersejarah di kawasan Kotagede, serta menyusuri jalan-jalan kampung yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Setibanya di kompleks masjid, tim ACET mengajak rombongan mengunjungi Sendang Selirang. Anak-anak mendapat kesempatan melihat secara langsung tempat pemandian yang menjadi bagian dari kompleks bersejarah Masjid Gedhe Mataram.
Kunjungan ke sejumlah lokasi tersebut memberikan pengalaman belajar yang beragam bagi anak-anak. Mereka tidak hanya mengenal sejarah melalui penjelasan, tetapi juga melihat langsung bangunan, lingkungan, dan peninggalan budaya yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kotagede.
Rangkaian kegiatan silaturahmi kemudian ditutup oleh Kepala TK ABA Pringwulung Depok, Erna Widiyaningrum. Ia menyampaikan pesan kepada anak-anak agar tertib saat menunggu penjemputan. Anak-anak yang sudah dijemput dipersilakan pulang, sedangkan yang belum dijemput diminta menunggu dengan didampingi guru.
Melalui kegiatan napak tilas ini, pengenalan sejarah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak. Masjid, sekolah, dan lingkungan bersejarah menjadi ruang belajar untuk menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus mengenalkan warisan perjuangan persyarikatan sejak dini.
Kunjungan tersebut juga memperlihatkan bagaimana wisata pendidikan dan budaya dapat menjadi sarana dakwah yang menyenangkan, sekaligus mempererat silaturahmi antarlembaga pendidikan ‘Aisyiyah.
(umih)
