
Dakwah untuk Millenial
Pasca Perang Dunia ke II, banyak pakar demografi atau kependudukan yang mengkategorikan manusia berdasarkan tahun kelahirannya, pengelompokan ini dilakukan karena mereka yang mempunyai tahun lahir berdekatan dianggap mempunyai karakteristik yang sama. Maka kemudian kita mengenal yang disebut dengan generasi baby boomer, generasi x, generasi y, dan generasi z.
Khusus untuk generasi y, banyak kalangan yang menyebutnya juga dengan Milenial, orang-orang yang masuk kelompok ini adalah mereka yang lahir pada tahun 80-an hingga akhir 90-an. Itu artinya sekarang mereka ada pada rentang umur 20-an hingga 30-an. Kira-kira mereka yang kini duduk di bangku kuliah hingga mereka yang sedang di awal membangun karier maupun keluarga.
Milenial banyak dibicarakan karena kebiasaan hidup mereka yang unik. Ciri-ciri yang paling jelas dari generasi ini adalah generasi internet. Semua serba elektronik dan praktis. Generasi ini juga sering disebut generasi media sosial, dimana intensitas penggunaan smartphone lebih banyak digunakan untuk saling berkomunikasi maupun mencari eksistensi di berbagai media sosial. Sebut saja Facebook, Twitter, Instagram, Path, dll, mereka jelas sudah khatam dengan itu semua.
Kaum Milenial dikenal juga sebagai generasi yang berwawasan terbuka dan cepat beradaptasi dengan perkembangan berita dunia, meskipun demikian mereka tidak luput dari berbagai macam kritik. Ada yang menyebut bahwa Milenial ini adalah generasi yang apatis, kurang bersosial di kehidupan nyata, narsis, dan gila eksistensi.
Dikatakan juga bahwa dengan merebaknya smartphone, aplikasi chatting, dan sosial media membuat silaturahmi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Yang jauh menjadi dekat, yang dekat menjadi jauh. Ungkapan ini menjelaskan fenomena dimana ketika para Milenial kumpul dalam sebuah acara, mereka sibuk dengan smartphone masing-masing dan lupa untuk bersosial di kehidupan nyata.
Hal-hal seperti ini jelas menjadi tantangan bagi kita semua, terutama dalam gerakan dakwah. Sebuah tantangan besar bagi penggiat dakwah untuk mengajak generasi milenial mau ngaji, datang ke masjid dan ikut pengajian. Karena jelas kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara konvensional dalam berdakwah, harus ada terobosan dan membuat kontennya menjadi lebih menarik. Dimana kita tahu lawannya adalah media sosial yang jelas isinya sangat menarik perhatian.
Bila anda orang tua yang mempunyai anak ataupun keponakan Milenial, memaksa mereka untuk ikut pengajian bukanlah cara yang efektif. Paksaan tidak akan menghasilkan kebiasaan yang konsisten, harus ada kemauan dari dalam diri mereka sendiri dan juga rasa penasaran yang ditumbuhkan dalam hati para Milenial agar mereka mau ikut kajian, atau mungkin minimal mereka sadar untuk datang ke masjid setiap tiba waktu shalat.
Menggunakan cara melarang Milenial menggunakan smartphone ataupun sosial media juga bukan pilihan yang bijak, karena kita tidak bisa menolak kemajuan teknologi. Teknologi akan berkembang semakin canggih dan yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi dengan perubahan itu. Makanya jalan terbaik adalah mengarahkan. Mengarahkan agar para Milenial untuk menggunakan sosial media yang bermanfaaart. Caranya? Kita perlu sosok teladan.
Dewasa ini banyak sekali bermunculan sosok-sosok muda dan menginspirasi yang menggunakan media sosial untuk menebar ilmu serta kebaikan. Untuk tahap awal para Milenial ini bisa kita arahkan kepada mengenal mereka, karena nanti para Milenial akan terbuka pandangannya bahwa ada sosok keren yang seumuran dengan mereka serta pandai ngaji, ilmu agamanya bagus, dan juga utamanya bisa tetap eksis di media sosial.
Sebagai contoh di Instagram, ada seorang qari’ muda dari Bandung yang sangat indah bacaannya, lulusan ITB, dan kini sering mengisi acara di berbagai daerah yang penasaran dengan keindahan muratalnya. Namanya adalah Muzammil Hasballah, bisa dicari di Instagram @muzammilhb. Sudah banyak juga videonya di youtube merekam ketika dia sedang tilawah maupun ketika menjadi imam. Bacaannya merdu luar biasa, silahkan di-follow.
Kalau mau qari’ dari luar negeri, ada seorang qari’ muda dari Bosnia, sekarang tinggal di Amerika Serikat dan digandrungi kalangan wanita karena paras tampannya, eh, maksud saya karena bacaannya yang sungguh merdu. Namanya Fatih Seferagic, bisa dicari di Instagram @therealfatih. Beberapa waktu yang lalu sempat tour ke Indonesia dan setiap kota yang didatanginya selalu ramai oleh jamaah yang rindu dengan bacaan Al-Qur’an indah darinya.
Kalau misal ingin mendengarkan kajian agama yang menarik, untuk awal-awal bisa berkenalan dengan Ust. Hanan Attaki. Di Instagram bisa dicari di @hanan_attaki dan kajiannya bisa ditemukan dengan mudah bertebaran di Youtube. Beliau adalah putra Aceh lulusan Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar Cairo, dan kini menetap di Bandung untuk berdakwah bersama komunitasnya yang bernama Pemuda Hijrah.
Atau kalau ingin mendengarkan kisah-kisah teladan Rasulullah SAW dan Sahabat, kita bisa berguru secara online kepada Ust. Salim A. Fillah. Di Instagramnya @salimafillah beliau sering menulis dan memposting video tentang kisah Rasulullah SAW serta para sahabat dan juga kisah orang-orang saleh lain yang menyentuh hati dan menginspirasi kita untuk lebih giat beribadah. Jika ingin bertemu langsung pun bisa dengan mengikuti kajian beliau setiap kamis sore bakda asar di Masjid Jogokariyan.
Contoh di atas adalah beberapa nama yang bisa membuat kita mendekatkan generasi Milenial dengan keindahan Islam. Dengan adanya teladan yang menarik, mudah dimengerti, dan istilahnya ‘bahasanya nyambung’, kita berharap dakwah di era modern ini bisa tetap berlanjut dan diterima oleh kalangan luas.
Penulis : Muhammad Farouq ย (BrOsur Lebaran AMM Kotagede Edisi 56 Tahun 2017)
