
Dipundak Anak Muda Peradaban Dibangun
“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan aku cabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Itulah kata Presiden Indonesia Ir. Soekarno yang bisa dijadikan pecutan untuk para pemuda di Indonesia saat ini. Dari kalimat itu, dapat kita artikan bahwa peran pemuda sangatlah besar bahkan mampu untuk mengubah dunia. Pemuda memiliki idealisme, semangat, dan kekuatan fisik yang masih tinggi. Ucapan Bung Karno tersebut bukan cuma omong kosong belaka. Banyak perubahan di dunia yang terjadi berasal dari tangan anak muda.
Pada masa pra hijrah Nabi Muhammad SAW dan umat Islam ke Madinah, Islam di Kota Makkah tidak menunjukkan perkembangan yang positif. Banyak pertentangan, penindasan, dan tekanan yang begitu besar dari tokoh Quraisy waktu itu. Di tengah keterpurukan umat Islam di Makkah, hadirlah 6 orang anak muda dari Yastrib yang menemuni Nabi Muhammad SAW dan menyatakan keislaman di hadapan Rasulullah SAW. Enam pemuda itu juga menceritakan kondisi permasalahan di Yastrib. Yastrib dihuni oleh dua suku arab yaitu Khazraj dan Aus. Kedua suku arab tersebut hidup bersama orang-orang Yahudi. Suku Khazraj dan Aus terlibat pertikaian karena adu domba dari orang-orang Yahudi. Hal tersebut yang mengakibatkan kondisi Yastrib tidak kondusif. Keenam anak muda Yastrib tadi datang ke Makkah dan berharap agar Nabi Muhammad SAW dapat mendamaikan kedua suku arab tersebut. Selain itu, mereka juga berjanji kepada Nabi akan mengajak penduduk Yatsrib untuk masuk Islam.
Pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan enam pemuda Yastrib yang sederhana itu sebetulnya merupakan awal mula dari kebesaran Islam. Dari situ awal terbukanya ajaran Islam berkembang. Ajaran Islam yang kemudian terus berkembang dan terus menyebar hingga penjuru dunia. Siapakah keenam pemuda itu? Kita kesulitan untuk mencari siapa saja nama-nama dari keenam pemuda itu. Meski mereka kurang dikenal, namun berkat dari keenam pemuda itu Islam yang kala itu sulit berkembang di Makkah malah justru sangat diterima baik oleh masyarakat Yastrib yang kemudian kita kenal sebagai Kota Madinah.
Hal itu juga yang terjadi pada sosok muda, Muhammad Darwis. Saat usia 15 tahun, hatinya telah peka dan terusik dengan berbagai permasalahan sosial dan pengamalan ajaran Islam yang tidak sesuai di tengah masyarakat. Itulah yang membuat Muhammad Darwis kemudian memilih hijrah dan memperdalam ilmu agama Islam ke Mekkah dan kembali ke tanah air di usia 20 tahun. Dengan nama baru, K.H. Ahmad Dahlan berupaya memperbaiki praktik ibadah di masyarakat yang kala itu lebih mengarah ke takhayul, bid’ah, dan khurofat. Muhammadiyah berdiri ketika K.H. Ahmad Dahlan berusia 44 tahun. Namun, pikiran dan perjuangannya mulai dibangun ketika beliau masih berusia 15 tahun. Lalu, apa yang kita pikirkan di usia 15 tahun?
Selain itu, ada pula seorang anak muda yang masih berumur 21 tahun namun telah berhasil meruntuhkan sebuah peradaban besar. Ialah Sultan Kekhalifahan Turki Ustmaniyah Muhammad II atau yang lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih. Muhammad Al-Fatih di usia yang masih muda telah berhasil meruntuhkan pusat Kerajaan Byzantium yakni Kota Konstantinopel.
Merebut Kota Konstantinopel bukan sekedar menaklukkan sebuah wilayah, namun juga membuktikan janji Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335). Prestasi apa yang telah kita capai di usia 21 tahun?
Mau jadi apa kita besok adalah hasil dari yang telah kita rencanakan dan lakukan hari ini. Gagal merencanakan masa depan adalah merencanakan kegagalan. Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa kenikmatan tidak bisa diraih dengan kenikmatan. Jika seseorang mau bersenang-senang sejak di awal hidupnya, bagaimana bisa mendapatkan kenikmatan di akhir hidupnya. Sesungguhnya kelezatan dan kenikmatan didapat dengan seberapa besar dia berlatih sabar untuk menanggung semua kesulitan di awal hidupnya. Tidak ada kebesaran kecuali untuk orang yang punya tekat yang tinggi. Tidak ada kelezatan kecuali untuk orang yang bersabar, tiada istirahat kecuali untuk orang yang lelah.
Kisah-kisah tersebut bisa menjadi inspirasi bagi anak muda untuk terus berbuat dan berjuang di masa mudanya. Apa yang kita lakukan di masa muda adalah modal kita di masa tua. Apa yang kita raih di masa tua adalah imbas atau efek dari apa yang telah kita lakukan sejak kita masih muda. Jangan sia-siakan masa muda kita untuk sebuah kesenangan sesaat. Lebih baik kita optimalkan masa muda kita melakukan hal yang bermanfaat demi masa depan.
Penulis : Muhammad Budi Setiawan (BrOsur Lebaran AMM Kotagede Edisi 56 Tahun 2017)
