Pohon Beringin Sepuh dan Memori Kolektif Masyarakat Kotagede

Bagikan

Penulis: Erwito Wibowo

- Advertisement -

Pendahuluan

Kesadaran untuk memelihara dan merawat warisan sejarah secara teratur menjadi salah satu persoalan penting dalam upaya mempertahankan identitas kawasan cagar budaya Kotagede. Kurangnya perhatian terhadap aset-aset bersejarah dapat menyebabkan hilangnya salah satu penanda simbolik peninggalan sejarah Mataram ketika Kotagede menjadi pusat kerajaan.

Artikel Lainnya
1 of 19

Salah satu penanda tersebut adalah pohon beringin sepuh di kawasan Dhondhongan, Kotagede. Pohon ini tidak sekadar merupakan vegetasi yang telah berusia tua, tetapi juga memiliki narasi sejarah yang kuat dan berkaitan dengan ingatan masyarakat mengenai awal mula Mataram di Kotagede.

Apabila proses pelapukan dan pengeroposan pohon beringin sepuh tidak segera ditangani secara cermat, bukan tidak mungkin pohon tersebut akan mengalami kematian. Kerusakan fisik pada pohon pada akhirnya dapat menyebabkan masyarakat kehilangan salah satu penanda sejarah yang selama ini menjadi bagian dari memori kolektif mereka.

Hilangnya pohon beringin sepuh bukan hanya berarti hilangnya sebuah pohon tua. Lebih jauh, yang terancam hilang adalah narasi, simbol, pengalaman, dan ingatan kolektif masyarakat Kotagede yang selama ini melekat pada keberadaannya.

Karena itu, diperlukan perhatian khusus untuk mempertahankan keberadaan pohon beringin sepuh sebagai salah satu penanda sejarah Mataram di Kotagede.

Dalam narasi sejarah yang berkembang di masyarakat, keberadaan pohon beringin memiliki kaitan dengan kisah Ki Gede Pemanahan dan pembukaan Hutan Mentaok. Dalam kisah tersebut, Sunan Kalijaga memberikan petunjuk kepada Ki Gede Pemanahan untuk mencari pohon beringin sebagai penanda kawasan yang kelak menjadi tempat penting dalam perjalanan sejarah Mataram.

Kisah tersebut kemudian menjadi bagian dari narasi masyarakat mengenai keberadaan pohon beringin sebagai penanda suatu tempat. Oleh sebab itu, keberadaan pohon beringin sepuh di Kotagede memiliki nilai simbolik yang tidak dapat dipisahkan dari cerita mengenai sejarah awal Mataram.

Kondisi Pohon dan Kebutuhan Revitalisasi

Pohon beringin sepuh di kawasan Dhondhongan telah beberapa kali mengalami kejadian sempal atau patahnya dahan. Beberapa dahan yang menjulur hingga ke arah atap rumah penduduk di Kampung Dhondhongan dan Sanggrahan mengalami kerusakan karena kondisi pohon yang semakin rapuh.

Kondisi tersebut semakin kompleks karena bagian pokok pohon telah mengalami kerusakan, sementara akar-akar tunjang justru berkembang semakin besar, mengeras, dan menjadi penopang utama keberadaan pohon.

Berbagai upaya penanganan darurat sebenarnya telah dilakukan. Namun, penanganan yang bersifat sementara belum cukup untuk menjamin keberlanjutan pohon dalam jangka panjang.

Diperlukan penanganan yang lebih komprehensif melalui program rehabilitasi dan revitalisasi berbasis pelestarian, dengan melibatkan bidang dan tenaga yang memiliki kompetensi dalam penanganan pohon tua serta vegetasi yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

Penanganan pohon beringin sepuh juga tidak dapat semata-mata dilihat dari aspek biologis atau teknis. Pohon ini memiliki karakteristik khusus karena berkaitan dengan sejarah, lingkungan, budaya, dan memori masyarakat.

Oleh karena itu, proses revitalisasi perlu mempertemukan aspek konservasi lingkungan dengan pelestarian nilai sejarah dan budaya.

Masyarakat sebagai Subjek Pelestarian

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah keterlibatan masyarakat sekitar. Sosialisasi mengenai keberadaan pohon beringin sepuh perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat memahami bahwa pohon tersebut merupakan bagian dari penanda sejarah kawasan.

Sosialisasi tidak cukup dilakukan hanya sekali. Pemahaman masyarakat selalu mengalami perubahan dari generasi ke generasi. Selain itu, beragamnya pengetahuan dan pengalaman masyarakat terhadap pohon beringin sepuh membuat proses edukasi dan pendampingan menjadi penting.

Pendampingan yang berkelanjutan diperlukan agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat program revitalisasi, tetapi juga menjadi subjek utama dalam pelestarian pohon beringin sepuh.

Keterlibatan masyarakat sebaiknya dimulai sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pemeliharaan. Dengan demikian, rasa memiliki terhadap pohon beringin sepuh dapat tumbuh dan berkembang secara alami di tengah masyarakat.


Pohon Beringin Sepuh dan Memori Kolektif

Pohon beringin sepuh memiliki hubungan erat dengan memori kolektif masyarakat di kawasan cagar budaya Kotagede.

Baca Juga :   Menjelajahi 5 Makanan Khas Kotagede yang Wajib Dicicipi Saat Berkunjung ke Yogyakarta

Dalam kehidupan masyarakat Kotagede, proses menemukan dan membangun identitas tidak terlepas dari hubungan mereka dengan lingkungan tempat tinggal. Lingkungan binaan, bangunan bersejarah, ruang publik, vegetasi, serta berbagai penanda sejarah menjadi bagian dari proses pembentukan identitas masyarakat.

Pohon beringin sepuh di pelataran Kampung Dhondhongan merupakan salah satu komponen lingkungan bersejarah tersebut.

Melalui interaksi dengan pohon dan lingkungan di sekitarnya, masyarakat membangun berbagai narasi mengenai siapa mereka, dari mana mereka berasal, serta bagaimana hubungan mereka dengan sejarah Kotagede.

Dengan demikian, pohon beringin sepuh tidak hanya hadir sebagai objek fisik. Ia menjadi penanda tempat sekaligus media pengingat sejarah.

Perubahan Fisik dan Perubahan Ingatan

Perubahan kawasan cagar budaya Kotagede dan perubahan kondisi fisik pohon beringin sepuh dapat memengaruhi cara masyarakat mengingat dan memaknai tempat tersebut.

Ketika pohon masih memiliki tajuk yang lebat, daun yang berkembang, serta sulur-sulur yang menjuntai dan membentuk seperti payung besar, masyarakat dapat melihatnya sebagai sebuah penanda yang gagah dan kuat.

Panorama tersebut membentuk pengalaman visual sekaligus emosional. Dari pengalaman itu, lahirlah ingatan mengenai suatu tempat yang memiliki nilai sejarah.

Namun, ketika kondisi fisik pohon berubah akibat pelapukan, kerontokan, dan kerapuhan, pengalaman masyarakat terhadap penanda tersebut juga ikut berubah.

Perubahan fisik tersebut dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap kesakralan, keagungan, dan nilai simbolik pohon. Dalam kondisi tertentu, perubahan tersebut bahkan dapat menimbulkan persepsi terjadinya desakralisasi.

Karena itu, mempertahankan kondisi fisik pohon beringin sepuh bukan semata-mata persoalan mempertahankan sebuah tanaman tua. Upaya tersebut juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat mempertahankan ingatan terhadap sejarah tempat.

Memori Kolektif sebagai Warisan Budaya

Memori dapat dipahami sebagai jejak pengalaman masa lalu yang tetap hidup dalam pikiran manusia. Pengalaman individual kemudian dapat berkembang menjadi pengalaman bersama ketika dibagikan, diwariskan, dan dimaknai oleh suatu kelompok masyarakat.

Dalam konteks sejarah kota, Kotagede memiliki posisi penting karena pernah menjadi pusat Kerajaan Mataram Islam. Berbagai peninggalan sejarah di kawasan tersebut menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat dan perkembangan kota.

Pohon beringin sepuh menjadi salah satu vegetasi tua yang memiliki nilai penting karena keberadaannya dikaitkan dengan narasi sejarah awal Mataram di Kotagede.

Memori kolektif masyarakat terhadap pohon tersebut kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya melalui berbagai bentuk. Ingatan tersebut dapat muncul dalam bentuk cerita masyarakat, narasi pemanduan wisata, cerita rakyat, mitos, slogan, dokumentasi foto, maupun berbagai cerita lisan lainnya.

Dengan demikian, keberadaan pohon beringin sepuh dapat dipahami sebagai bagian dari warisan budaya takbenda yang hidup melalui ingatan dan narasi masyarakat, sekaligus sebagai penanda fisik yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan masyarakat sekarang.


Pohon Beringin Sepuh untuk Kepentingan Masyarakat

Pohon beringin sepuh memiliki potensi nilai warisan budaya yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan masyarakat, termasuk sebagai bagian dari narasi wisata sejarah Kotagede.

Pohon tersebut dapat menjadi salah satu titik narasi dalam memperkenalkan sejarah Kotagede kepada masyarakat maupun wisatawan.

Beberapa nilai penting yang dapat dikembangkan antara lain sebagai berikut.

1. Nilai Kesejarahan

Pohon beringin sepuh memiliki konteks sejarah yang berkaitan dengan perjalanan Mataram di Kotagede. Keberadaannya dapat menjadi pintu masuk untuk menjelaskan sejarah kawasan, sejarah sosial masyarakat, serta berbagai tokoh yang berperan dalam perkembangan awal Mataram.

2. Nilai Keindahan

Pohon beringin sepuh memiliki potensi nilai estetika yang kuat. Tajuk pohon yang menjulang dan mengembang dapat menciptakan karakter visual yang khas.

Apabila kondisi pohon dapat dipulihkan dan dipertahankan, keberadaannya dapat memperkuat suasana historis kawasan sekaligus memberikan pengalaman visual yang menarik bagi masyarakat dan wisatawan.

Keindahan alami tersebut juga dapat memperkuat persepsi terhadap nilai simbolik, keunikan, dan karakter khas lingkungan Kotagede.

3. Nilai Pengetahuan

Pohon beringin sepuh dapat menjadi objek pembelajaran lintas bidang, mulai dari sejarah, arsitektur lanskap, lingkungan, hingga ilmu mengenai pohon tua.

Secara ekologis, keberadaan pohon besar juga memberikan manfaat terhadap lingkungan. Tajuk pohon dapat memberikan keteduhan dan membantu menciptakan kondisi mikroklimat yang lebih nyaman bagi manusia.

Baca Juga :   Kulonuwun Kotagede: Napak Tilas Sejarah dan Pergerakan Muhammadiyah

Karena itu, pohon beringin sepuh dapat menjadi objek edukasi mengenai hubungan antara pelestarian lingkungan dan pelestarian kawasan bersejarah.

4. Nilai Sosial dan Budaya

Keberadaan pohon beringin sepuh memiliki hubungan dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Berbagai cerita, kepercayaan, pengalaman, serta pemaknaan masyarakat terhadap pohon tersebut menjadi bagian dari perjalanan sejarah kawasan.

Nilai sosial dan budaya inilah yang membuat keberadaan pohon beringin sepuh tidak dapat dipandang hanya dari aspek fisiknya.


Nilai Penting Pohon Beringin Sepuh sebagai Warisan Budaya

Selain nilai-nilai tersebut, pohon beringin sepuh juga memiliki sejumlah nilai komparatif yang memperkuat pentingnya pelestarian.

1. Nilai Kelangkaan

Pohon beringin sepuh merupakan contoh vegetasi tua yang keberadaannya relatif jarang. Terlebih jika dikaitkan dengan narasi sejarah perkembangan Mataram di Kotagede.

Semakin berkurangnya vegetasi tua di kawasan perkotaan membuat keberadaan pohon semacam ini semakin penting untuk dipertahankan.

2. Nilai Kelompok

Pohon beringin sepuh tidak berdiri sendiri. Keberadaannya membentuk hubungan visual dan ruang dengan lingkungan di sekitarnya.

Di bawah dan di sekitar pohon terdapat elemen-elemen ruang seperti bangsal yang berada secara simetris. Keseluruhan elemen tersebut membentuk karakter tempat dan menghadirkan pengalaman ruang yang khas.

3. Nilai Lingkungan

Pohon beringin sepuh memiliki keistimewaan secara visual dan historis sehingga dapat menjadi titik fokus lingkungan.

Keberadaannya juga memiliki hubungan dengan kompleks bersejarah di Kotagede, termasuk kawasan Masjid Gedhe dan makam raja-raja Mataram.

Dengan demikian, pohon tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari satu kesatuan lanskap sejarah, bukan sebagai objek yang berdiri sendiri.

4. Nilai Representatif

Pohon beringin sepuh merupakan representasi vegetasi tua yang mampu bertahan melewati perubahan zaman.

Keberadaannya memiliki hubungan kuat dengan objek dan narasi sejarah lainnya di Kotagede. Karena itu, pohon tersebut dapat menjadi representasi hubungan antara manusia, lingkungan, dan sejarah dalam perkembangan kawasan Kotagede.


Pelestarian Pohon Beringin Sepuh sebagai Upaya Menjaga Memori Kolektif

Pelestarian pohon beringin sepuh perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas. Tujuannya bukan sekadar mempertahankan keberadaan pohon secara fisik, tetapi juga menjaga nilai sejarah, budaya, lingkungan, dan memori kolektif masyarakat.

Karena itu, upaya pelestarian idealnya dilakukan melalui beberapa langkah, antara lain:

  1. Pemeriksaan kondisi pohon secara profesional, terutama untuk mengetahui tingkat kesehatan, keropos, pelapukan, dan risiko patahnya dahan.
  2. Penyusunan program rehabilitasi dan revitalisasi yang memperhatikan karakter pohon tua dan nilai sejarahnya.
  3. Pendampingan masyarakat sekitar agar memahami nilai penting pohon beringin sepuh.
  4. Dokumentasi sejarah dan narasi masyarakat mengenai pohon beringin sepuh sebagai bagian dari arsip kawasan Kotagede.
  5. Pengembangan narasi edukasi dan wisata yang menjadikan pohon beringin sepuh sebagai salah satu penanda sejarah.
  6. Pemeliharaan secara berkelanjutan, sehingga program pelestarian tidak berhenti setelah proses rehabilitasi selesai.

Langkah-langkah tersebut penting agar pohon beringin sepuh tidak hanya bertahan secara fisik, tetapi juga tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Kesimpulan

Pohon beringin sepuh di Kotagede bukan sekadar pohon tua yang tumbuh di tengah permukiman. Keberadaannya memiliki nilai sejarah, sosial, budaya, lingkungan, estetika, dan pengetahuan yang menjadikannya bagian penting dari identitas kawasan.

Kerusakan dan pelapukan yang terjadi pada pohon tersebut perlu mendapatkan perhatian serius. Jika tidak ditangani secara tepat, masyarakat tidak hanya berpotensi kehilangan sebuah pohon, tetapi juga kehilangan salah satu penanda yang menghubungkan kehidupan masyarakat masa kini dengan sejarah Mataram di Kotagede.

Karena itu, pelestarian pohon beringin sepuh perlu dilakukan secara terpadu dengan melibatkan tenaga yang kompeten, pemerintah, komunitas, pemerhati sejarah, serta masyarakat sekitar.

Pada akhirnya, memelihara pohon beringin sepuh berarti turut memelihara memori kolektif masyarakat Kotagede.

Ketika pohon tetap hidup, narasi sejarah yang melekat padanya memiliki peluang untuk terus diwariskan. Sebaliknya, ketika pohon tersebut hilang tanpa dokumentasi dan upaya pelestarian yang memadai, sebagian jejak ingatan masyarakat terhadap sejarah Kotagede juga berisiko ikut hilang.

Pohon beringin sepuh karena itu layak dipandang sebagai bagian dari warisan Kotagede yang perlu dirawat, dipelajari, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.


Bagikan

Leave a Reply