
Ilmu dan Akhlak: Bekal Penting dalam Menjalani Kehidupan
Ilmu tidak datang dengan sendirinya. Sejak lahir, manusia berada dalam keadaan belum mengetahui apa-apa. Allah kemudian membekali manusia dengan pendengaran, penglihatan, dan hati agar dapat belajar, mengenal kehidupan, serta mensyukuri berbagai nikmat yang diberikan-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”
QS. An-Nahl: 78
Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia memiliki perangkat untuk belajar. Pendengaran digunakan untuk menerima pengetahuan, penglihatan untuk mengamati, sementara hati menjadi bagian penting dalam memahami dan mengambil pelajaran dari kehidupan.
Karena itu, mencari ilmu bukan sekadar kebutuhan bagi mereka yang sedang menempuh pendidikan. Mencari ilmu merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia.
Kebodohan Bisa Menjadi Beban
Tidak memiliki ilmu dapat membuat seseorang mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan. Banyak persoalan muncul bukan karena seseorang tidak memiliki kemampuan, tetapi karena tidak mengetahui bagaimana harus bersikap dan mengambil keputusan.
Dalam kehidupan sehari-hari, ilmu juga memiliki hubungan erat dengan akhlak.
Akhlak yang baik sering kali terlihat dalam tindakan sederhana yang dilakukan secara spontan. Misalnya, ketika seseorang melihat sampah berserakan di masjid, ia segera mengambilnya dan membuangnya ke tempat sampah. Tidak perlu menunggu diperintah, tidak perlu menunggu ada yang melihat.
Tindakan sederhana tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan tentang kebaikan telah menjadi kebiasaan dalam dirinya.
Ilmu yang dipelajari dengan baik pada akhirnya tidak berhenti di kepala. Ia semestinya hadir dalam sikap dan perilaku.
Imam Syafi’i dikenal dengan nasihatnya tentang pentingnya kesabaran dalam menuntut ilmu. Dalam syair yang dinisbatkan kepadanya disebutkan bahwa seseorang yang tidak mau merasakan pahitnya belajar akan merasakan beratnya kebodohan sepanjang hidupnya.
Pesan tersebut masih sangat relevan. Belajar memang tidak selalu mudah. Ada rasa lelah, bosan, bahkan terkadang harus menghadapi guru atau proses belajar yang tidak sesuai dengan keinginan.
Namun, kesulitan dalam belajar tidak sebanding dengan kesulitan yang mungkin muncul ketika seseorang menjalani kehidupan tanpa bekal ilmu.
Mencari Ilmu adalah Jalan Menuju Kebaikan
Islam memberikan perhatian besar terhadap orang yang bersungguh-sungguh mencari ilmu.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
HR. Muslim
Hadis tersebut memberikan gambaran bahwa perjalanan mencari ilmu bukan hanya memiliki manfaat untuk kehidupan dunia, tetapi juga memiliki nilai ibadah.
Maka, belajar seharusnya tidak berhenti ketika seseorang mendapatkan ijazah. Belajar juga tidak mengenal batas usia.
Anak-anak belajar dari orang tua dan guru. Orang dewasa belajar dari pengalaman dan lingkungan. Bahkan orang yang telah lanjut usia pun tetap dapat belajar dari kehidupan.
Semakin seseorang menyadari luasnya ilmu, semakin ia memahami bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya.
Ketika Mata Bisa Keliru
Ilmu juga mengajarkan manusia untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan apa yang terlihat.
Sebuah contoh sederhana adalah ketika tongkat lurus dimasukkan ke dalam air. Dari permukaan, tongkat tersebut tampak seperti bengkok. Mata menangkap satu kenyataan, tetapi ilmu pengetahuan memberikan penjelasan lain mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Di sinilah pentingnya ilmu.
Apa yang terlihat belum tentu menggambarkan keadaan secara utuh. Karena itu, manusia membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan berpikir sebelum mengambil kesimpulan.
Dalam kehidupan sosial, prinsip semacam ini juga penting. Jangan mudah percaya hanya karena sesuatu terlihat meyakinkan. Jangan cepat menilai hanya berdasarkan apa yang terdengar. Periksa, pelajari, dan pahami terlebih dahulu.
Ilmu membantu manusia melihat persoalan dengan lebih jernih.
Ilmu untuk Dunia dan Akhirat
Dalam Manakib Syafi’i dinukil sebuah ungkapan yang masyhur:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barangsiapa menginginkan dunia, hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa menginginkan akhirat, hendaknya dengan ilmu.”
Pesannya sederhana, tetapi dalam.
Ilmu diperlukan untuk menjalani kehidupan dunia. Dengan ilmu, seseorang dapat bekerja, mengambil keputusan, membangun keluarga, bermasyarakat, dan menyelesaikan berbagai persoalan.
Pada saat yang sama, ilmu juga diperlukan untuk memahami agama, mengenal Allah, memperbaiki ibadah, dan membentuk akhlak.
Karena itu, jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah dimiliki.
Ada banyak hal yang belum kita ketahui. Ada banyak kesalahan yang bisa diperbaiki setelah kita belajar. Dan ada banyak kebaikan yang baru bisa dilakukan setelah kita memahami ilmunya.
Mencari ilmu mungkin membutuhkan kesabaran. Namun, tidak mau belajar juga memiliki risiko yang jauh lebih besar: seseorang bisa menjalani kehidupan dengan keyakinan yang keliru, mengambil keputusan tanpa pengetahuan, dan kehilangan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Maka, selama masih diberi kesempatan, teruslah belajar, teruslah mencari ilmu, dan jadikan ilmu sebagai jalan untuk memperbaiki diri serta memberi manfaat bagi orang lain. (Ibnu Arsjad el-Quthaghidiy)
Pengajian Ahad Pagi], 9 Rabi’ul Akhir 1448/20 Sept 2026, di Masjid al-Huda Jagalan Kotagede. Bersama Ustadz H. M. Ridlo Hisyam
