Islam ala KH Ahmad Dahlan: Dari Pemahaman Al-Qur’an hingga Gerakan Amal

Bagikan

Ada banyak cara untuk memahami sosok KH Ahmad Dahlan. Beliau bisa dilihat sebagai seorang ulama, pendidik, pendiri Muhammadiyah, pembaru Islam, sekaligus tokoh pergerakan.

- Advertisement -

Namun, ada satu pertanyaan yang menarik untuk terus diajukan: Islam seperti apa yang sesungguhnya diperjuangkan oleh KH Ahmad Dahlan?

Pertanyaan ini penting karena KH Ahmad Dahlan terkadang hanya dibaca dari hal-hal yang kecil. Misalnya, dari praktik ibadah tertentu yang pada zamannya masih dekat dengan tradisi keagamaan masyarakat dan ulama. Dari sana kemudian muncul usaha untuk memasukkan KH Ahmad Dahlan ke dalam kotak mazhab tertentu.

Artikel Lainnya
1 of 20

Padahal, membaca seorang pembaru hanya dari satu atau dua persoalan fikih tentu tidak cukup untuk menggambarkan keluasan pemikirannya.

Sebagaimana ditulis Haedar Nashir dalam Memahami Pemikiran dan Langkah KH Ahmad Dahlan, KH Ahmad Dahlan memang lahir dan tumbuh dalam lingkungan santri tradisional. Beliau mempelajari khazanah keislaman yang lazim dipelajari para ulama pada masanya.

Dalam fikih, beliau bersentuhan dengan Mazhab Syafi’i. Dalam tasawuf, beliau mengenal pemikiran Imam al-Ghazali. Di sisi lain, beliau juga membaca berbagai karya dari tradisi pemikiran Islam yang lebih luas.

Tetapi KH Ahmad Dahlan tidak berhenti sebagai seorang pembaca kitab.

Pengetahuan yang beliau miliki diolah menjadi energi untuk melakukan perubahan.

Di sinilah kita bisa memahami salah satu wajah penting Islam ala KH Ahmad Dahlan.

Islam yang Tidak Berhenti pada Pengetahuan

Bagi KH Ahmad Dahlan, Islam bukan sekadar pengetahuan yang disimpan dalam kepala. Ajaran Islam harus mempunyai dampak dalam kehidupan.

Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca. Setiap ayat perlu dipahami, direnungkan, kemudian diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena itu, agama memiliki konsekuensi sosial.

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang orang miskin, anak yatim, orang yang membutuhkan pertolongan, dan mereka yang berada dalam kondisi tidak berdaya, maka seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui ayat tersebut.

Ia perlu bertanya: apa yang bisa saya lakukan?

Cara berpikir seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri penting gerakan KH Ahmad Dahlan. Islam harus mampu menjawab persoalan kehidupan. Agama harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya berada di ruang-ruang pengajian.

Karena itu pula KH Ahmad Dahlan dapat dipahami sebagai seorang mujadid dalam pengertian yang luas. Beliau berusaha mengembalikan umat kepada sumber ajaran Islam sekaligus mendorong mereka keluar dari keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan.

Mencari Kebenaran dengan Pikiran Terbuka

Ada kisah menarik yang dikutip Kiai Hadjid mengenai cara KH Ahmad Dahlan dalam mencari kebenaran.

Beliau menggambarkan perjumpaan seorang Muslim dan seorang Kristen yang sama-sama membawa kitab sucinya. Kedua kitab itu diletakkan di atas meja. Mereka kemudian berusaha mengosongkan hati dari prasangka dan bersama-sama mencari tanda bukti yang menunjukkan kebenaran.

Baca Juga :   Akhirussanah TAA Dewi Masyithah Tahun Ajaran 2025/2026 Berlangsung Meriah, Penuh Haru, dan Sarat Makna

Yang menarik dari kisah tersebut bukan hanya soal perjumpaan antara Islam dan Kristen.

Ada pelajaran penting tentang cara berpikir KH Ahmad Dahlan.

Kebenaran tidak dicari dengan semangat untuk mengalahkan orang lain. Kebenaran dicari dengan kesediaan untuk melihat bukti, menggunakan akal, dan membuka diri terhadap pengetahuan.

Sikap semacam ini menunjukkan bahwa pembaruan yang dilakukan KH Ahmad Dahlan tidak lahir dari fanatisme yang sempit.

Beliau tidak menganggap sesuatu benar hanya karena sudah menjadi kebiasaan. Sebaliknya, beliau juga tidak serta-merta menganggap sesuatu salah hanya karena berasal dari luar lingkungan pemikirannya.

Ada ungkapan yang dinisbahkan kepada beliau:

“Al-nāsu a‘dā’u mā jahilū.”

Manusia cenderung memusuhi apa yang tidak diketahuinya.

Pesan ini terasa semakin relevan jika kita melihat konteks kehidupan KH Ahmad Dahlan.

Beliau hidup pada masa ketika umat Islam Indonesia menghadapi perubahan besar. Pengetahuan modern mulai berkembang. Sistem pendidikan kolonial tumbuh. Organisasi sosial dan pergerakan kebangsaan mulai bermunculan.

Di sisi lain, umat Islam juga menghadapi persoalan internal. Pendidikan masih terbatas, kemiskinan menjadi persoalan serius, dan banyak masyarakat belum memperoleh akses terhadap pengetahuan yang memadai.

KH Ahmad Dahlan tidak memilih untuk menutup diri.

Beliau justru berusaha mengambil hal-hal yang baik dari perkembangan zaman dan menempatkannya dalam kerangka ajaran Islam.

Karena itu, modernitas bagi KH Ahmad Dahlan bukan sesuatu yang harus ditelan mentah-mentah. Namun, modernitas juga bukan sesuatu yang harus ditolak hanya karena berasal dari luar tradisi Islam.

Sekolah dengan sistem klasikal, penerbitan, organisasi, ilmu pengetahuan, pengelolaan zakat, pendidikan perempuan, dan berbagai bentuk kelembagaan modern dapat digunakan selama membawa kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan prinsip Islam.

Islam ala KH Ahmad Dahlan memiliki akar yang kuat, tetapi juga keberanian untuk bergerak.

Dari Al-Ma’un Menuju Kehidupan Nyata

Salah satu cara paling sederhana untuk memahami pemikiran KH Ahmad Dahlan adalah melihat bagaimana beliau membaca Al-Qur’an.

Kisah tentang pengajaran Surah Al-Ma’un mungkin sudah sangat sering kita dengar. Namun, di balik kisah tersebut terdapat gagasan yang sangat besar.

KH Ahmad Dahlan tidak mengajarkan Al-Ma’un sebagai teks yang cukup dibaca berulang-ulang.

Beliau mengajarkannya sebagai panggilan untuk melihat kehidupan nyata.

Ada orang lapar.

Ada orang miskin.

Ada anak yatim.

Ada orang yang membutuhkan pertolongan.

Ada masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.

Maka Al-Qur’an harus membawa seseorang untuk bergerak.

Al-Qur’an harus turun dari lisan menuju kehidupan.

Di sinilah keberagamaan KH Ahmad Dahlan mempunyai konsekuensi sosial yang kuat. Orang yang rajin beribadah tetapi tidak peduli terhadap penderitaan di sekitarnya belum menangkap seluruh pesan agama.

Kesalehan individual harus menemukan bentuk dalam kepedulian sosial.

Karena itu, bagi KH Ahmad Dahlan, mendirikan sekolah, mengorganisasi zakat, mengembangkan kegiatan sosial, membangun pendidikan perempuan, menerbitkan pengetahuan, mengadakan pengajian, hingga membantu masyarakat miskin bukanlah pekerjaan tambahan di luar agama.

Semua itu merupakan bagian dari upaya menghadirkan Islam dalam kehidupan.

Mungkin karena itu KH Ahmad Dahlan sering disebut sebagai manusia amal.

Baca Juga :   Naskah Khotbah Idulfitri 1445 H

Tetapi menyebut beliau sebagai manusia amal bukan berarti beliau miskin gagasan.

Justru amal-amal tersebut lahir dari pemikiran yang sangat mendasar tentang hubungan antara iman, ilmu, dan amal.

Iman melahirkan kesadaran.

Ilmu memberikan arah.

Amal membuat ajaran agama benar-benar hadir dalam kehidupan.

Islam yang Berkemajuan

KH Ahmad Dahlan hidup dalam suasana kolonial ketika umat Islam menghadapi berbagai persoalan keterbelakangan.

Pendidikan masih terbatas. Kemiskinan meluas. Perempuan memiliki akses pendidikan yang sangat terbatas. Sementara itu, pengetahuan modern berkembang di luar lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Umat membutuhkan cara baru untuk menghadapi perubahan zaman.

Dalam konteks inilah pembaruan KH Ahmad Dahlan perlu dipahami.

Beliau mendirikan sekolah dengan sistem klasikal. Beliau merintis penerbitan dan Taman Pustaka. Beliau mendorong pendidikan perempuan melalui ‘Aisyiyah. Beliau mengembangkan pengajian di ruang publik. Beliau mengorganisasi zakat dan berbagai kegiatan sosial.

Semua itu menunjukkan bahwa pembaruan Islam yang dibayangkan KH Ahmad Dahlan bukan sekadar pembaruan dalam bentuk wacana.

Pembaruan membutuhkan institusi.

Gagasan yang baik membutuhkan sekolah.

Kepedulian sosial membutuhkan organisasi.

Pengetahuan membutuhkan penerbitan.

Pemberdayaan perempuan membutuhkan lembaga.

Pengamalan agama membutuhkan sistem yang membuat amal dapat berjalan secara berkelanjutan.

Di sinilah Muhammadiyah menjadi salah satu warisan terpenting KH Ahmad Dahlan.

Kehadiran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi gerakan membuat gagasan-gagasan Islam berkemajuan yang beliau rintis dapat terus bekerja bahkan setelah beliau wafat.

Islam tidak hanya menjadi gagasan, tetapi dilembagakan menjadi amal.

Islam yang Menghubungkan Iman, Ilmu, dan Amal

Jika perjalanan KH Ahmad Dahlan dibaca secara utuh, kita akan melihat bahwa pusat perhatian beliau bukan semata-mata perdebatan mengenai persoalan-persoalan kecil dalam praktik keagamaan.

Yang jauh lebih besar adalah bagaimana Islam menjadi kekuatan yang membebaskan dan memajukan kehidupan manusia.

Beliau ingin umat Islam beragama sekaligus berilmu.

Beriman sekaligus beramal.

Taat kepada ajaran agama sekaligus mampu menghadapi perubahan zaman.

Memiliki keyakinan yang kokoh sekaligus terbuka terhadap ilmu pengetahuan.

Saleh secara pribadi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Inilah yang membuat pemikiran KH Ahmad Dahlan tetap relevan untuk dibicarakan sampai hari ini.

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, umat tidak cukup hanya memiliki pengetahuan agama. Pengetahuan itu perlu diubah menjadi tindakan.

Di tengah berbagai persoalan sosial, kesalehan tidak cukup hanya diukur dari hubungan manusia dengan Tuhan. Kesalehan juga perlu terlihat dari bagaimana seseorang memperlakukan sesama manusia.

Dan di tengah perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, umat tidak perlu takut terhadap perubahan. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk menyaring, memahami, dan menggunakannya untuk kemaslahatan.

Barangkali, di situlah kita dapat menemukan kembali makna Islam ala KH Ahmad Dahlan.

Islam yang berpijak pada Al-Qur’an.

Islam yang terbuka terhadap ilmu.

Islam yang berani menghadapi perubahan.

Dan yang paling penting, Islam yang tidak berhenti pada kata-kata, tetapi bergerak menjadi amal nyata.

Referensi

Haedar Nashir, “Memahami Pemikiran dan Langkah KH Ahmad Dahlan”, Suara Muhammadiyah, No. 5 Tahun 2014, hlm. 12–13.

Sumber terkait: https://muhammadiyah.or.id/2026/09/islam-ala-kh-ahmad-dahlan/


Bagikan

Leave a Reply