
Sejarah Tapak Suci & Perjuangan Muhammad Barie Irsyad Melawan Arus Klenik
Berbicara tentang seni bela diri asli Indonesia yang sarat nilai keislaman, nama Tapak Suci Putera Muhammadiyah pasti langsung terlintas di kepala. Namun, di balik besar dan mendunianya perguruan ini, ada sosok sentral bermental baja yang menjadi fondasi utamanya: Muhammad Barie Irsyad.
Lahir di Kampung Kauman, Yogyakarta, pada 3 Agustus 1934, perjalanan hidup Barie Irsyad bukan sekadar kisah seorang pendekar silat biasa. Ia adalah seorang pembawa pembaruan yang mengubah wajah pencak silat dari aroma klenik menjadi ilmu bela diri yang rasional, ilmiah, dan berlandaskan tauhid.
Berakar dari Kampung Santri Kauman
Kampung Kauman pada era 1930-an dikenal luas sebagai basis santri sekaligus tempat lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah. Di lingkungan yang kental dengan nilai-nilai keislaman inilah Barie kecil tumbuh besar. Pondasi akidah yang kokoh dari keluarganya membentuk kepribadian Barie menjadi sosok yang rasional, dinamis, dan bernyali besar dalam membela kebenaran.
Mengikuti tradisi yang mengakar di Kauman kala ituโyang juga terkenal sebagai gudangnya pesilatโBarie mulai mendalami pencak silat di Perguruan Cikauman dan tercatat sebagai murid generasi keenam.
Memasuki masa pasca-perang kemerdekaan, gejolak politik yang tidak stabil membuat tradisi silat di Kauman sempat melemah. Banyak pendekar sepuh yang gugur, menyisakan tantangan besar bagi generasi muda untuk menjaga kelangsungan warisan leluhur tersebut.
Memurnikan Pencak Silat dari Praktik TBC (Tahayul, Bidโah, dan Churafat)
Di masa mudanya, Barie dihadapkan pada kenyataan pahit: dunia pencak silat saat itu masih sangat lekat dengan praktik-praktik mistis, ilmu hitam, dan ritual klenik. Sebagai seorang kader Muhammadiyah yang memegang teguh akidah murni, Barie menolak keras hal tersebut.
Bagi Barie, pencak silat adalah ilmu gerak yang rasional. Tekniknya harus bisa diuji secara objektif dan dikembangkan lewat metode ilmiah, bukan mengandalkan kekuatan gaib yang menyimpang. Pemikiran inilah yang kemudian melahirkan konsep pencak yang metodis dan dinamis.
Puncaknya pada tahun 1957, di usia yang baru menginjak 23 tahun dan setelah mengantongi restu (bendera hijau) dari guru-gurunya, Barie melakukan tiga langkah berani:
- Mendirikan paguron pencak Kasegu (Kauman Serba Guna).
- Menciptakan senjata khas bernama SEGU yang bentuknya merefleksikan lafal Mim Ha Mim Dal (Muhammad).
- Berani pasang badan menantang arus praktik TBC (Tahayul, Bid’ah, dan Churafat) yang marak di kalangan pendekar saat itu.
Ketika jalur persuasif bersama para ulama untuk menasihati dukun dan pendekar aliran klenik menemui jalan buntu, jalan “adu kaweruh” (uji ilmu secara terbuka) pun ditempuh. Berbekal teknik fisik yang rasional dan akidah yang lurus, Barie berhasil membuktikan keunggulannya. Sejak saat itu, perlahan tapi pasti, Kampung Kauman bersih dari praktik-praktik sesat dan mendeklarasikan diri sebagai kawasan bebas TBC.
Lahirnya Tapak Suci (1963): “Dengan Iman dan Akhlak Saya Menjadi Kuat”
Bagi Barie Irsyad, mahir bela diri saja tidak cukup. Tujuan utama seorang muslim mempelajari bela diri bukanlah untuk menyombongkan kesaktian, melainkan mencari keselamatan dunia dan akhirat.
Dari pemikiran inilah tercetus kurikulum pendidikan Tapak Suci yang memadukan pendidikan ragawi dan pendidikan ruhani. Agama diposisikan sebagai fondasi utama seorang pendekar. Dari sinilah lahir moto legendaris yang hingga kini dipegang teguh oleh setiap kader:
“Dengan Iman dan Akhlak Saya Menjadi Kuat, Tanpa Iman dan Akhlak Saya Menjadi Lemah.”
Gagasan besar ini kemudian menyatukan tiga paguron silat bersejarah di Kauman: Cikauman (1925), Seranoman (1930-an), dan Kasegu (1957). Melalui musyawarah panjang dan uji keilmuan, disepakatilah berdirinya Perguruan Tapak Suci pada 31 Juli 1963.
Garda Terdepan Menghadapi Ancaman Komunis
Perjuangan Barie Irsyad tidak berhenti di ruang latihan. Menjelang pertengahan dekade 1960-an, Indonesia dihadapkan pada situasi politik yang sangat mencekam akibat rongrongan kelompok komunis (PKI).
Di bawah kepemimpinan Barie Irsyad, Tapak Suci langsung bergerak mengadvokasi umat dan menjadi garda terdepan dalam menghadapi ancaman PKI, terutama di wilayah Yogyakarta menjelang dan pasca peristiwa berdarah G30S/PKI 1965. Keberanian para kader Tapak Suci diuji secara nyata di lapangan dalam mempertahankan keamanan masyarakat hingga pembubaran resmi PKI pada tahun 1966.
Transformasi Menjadi Ortom Muhammadiyah dan Mendunia
Di tengah situasi perjuangan yang pelik, popularitas Tapak Suci melejit pesat. Permintaan untuk membuka cabang di berbagai daerah berdatangan sejak tahun 1964. Pimpinan Pusat Muhammadiyah di bawah kepemimpinan KH. Ahmad Badawi akhirnya merestui Tapak Suci resmi menjadi Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah.
Pada tahun 1966, diselenggarakanlah Konferensi Nasional I Tapak Suci yang menunjuk H. Djarnawi Hadikusumo sebagai Ketua Umum pertama, sementara Barie Irsyad fokus mengawal kemurnian teknik, kurikulum, dan pengkaderan. Melalui Tanwir Muhammadiyah 1967, Tapak Suci dikukuhkan sebagai Ortom Muhammadiyah ke-11.
Dari sebuah perguruan lokal di sudut Kampung Kauman, kini Tapak Suci telah bertransformasi menjadi organisasi raksasa yang menasional di 34 Pimpinan Wilayah, bahkan melebarkan sayap hingga ke 24 negara di penjuru dunia.
Warisan Abadi Sang Pendekar Sejati
Muhammad Barie Irsyad mendedikasikan seluruh napas hidupnya untuk membesarkan Tapak Suci dan melayani umat melalui jalur dakwah. Pada tahun 2003, sang pendekar sejati berpulang ke rahmatullah di Yogyakarta dalam usia 68 tahun.
Meski raganya telah tiada, api semangat yang ia nyalakan terus menyala terang. Warisan pemikirannya membuktikan bahwa seni bela diri bukan sekadar sarana adu fisik, melainkan jalan dakwah yang rasional untuk membentuk karakter berlandaskan tauhid, demi mewujudkan peradaban Islam yang rahmatan lil โalamin.
Sumber : muhammadiyah.or.id
