
MKS PDA Kulonprogo Gelar ToT Ketahanan Keluarga dan Psikososial untuk Perkuat Relawan GACA
Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kulonprogo melalui Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) menggelar Training of Trainers (ToT) ketahanan keluarga dan psikososial pada bulan Mei 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kulonprogo dan diikuti oleh perwakilan MKS PRA se-Kulonprogo sebagai upaya peningkatan kapasitas relawan GACA (Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak).
Dalam sambutannya sebagai tuan rumah, Ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Pengasih, Mahsindah, berharap hasil pelatihan dapat diimbaskan hingga tingkat cabang dan ranting agar semakin banyak kader memperoleh pengetahuan dan keterampilan pendampingan keluarga serta anak.
“Setiap pertemuan hendaknya dilanjutkan dengan pengimbasan ke cabang-cabang sehingga sampai tingkat ranting bisa mendapatkan informasi,” ujarnya.
Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kulonprogo, Rismiyati, S.Sos., juga menegaskan pentingnya peserta ToT untuk menyampaikan kembali materi yang diterima kepada ranting-ranting hingga organisasi otonom seperti Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA), sehingga semakin banyak kader ‘Aisyiyah yang bergerak dalam pendampingan sosial dan keluarga.
Acara pembukaan turut dihadiri Ketua MKS Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah DIY, Wuri Astuti. Ia memberikan apresiasi terhadap semangat peserta sekaligus menegaskan amanah dari MKS Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah agar Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak terus dihidupkan melalui relawan-relawan yang semakin terampil dalam melakukan pendampingan.
Menurutnya, banyak kasus kekerasan terhadap anak yang membutuhkan perhatian serius dan pendampingan berkelanjutan. Selain itu, ia mengingatkan bahwa MKS memiliki fokus pada lima afirmasi gender, yaitu anak, dhuafa, lansia, disabilitas, dan perempuan terpinggirkan.
Wuri juga menyampaikan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki angka usia harapan hidup tertinggi di Indonesia sehingga ‘Aisyiyah perlu memfasilitasi kegiatan lansia secara lebih terorganisir dan legal.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan dua materi utama. Materi pertama bertajuk Membangun Ketahanan Keluarga melalui Komunikasi Efektif, Manajemen Konflik, serta Hubungan Setara dan Adil Gender yang disampaikan oleh Handayani.
Handayani menjelaskan pentingnya membangun komunikasi yang baik di dalam keluarga sebagai fondasi ketahanan keluarga. Menurutnya, komunikasi yang efektif akan membantu anggota keluarga mengelola konflik dengan lebih sehat sehingga tercipta hubungan yang harmonis.
Sementara materi kedua mengenai Psikososial: Optimalisasi Peran GACA dalam Kekerasan dan Karakteristik Korban Kekerasan disampaikan oleh Umi Hidayati. Dalam paparannya, Umi mengingatkan berbagai bentuk kekerasan yang kini marak terjadi, termasuk kekerasan berbasis online.
Ia juga menekankan prinsip-prinsip penting dalam pelayanan psikososial, di antaranya tidak diskriminatif, menjunjung empati, adil gender, menjaga kerahasiaan korban, serta memastikan keputusan tetap berada di tangan klien, bukan pendamping atau konselor.
Peserta tampak antusias mengikuti sesi pelatihan. Pada sesi tanya jawab, banyak peserta menyampaikan pertanyaan dan pengalaman mereka terkait pendampingan keluarga maupun kasus kekerasan terhadap anak.
Dalam closing statement, Handayani menyampaikan bahwa keluarga yang memiliki ketahanan kuat akan membantu anggota keluarga tumbuh dan berkembang dengan baik, serta menciptakan komunikasi yang sehat antaranggota keluarga.
Sedangkan Umi Hidayati menegaskan bahwa pendampingan terhadap korban kekerasan harus dilakukan tanpa diskriminasi, menjaga kerahasiaan korban, dan semata-mata demi kepentingan korban, bukan untuk kepentingan pribadi pendamping. (umih)
