
Pemantapan lima pilot proyek DCLA DIY menjadi agenda PAD MKS
Kulon Progo — Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kulon Progo menjadi tuan rumah Pertemuan Antar Daerah (PAD) MKS se-DI Yogyakarta yang diselenggarakan pada Sabtu, 6 Juni 2026, bertempat di Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kulon Progo.
Pertemuan ini dihadiri oleh pengurus MKS dari lima PDA di DIY. Selain itu, masing-masing daerah menghadirkan satu Dementia Care Lansia ‘Aisyiyah (DCLA) yang diproyeksikan sebagai pilot project dan akan mendapatkan pendampingan langsung dari tim MKS Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) DIY.
Lima DCLA yang mengikuti program pilot project tersebut adalah Taman Lansia Sahaja ‘Aisyiyah (TLSA) PRA Basen Kotagede dari Kota Yogyakarta, Sekolah Lansia Pro Simbah PCA Sedayu dari Bantul, DCLA PRA Giripeni 2 dari Kulon Progo, DCLA Perumnas Condongcatur dari Sleman, serta Taman Lansia Setaman Istiqomah PRA Logandeng dari Gunungkidul.
Ketua PDA Kulon Progo, Kardiniati, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada PDA Kulon Progo sebagai penyelenggara kegiatan PAD kali ini. Ia juga mengaku bangga karena pertemuan tersebut tidak hanya dihadiri oleh unsur daerah, tetapi juga melibatkan cabang dan ranting sebagai representasi dari masing-masing wilayah.
“Kami berharap kegiatan PAD ini dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan program-program kesejahteraan sosial di Kulon Progo dan semakin mendorong gerakan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Kardiniati.
Pada kesempatan tersebut, Kardiniati yang juga memberikan kultum menegaskan bahwa ‘Aisyiyah senantiasa hadir untuk menebarkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Karena itu, setiap program yang dijalankan harus mampu memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar.
Sementara itu, Ketua MKS PWA DIY, Wuri Astuti, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang terus berupaya mengembangkan dan memperkuat kelembagaan DCLA di wilayah masing-masing. Ia kembali mengingatkan pentingnya legalitas kelembagaan sebagai fondasi pengembangan program.
Wuri berharap proses legalitas DCLA hingga tingkat Pimpinan Pusat dapat terselesaikan pada tahun 2026, termasuk terbitnya Surat Keputusan Amal Usaha ‘Aisyiyah (AUA) bidang Kesejahteraan Sosial.
“Di ‘Aisyiyah kita saling belajar, saling mengingatkan, dan saling memotivasi. Termasuk dalam hal legalitas ini, mari kita kerjakan bersama-sama. Di ‘Aisyiyah tidak ada rebutan jabatan, tetapi ketika diberi amanah hendaknya diterima dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya,” tutur Wuri Astuti.
Dalam kesempatan tersebut, Wuri juga mengingatkan agenda Bootcamp MKS yang akan diselenggarakan pada 25–26 Juli 2026 di Kaliurang.
Agenda berikutnya adalah penyampaian laporan perkembangan program dari masing-masing daerah selama tiga bulan terakhir sejak PAD sebelumnya yang berlangsung di Bantul.
MKS PDA Kulon Progo melaporkan berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan maupun diikuti selama periode tersebut. MKS PDA Bantul menyampaikan perkembangan Griya Lansia (GL) Halimah yang terus berjalan serta rencana penyelenggaraan Jambore Lansia pada akhir tahun 2026.
MKS PDA Gunungkidul melaporkan bahwa pertemuan MKS cabang se-kabupaten tetap berlangsung secara rutin serta adanya kerja sama dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dalam pengelolaan syariah.
Sementara itu, MKS PDA Sleman menyampaikan pelaksanaan Workshop Kesejahteraan Lansia yang bekerja sama dengan MPKS. Kegiatan tersebut melibatkan unsur MKS, MPKS daerah, cabang, serta pengurus griya lansia. Sleman juga melaporkan bahwa banyak DCLA telah berdiri, namun sebagian masih dalam proses pengurusan legalitas organisasi.
Laporan terakhir disampaikan oleh MKS PDA Kota Yogyakarta. Pertemuan antar-cabang di tingkat kota dilaksanakan setiap selapan sekali secara bergilir. Dalam waktu dekat, MKS PDA Kota Yogyakarta juga akan menggelar Festival Anak Asuh serta Gathering Relawan Gerakan Cinta Anak (GACA). Selain itu, dilaporkan pula bahwa MKS PDA Kota Yogyakarta telah mendirikan Sekolah Lansia Farahhayya yang telah memiliki SK pendirian dari PWA DIY dan SK kepengurusan dari MKS PWA DIY.
Sesi berikutnya diisi dengan pemaparan kondisi dan perkembangan masing-masing DCLA pilot project. Setiap DCLA menunjukkan kekhasan program yang berbeda-beda sehingga memperkaya model pelayanan lansia yang dikembangkan di lingkungan ‘Aisyiyah.
Dari lima pilot project yang mengikuti pendampingan, TLSA Basen Kotagede menjadi satu-satunya yang telah memiliki Surat Keputusan (SK) Pendirian dan SK Pengurus. Sementara empat DCLA lainnya masih dalam proses pengurusan legalitas.
Beragam kegiatan dikembangkan oleh masing-masing DCLA, mulai dari sekolah lansia, posyandu lansia, pengajian dan pembinaan keagamaan, hingga kegiatan rekreasi, senam sederhana, dan permainan edukatif bagi para lansia.
Menjelang akhir pertemuan, Divisi Kelembagaan dan Amal Usaha MKS PWA DIY memberikan motivasi sekaligus arahan terkait pentingnya menyiapkan seluruh dokumen legalitas kelembagaan.
“Kami berharap seluruh DCLA terus bergerak dan mempersiapkan berbagai kebutuhan administrasi serta legalitas, mulai dari tingkat bawah hingga nantinya memperoleh SK AUA Kesejahteraan Sosial dari Pimpinan Pusat,” ujar Aidha, perwakilan Divisi Kelembagaan dan Amal Usaha MKS PWA DIY.
Melalui pertemuan ini, MKS se-DIY semakin memperkuat sinergi dalam pengembangan layanan kesejahteraan sosial berbasis komunitas, khususnya pendampingan dan pemberdayaan lansia melalui program DCLA yang berkelanjutan.
