
PCA ‘Aisyiyah Kotagede dan UNISA Edukasi Kesehatan Reproduksi bagi 312 Siswa SMP Muhammadiyah 7
Kotagede – Sebanyak 312 siswa kelas 7 dan 8 SMP Muhammadiyah 7 Kotagede mengikuti edukasi kesehatan reproduksi remaja yang diselenggarakan Majelis Kesehatan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kotagede bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (Unisa).
Kegiatan berlangsung di Masjid Multifungsi SMP Muhammadiyah 7 Kotagede, Rabu (16/9/2026), setelah salat Zuhur berjamaah dan waktu istirahat siswa.
Edukasi tersebut menghadirkan tim dari Fakultas Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta yang dikoordinatori Galang Setyo Pambudi. Kegiatan juga mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah. Sejumlah guru turut mengikuti kegiatan dan berbaur bersama para siswa.
Dari PCA ‘Aisyiyah Kotagede, kegiatan dihadiri Majelis Kesehatan serta perwakilan Pimpinan Harian PCA Kotagede.
Mengajak Siswa Memahami Tubuh dan Dirinya
Sebelum masuk pada materi utama, Galang mengawali kegiatan dengan sejumlah pertanyaan sederhana kepada para siswa mengenai alat reproduksi dan fungsinya.
Beberapa siswa mampu menjawab pertanyaan dengan benar. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian siswa telah memiliki pengetahuan dasar mengenai fungsi alat reproduksi.
Pertanyaan kemudian diarahkan pada hal yang lebih luas, yakni bagaimana memahami kondisi seseorang yang sehat secara reproduksi.
“Menurut kalian, orang yang sehat reproduksinya itu seperti apa?” menjadi salah satu pertanyaan pembuka yang mengajak siswa untuk berpikir bahwa kesehatan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik.
Dalam materi yang disampaikan, dijelaskan bahwa kesehatan reproduksi mencakup kesehatan tubuh, mental, dan sosial. Kesehatan reproduksi juga bukan hanya menjadi persoalan bagi orang yang telah menikah, tetapi merupakan bagian dari kehidupan manusia sepanjang rentang kehidupan.
Kesehatan reproduksi juga memiliki dimensi hak. Karena itu, pemahamannya tidak dapat diberikan secara sepotong-sepotong, tetapi perlu dilihat secara utuh atau holistik.
Galang menjelaskan, terdapat sejumlah dimensi yang perlu dipahami dalam kesehatan reproduksi, antara lain dimensi biologis, psikologis, interpersonal, sosial, dan budaya.
Bagi remaja, pemahaman tersebut menjadi penting karena masa remaja merupakan fase terjadinya berbagai perubahan dalam tubuh, emosi, hubungan sosial, dan cara seseorang mengenali dirinya.
Pendidikan Reproduksi sebagai Perlindungan Diri
Dalam kegiatan tersebut, siswa juga mendapatkan pemahaman mengenai risiko kekerasan seksual dan pentingnya mengenali batas diri.
Kekerasan seksual dapat menimbulkan berbagai dampak, mulai dari trauma psikologis, kecemasan, depresi, risiko infeksi menular seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, hingga kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal.
Karena itu, pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja tidak hanya berbicara tentang aspek biologis, tetapi juga bagaimana mereka dapat melindungi diri.
Remaja perlu mengenali perilaku yang tidak aman, memahami batas tubuh, mengenali adanya paksaan, serta mengetahui bahwa korban kekerasan tidak dapat disalahkan atas kekerasan yang dialaminya.
Selain itu, remaja juga perlu mengetahui kepada siapa mereka dapat meminta bantuan ketika menghadapi persoalan.
“Kalau terjadi kekerasan, jangan dihadapi sendiri. Carilah bantuan kepada orang yang bisa membantu dan pilih solusi yang terbaik,” pesan Danang dalam kegiatan tersebut.
Ia juga mengingatkan para siswa untuk mampu menjaga batas diri dalam pergaulan, termasuk ketika mulai memiliki ketertarikan kepada teman.
Menurutnya, kemampuan mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang tidak nyaman merupakan bagian penting dari upaya menjaga diri.
Belajar Mengenali Diri di Tengah Perubahan Zaman
Materi juga menyentuh persoalan pergaulan remaja di tengah perkembangan media sosial dan derasnya arus informasi.
Para siswa diajak untuk tidak begitu saja mengikuti informasi, tren, maupun tekanan dari lingkungan sekitar. Kemampuan mengenali diri dan mengambil keputusan secara sadar menjadi bagian penting dalam menghadapi masa remaja.
Pesan tersebut kemudian dirangkum dalam beberapa kalimat yang disampaikan kepada para siswa.
“Masa remaja bukan waktunya menyerahkan kendali atas diri kita kepada tren, algoritma, teman, atau dorongan sesaat. Masa remaja adalah masa membangun siapa diri kita.”
Para siswa juga diingatkan bahwa mereka tidak harus mengikuti semua yang dilihat di media sosial maupun menerima semua perkataan teman.
“Kamu berhak berhenti, berpikir, memilih, dan meminta bantuan.”
Pendidikan kesehatan reproduksi, lanjut tim pemateri, bukan dimaksudkan untuk membuat remaja takut menghadapi dunia. Sebaliknya, pendidikan diberikan agar remaja memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menghadapi berbagai situasi dengan tetap memiliki arah dan tanggung jawab terhadap dirinya.
Dalam pembahasan mengenai seksualitas dan kehidupan keluarga, sekolah juga menyampaikan nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam pendidikan siswa sesuai dengan lingkungan pendidikan Muhammadiyah.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab. Para siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan sekaligus mengikuti pembagian doorprize.
Melalui kegiatan tersebut, PCA ‘Aisyiyah Kotagede bersama Fakultas Psikologi Unisa berupaya memberikan ruang bagi remaja untuk mendapatkan informasi yang tepat mengenai kesehatan reproduksi, mengenali dirinya, menjaga batas diri, serta berani mencari bantuan ketika menghadapi persoalan.
Bagi remaja, mengenal diri bukan hanya tentang memahami perubahan yang terjadi pada tubuh. Lebih dari itu, mereka juga belajar mengambil keputusan, menjaga diri, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang dibuat. (umih)
